
BOGORTODAY.COM – Yayasan Pembela Tanah Air (YAPETA) menyatakan dukungannya terhadap usulan resmi soal Ketetapan (TAP) MPR RI untuk memberikan gelar pahlawan kepada Presiden RI kedua, Soeharto, dan mantan Presiden RI keempat, Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
YAPETA sendiri merupakan wadah yang menaungi para mantan tentara Pembela Tanah Air (PETA) dan generasi penerusnya, yang terus memperjuangkan nilai-nilai kepahlawanan dan semangat nasionalisme.
Sebagai cikal bakal dari Tentara Nasional Indonesia (TNI), PETA berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dalam momen memperingati Hari Pahlawan ini, YAPETA ingin menyampaikan pentingnya menghormati jasa para pahlawan, baik yang telah dianugerahi gelar resmi maupun yang belum, seperti Soeharto dan Gus Dur.
Hal itu disampaikan Ketua YAPETA, Tinton Soeprapto usai mengunjungi Museum & Monumen PETA di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Bogor, pada Minggu (10/11/2024).
Tinton yang juga Owner Lorin Sentul Hotel mengungkapkan, bahwasanya ia berada di Museum PETA ini atas izin restu dari mantan Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet) yang telah membuat keputusan soal Ketetapan (TAP) MPR Nomor Xl/MPR/1998 soal eksplisit menyebut nama Presiden RI Soeharto.
“Saya berterimakasih kepada Pak Bamsoet yang sudah memecahkan telor TAP MPR yang mana TAP MPR itu dari Bungkarno, Soeharto dan Gusdur dicabut juga sudah bersih sampai Megawati dan Guntur juga hadir,” ujar Tinton kepada Bogortoday.com di Museum PETA.
“Tap MPR Pak Soeharto sudah diputihkan, berarti Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) berhenti dengan sendirinya, dihadiri Bu Tutut dan Titiek. Bukan kita mau cari muka, karena saya Ketua YAPETA yang menghormati jasa orangtua kawan saya terdahulu,” tambahnya.
Menurut Tinton, kedua tokoh ini telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia dan layak mendapatkan penghormatan sebagai pahlawan nasional.
Tinton menegaskan bahwa peringatan Hari Pahlawan kali ini merupakan momen yang sangat tepat untuk merenungkan kembali jasa-jasa para pahlawan dan tokoh bangsa yang telah berkontribusi besar terhadap kemerdekaan serta pembangunan Indonesia.
Tinton menjelaskan bahwa selama masa kepemimpinan Soeharto, banyak pembangunan strategis yang telah dilakukan yang berdampak langsung pada kemajuan bangsa.
“Soeharto dikenal sebagai Bapak Pembangunan. Kontribusinya sangat besar, tidak hanya diakui di dalam negeri, tetapi juga oleh bangsa asing. Kita harus melihat ke depan, melupakan masa lalu yang penuh pelajaran, dan menghargai apa yang telah beliau lakukan untuk negara ini,” jelas Tinton.
Meskipun masa kepemimpinan Soeharto tidak lepas dari kontroversi, namun kontribusinya terhadap pembangunan Indonesia tidak bisa diabaikan. Selain Soeharto, Tinton juga mendukung usulan pemberian gelar pahlawan kepada Gus Dur, yang dikenal sebagai tokoh pluralisme dan perdamaian.
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















