Pendampingan AQUA Bantu Petani Subang Beralih ke Pupuk Organik

Program Pertanian Sehat AQUA Dorong Petani Kurangi Pupuk Anorganik. Foto: Ist

BOGORTODAY.COM – Produksi gabah kering di Kabupaten Subang, Jawa Barat, meningkat signifikan pada 2025, menandai penguatan ketahanan pangan nasional di tengah upaya pemerintah mencapai swasembada beras. Berdasarkan data, produksi gabah kering Subang mencapai 1 juta ton, naik dari 900 ribu ton pada tahun sebelumnya.

Kampung Cikaret yang berada di Desa Pasanggrahan, Kabupaten Subang, adalah salah satu daerah yang sebagian warganya bekerja mengelola area persawahan atau sebagai petani. Ketua Karang Taruna Kampung Cikaret, Sholeh, mengutarakan keberadaan pabrik AQUA di Subang ikut melakukan pendampingan terhadap kelompok tani mandiri. “Jadi, selain membantu ketersediaan air bersih, AQUA melalui program CSR-nya juga ikut mendampingi kelompok tani masyarakat yang tinggal di Kampung Cikaret ini,” ujarnya yang diamini Ketua RW Kampung Cikaret, Asde Majid.

BACA JUGA :  Kemnaker Catat 23.470 Pekerja Terkena PHK hingga Mei 2026, Lebih Rendah dari Tahun Lalu

Dia mengatakan sebagian air yang ditampung di bak penampungan air bersih yang dibangun AQUA di Kampung Cikaret ini juga bisa digunakan untuk mengairi sebanyak 4 hektar sawah warga. ”Jadi, airnya sebagian untuk mengairi sawah seluas 4 hektar,” tuturnya.

Adapun pendampingan yang dilakukan AQUA terhadap kelompok tani di Kampung Cikaret ini, menurut dia, terkait dengan penggunaan pupuk organik. ”Saya termasuk kelompoknya juga. Alhamdulillah, program pupuk organik dari AQUA ini setidaknya bisa mengurangi biaya pembelian pupuk anorganik seperti urea yang harganya lumayan mahal. Dulu sebelum ada pendampingan dari AQUA ini, saya memakai pupuk urea ini sebanyak tujuh kuintal. Tapi, sekarang hanya empat kuintal saja,” katanya.

BACA JUGA :  Harga Emas Antam Menguat, Naik Rp11.000 per Gram pada Perdagangan 5 Juni 2026

Dia menyampaikan saat ini warga tani di Kampung Cikaret ini sudah menggunakan 50 persen pupuk organik untuk persawahannya. “Jadi, memang masih semi organik dulu dan tidak boleh langsung 100 persen menggunakan pupuk organik supaya petani tidak terkejut. Karena, saat pertama kita menggunakan pupuk organik ini memang hasilnya turun. Baru kemudian setelah beberapa tahun kemudian produksinya naik lagi,” ucapnya.

Editor : Aditya Nugraha

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================