‘Slip Of the Tongue’ Saat Lidah Lebih Jujur dari Otak

Nabila Ramdhani Sihab  (Mahasiswi UIN Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan / Jurusan Pendidikan Bahasa Arab)

Oleh : Nabila Ramdhani Sihab 

(Mahasiswi UIN Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan / Jurusan Pendidikan Bahasa Arab)

DITENGAH derasnya arus informasi, manusia modern semakin sering berhadapan dengan hal-hal yang tampak sepele, tapi sebenarnya menyimpan cerita besar di baliknya. Salah satunya cara kerja otak kita ketika berbicara.

Pernahkah kamu mengalami salah ucap ketika berbicara, mengeluarkan kata yang tidak kamu maksudkan, atau bahkan menahan diri agar tidak mengatakan sesuatu yang “kurang pantas” ?.

Fenomena biasa ini seakan menjadi pintu menuju dunia yang lebih kompleks. Fenomena yang menggambarkan bagaimana otak kita menyaring, mengedit, dan mengendalikan bahasa. Lebih menarik lagi, bagi sebagian orang, terutama mereka yang memiliki kondisi neurologis tertentu, proses ini bisa berjalan berbeda bahkan menghasilkan perilaku yang sulit dipahami oleh orang awam. Mari kita selami lebih jauh kejadian menarik ini.

BACA JUGA :  Pengemudi Microsleep, Toyota Fortuner Terguling di KM 30 Jagorawi

Slip of the tongue merupakan sebutan bagi fenomena unik ini. Kesalahan berbicara ini terjadi tanpa sengaja. Kesalahan bicara ini bisa dari salah menyebutkan bunyi, kata, hingga struktur kalimat. Terdapat jejak tersembunyi proses kognitif yang mendasari produksi bahasa dari peristiwa slip of the tongue atau lidah keseleo.

Salah satu contoh dari peristiwa ini dapat ditemukan saat kita mengucapkan kata kemudian diulang beberapa kali, akan menghasilkan pelafalan yang tidak sama serta durasi kata juga cenderung sedikit berkurang.

Pengucapan kata ketika lidah keseleo berkaitan dengan 2 hal yaitu akustik dan artikulatoris. Akustik membahas bagaimana bunyi terdengar, sedangkan artikulatoris adalah bagaimana bunyi dihasilkan oleh organ bicara.

Kedua hal tersebut dapat mengungkapkan proses kognitif yang bekerja ketika manusia menghasilkan tuturan. Kata yang sama dan diucapkan berulang akan tetap menghasilkan pengucapan yang berbeda. Variasi ini bukanlah kebetulan, melainkan adanya proses mekanisme mental yang mendasari produksi bahasa. Seperti ketika seseorang mengucapkan big menjadi pig.

BACA JUGA :  Gagal Lolos SNBT 2026? Masih Ada Peluang Masuk PTN Lewat Jalur Mandiri, Ini Daftar Kampus yang Buka Pendaftaran Juni

Speech errors tersebut menunjukkan bahwa saat terjadi error, sifat akustik dan artikulatoris dari bunyi target serta bunyi yang salah sering tercampur. Sehingga, meskipun terlihat salah, pengucapan tetap mencerminkan sebagian dari rencana produksi yang benar.

Penilitian mengenai speech errors pernah dilakukan di sebuah laboratorium dengan meminta peserta untuk secara tepat mengucapkan tongue twister buatan yang terdiri dari suku kata dengan bunyi kontras yang berselang – seling.

Untuk mengetahui bagaimana bunyi yang keluar tidak selaras dengan apa yang kita pikirkan, yaitu pada petunjuk akustik voice onset time yaitu waktu antara pelepasan aliran udara ketika membuka bibir dan mulai bergetarnya pita suara secara periodik.

Editor : Admin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================