Larangan Bawa HP ke Sekolah, Mungkinkah?

Sekolah
Agus Jatmika (Praktisi Pendidkan)

Oleh : Agus Jatmika (Praktisi Pendidkan)

Keputusan pemerintah Prancis untuk melarang siswa SMA membawa ponsel ke sekolah menjadi sorotan global. Kebijakan tersebut tidak lahir dari sekedar kekhawatiran teknis mengenai disiplin siswa, tetapi dari hasil serangkaian kajian mengenai meningkatnya tekanan psikologis, gejala kesepian, serta gangguan konsentrasi yang dialami remaja.

Di banyak sekolah di Prancis, fenomena ruang kelas yang penuh siswa tetapi minim dialog antarindividu menjadi gambaran nyata perubahan pola interaksi generasi kini. Telepon genggam yang semula diposisikan sebagai sarana komunikasi berubah menjadi ruang perbandingan sosial yang melelahkan.

Dalam perspektif sosiologi pendidikan, larangan tersebut merupakan bentuk intervensi negara dalam mengembalikan fungsi sosial sekolah.

Sekolah bukan hanya tempat mengakumulasi pengetahuan, tetapi dimaknai sebagai arena tumbuhnya identitas sosial, kedekatan emosional, dan solidaritas antarindividu. Ketika interaksi sosial bergeser dari tatap muka menjadi sekedar menatap layar, kualitas relasi pun menjadi dangkal dan bersifat transaksional.

Karena itu, kebijakan di Prancis memunculkan pertanyaan lebih luas apakah negara-negara lain, termasuk Indonesia, mampu memposisikan sekolah kembali sebagai ruang hidup yang penuh dinamika sosial? Pertanyaan “mungkinkah?” bukan berhenti pada teknis pelarangan, tetapi menyentuh kesiapan sistem pendidikan untuk kembali pada tujuan sosialnya yakni menempa relasi manusia yang sehat dan bermakna.

BACA JUGA :  Rudy Susmanto Tegaskan Skywalk Tegar Beriman Simbol Kolaborasi dan Infrastruktur Inklusif

Terhubung Secara Digital, Terpisah Secara Emosional

Fenomena yang terjadi di Prancis memiliki cerminan kuat di Indonesia. Dalam beberapa laporan pendidikan, siswa SMA menjadi kelompok dengan penggunaan gawai paling tinggi di luar jam tidur. Aplikasi media sosial, platform video pendek, dan game daring menjadi ruang utama mereka bersosialisasi.

Disisi lain pada saat yang sama, ruang sekolah tidak berlangsung sebagai tempat interaksi yang hidup. Banyak guru menggambarkan situasi ketika jam istirahat tidak lagi diwarnai obrolan, candaan, atau aktivitas bersama, melainkan kesunyian karena semua siswa menunduk ke layar.

Dari perspektif interaksionisme simbolik, kehadiran ponsel telah membentuk simbol sosial baru bagi remaja yakni sebuah validasi digital menjadi ukuran penerimaan sosial. Siswa yang kurang aktif di media sosial sering merasa tertinggal, sementara siswa yang “eksis” merasa diwajibkan mempertahankan citra tertentu. Sehingga  identitas pun tidak lagi muncul dari percakapan langsung, tetapi melalui unggahan yang dikemas secara konstruktif.

BACA JUGA :  Sering Kram Kaki? Waspadai 7 Penyakit Ini sebagai Penyebabnya

Konsekuensinya, banyak remaja merasa terhubung secara digital tetapi  terpisah secara emosional. Mereka memiliki daftar kontak yang panjang, tetapi tidak memiliki cukup ruang intim untuk berbagi keluh kesah. Di sinilah fenomena yang disebut “kesepian di tengah keramaian” menjadi relevan, sebab sekolah secara fisik ramai namun relasi sosial berjalan dangkal.

Peluang Menyegarkan Ekosistem Sekolah

Bila Indonesia menerapkan langkah serupa dengan Prancis, peluang paling nyata adalah kembalinya ruang sekolah sebagai ruang interaksi sosial yang asli. Tanpa lalu lintas pesan masuk di jam belajar, siswa akan terdorong berbicara, bekerja sama, dan saling memahami dalam konteks nyata.

Konsentrasi belajar pun berpotensi meningkat karena sumber distraksi berkurang. Sehingga guru akan memiliki ruang lebih luas untuk membangun hubungan yang bermakna dengan siswa.

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================