Generasi Merdeka di Persimpangan, Menjaga Cinta Tanah Air di Tengah Arus Platform Digital

Cinta Tanah Air
Agus Jatmika (Praktisi Pendidikan di Bogor)

Oleh : Agus Jatmika (Praktisi Pendidikan di Bogor)

DELAPAN puluh tahun merdeka adalah usia yang cukup untuk bertanya bukan lagi siapa kita, melainkan bagaimana kita hidup bersama sebagai bangsa di tengah dunia yang berubah cepat.

Bagi generasi muda, cinta tanah air tidak selalu muncul dalam bentuk simbolik seperti bendera di beranda atau yel-yel di upacara tetapi harus tampak sebagai kepedulian terhadap sesama, tanggung jawab atas ruang hidup, dan keberanian menyuarakan kebenaran.

Di sinilah pendidikan berperan sebagai mesin pembentuk habitus sosial yang ditantang untuk tidak sekedar mengulang narasi kebangsaan, tetapi menubuhkannya ke dalam praktik keseharian anak muda yang  tumbuh dalam ekologi algoritma.

Disisi lain tak jarang kita kerap puas pada ekspresi seremonial nasionalisme, padahal secara sosiologis bentuk-bentuk upacara itu hanya salah satu kanal pembentukan solidaritas.

Durkheim,  sosiolog, mengingatkan bahwa ritus bersama memperkuat moral kolektif, disisi lain di era platform, ritus bisa saja menjadi konten yang diproduksi demi impresi, bukan internalisasi. Anak-anak belajar membaca situasi bahwa bila nasionalisme hanya hadir menjelang Agustus, maka dipahami sebagai musim, bukan nilai.

Sehingga yang lebih berbahaya  ketika sekolah tanpa sadar menularkan kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) bahwa nilai dapat dinegosiasikan demi penilaian administratif.

Oleh karena itu ketika siswa melihat ketidakkonsistenan antara kata dan perilaku orang dewasa, misalnya integritas yang diwacanakan tetapi tidak dicontohkan maka mereka akan menyerap pesan bahwa kebajikan adalah retorika, bukan kebiasaan.

BACA JUGA :  Hari Lahir Pancasila, Ketua DPRD Bogor Ajak Warga Jaga Persatuan

Bila kita tarik ke belakang, kurikulum Merdeka memberi ruang proyek penguatan profil pelajar Pancasila, dan di atas kertas ini selaras dengan gagasan Freire tentang pedagogi kritis yakni belajar sebagai dialog yang menumbuhkan kesadaran dan tindakan.

Masalahnya, kesenjangan sumber daya dan kompetensi guru membuat banyak proyek berhenti pada dokumentasi, bukan transformasi. Di sekolah yang fasilitasnya minim atau beban administrasinya menumpuk, proyek kerap direduksi menjadi portofolio foto sehingga tak jarang mempunyai dampak sosial yang tak mendalam.

Pada bagian ini teori reproduksi sosial Bowles dan Gintis sangat terasa yakni alih-alih mentransformasi, sekolah seperti mereproduksi ketimpangan seperti anak yang sudah punya modal budaya  digital dari keluarganya akan lebih bersinar dalam proyek, sementara yang lain tertinggal.

Bourdieu akan menyebutnya sebagai ketimpangan kapital ekonomi, budaya, sosial, dan kini digital yang terselip di balik jargon merdeka belajar.

Sementara itu di luar pagar sekolah, generasi muda hidup dalam hegemoni baru, sebuah hegemoni algoritma.

Dalam hal ini Gramsci berbicara tentang bagaimana persetujuan dibentuk lewat dominasi wacana bahwa hari ini, wacana itu disusun oleh sistem rekomendasi yang memonetisasi perhatian. Nasionalisme yang tidak dikontekstualkan mudah kalah oleh arus hiburan tanpa henti.

BACA JUGA :  Dorong Transaksi Non-Tunai di Pasar Kebon Kembang, Perumda PPJ dan BSI Resmikan Sales Outlet Lapak

Alih-alih mengutuk game dan media sosial, kebijakan pendidikan harus mengubah arena dengan mendesain literasi digital yang bukan hanya etika memakai gawai, tetapi literasi algoritma dengan kemampuan membaca motif ekonomi di balik platform, memetakan jejak data, dan memahami bias rekomendasi.

Sehingga ketika siswa memahami mengapa konten tertentu terus muncul, mereka lebih otonom mengelola atensi dan bisa memilih konten kebangsaan yang bermakna, bukan sekedar mengikuti arus.

Bangsa adalah komunitas terbayang, kata Benedict Anderson. Anak muda kita kini membayangkan komunitas melalui fandom, game, dan jejaring global. Hal ini bukanlah ancaman tetapi mesti dilihat sebagai peluang.

Oleh karena itu tugas sekolah  menjembatani komunitas terbayang global dengan realitas lokal. Murid yang menjadi penggemar sebuah game strategi, bisa diajak membuat model tata kelola organisasi, mereka yang aktif di komunitas fotografi dapat mendokumentasikan arsip budaya daerah, sedangkan yang gemar coding bisa membangun aplikasi pelaporan sampah lingkungan.

Sehingga ketika identitas globalnya terangkai dengan kontribusi lokal, cinta tanah air tidak terasa sempit atau anti-dunia.

Sementara itu saat ini peran pemerintah sudah berjalan seperti dari asesmen nasional hingga dukungan proyek kokurikuler, tetapi masih ada koreksi arah di tiga hal.

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================