Gerakan Rereongan Sapoe Sarebu: Renaisans Solidaritas dari Tanah Sunda

Agus Jatmika (Pengamat Sosial Budaya)

Oleh : Agus Jatmika (Pengamat Sosial Budaya)

KETIKA dunia modern kian mengagungkan efisiensi dan kompetisi, dari Jawa Barat justru menghadirkan sesuatu yang berbeda yakni Gerakan Rereongan Sapoe Sarebu.

Sebuah inisiatif Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM)  yang  menyeru warganya untuk menyisihkan seribu rupiah sehari sebagai bentuk rereongan atau gotong royong khas Sunda.

Seolah tampak sederhana, namun sesungguhnya mengandung pesan sosial yang sangat dalam yakni membangkitkan kembali ruh solidaritas di tengah arus individualisme yang semakin deras.

Gerakan ini lahir dari kesadaran bahwa pembangunan tidak cukup dengan infrastruktur fisik, tetapi juga butuh infrastruktur sosial seperti rasa saling memiliki, kepedulian, dan tanggung jawab bersama.

BACA JUGA :  PWI Kabupaten Bogor Sembelih 1 Sapi dan 9 Kambing, Tebar Semangat Berbagi di Iduladha 1447 H

Rereongan Sapoe Sarebu hadir sebagai simbol kebangkitan nilai kemanusiaan yang pernah menjadi pondasi kehidupan masyarakat Sunda yaitu silih asah, silih asih, silih asuh.

 Makna Sosial di Balik Rereongan

Pada hakeketnya rereongan lebih dari sekadar donasi kecil, tetapi  sebuah refleksi dari kesadaran sosial yang mendalam.

Di lembaga pendidikans misalnya siswa dapat belajar bahwa kebaikan dimulai dari kebiasaan kecil. Sedangkan di masyarakat, rereongan menjadi praktik nyata dari nilai empati yang tak lekang oleh waktu.

Dalam perpelstif  sosiologis, gerakan ini menghidupkan kembali konsep kesadaran kolektif yang dikemukakan oleh sosiolog Durkheim, bahwa masyarakat hanya akan kokoh jika warganya merasa saling terikat oleh nilai bersama.

BACA JUGA :  Hilang Kendali, Truk Boks Hantam Tiang dan Motor di Bogor

Dalam rereongan, seribu rupiah bukan angka, tetapi simbol kohesi sosial yang memperkuat jaringan kepercayaan di antara warga. Di tengah budaya instan dan kompetitif, gerakan ini mengingatkan bahwa kekuatan terbesar masyarakat terletak pada rasa saling peduli.

Konteks Sosial dan Tantangan Zaman

Selain itu gerakan ini tidak muncul dalam ruang kosong. Pemerintah Propinsi Jawa Barat menghadapi realitas sosial yang kompleks antara lain urbanisasi pesat, kesenjangan ekonomi, dan menipisnya ruang sosial akibat tekanan gaya hidup konsumtif.

Dalam situasi ini, Rereongan Sapoe Sarebu menjadi bentuk perlawanan sosial yang halus melawan apatisme dan menghidupkan kembali gotong royong yang mulai memudar.

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================