GANTI MENTERI GANTI KURIKULUM?

Heru B Setyawan

Oleh : Heru B Setyawan (Pemerhati & Aktivis Pendidikan)

KITA sering mendengar selama ini, bahwa jika ganti menteri, maka ganti juga kurikulumnya. Pendapat ini bisa benar tapi juga bisa salah, karena tiap ganti menteri, ada juga yang tidak ganti kurikulum.

Ini buktinya, pada jaman Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim mengumumkan tentang 4 opsi kurikulum yang ditawarkan untuk semua jenjang pendidikan, mulai dari PAUD sampai dengan SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA.

BACA JUGA :  Waspadai! Ini 7 Tanda Diabetes pada Pria yang Kerap Dianggap Sepele

Empat kurikulum tersebut adalah, pertama kurikulum 2013, kedua kurikulum darurat atau kurikulum kondisi khusus yang merupakan penyederhanaan dari kurikulum 2013. Yang ketiga Kurikulum Merdeka, dan yang keempat adalah kurikulum penyesuaian yang dilakukan secara mandiri oleh setiap sekolah. Jadi kurikulum yang keempat ini, mas Nadiem memberikan opsi untuk melakukan penyederhanaan secara mandiri dari 3 kurikulum yang ada.

Sekarang pada jaman menteri yang baru yaitu Prof. Abdul Mu’ti sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) juga kelihatannya kurikulum tidak diganti, tapi hanya dievaluasi, dikaji dan disempurnakan yang sudah ada.

BACA JUGA :  Pemkab Bogor Normalisasi Irigasi Demi Selamatkan 800 Hektare Sawah

Hal ini terlihat dari pernyataan beliau dan 5 kebijakan baru Mendikdasmen. Menurut beliau hal ini yang ditargetkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Dalam kepemimpinannya, Abdul Mu’ti berfokus pada partisipasi masyarakat dan kajian ilmiah dalam menyusun kebijakan yang lebih adaptif dan inklusif.

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================