Membaca Hasil Tes Kemampuan Akademik sebagai Cermin Mutu Pendidikan

TKA
Agus Jatmika (Prakstsi Pendidikan)

Oleh: Agus Jatmika (Prakstsi Pendidikan)

RILIS hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA semestinya menjadi momentum refleksi bersama. Namun ketika capaian pada mata pelajaran matematika justru menunjukkan hasil rendah—bahkan nilai tertinggisalah satu mata pelajaran  hanya berada di kisaran 7,0—data tersebut tidak lagi sekedar angka statistik tetapi  bisa berubah menjadi cermin yang memantulkan kondisi mutu pembelajaran sekaligus kesiapan sistem asesmen pendidikan nasional.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menegaskan bahwa TKA bukan ujian kelulusan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan dalam press releasesnya bahwa TKA merupakan bagian dari upaya penyediaan data akademik nasional dengan tiga fungsi utama assessment of learning, assessment for learning, dan assessment as learning. Secara konseptual, kerangka ini menempatkan asesmen sebagai alat refleksi dan perbaikan, bukan penghukuman.

BACA JUGA :  Diduga Hendak Tawuran, Tiga Remaja Diciduk Polisi di Parung

Ketika Asesmen Berjumpa Realitas Sekolah

Sementara itu dalam perspektif sosiologi pendidikan, kebijakan tidak pernah berhenti pada konsep saja, tetapi  selalu berjumpa dengan realitas sosial di sekolah dan kondisi psikologis peserta didik.

Karena itu, hasil TKA perlu dibaca tidak semata sebagai capaian individu siswa, melainkan sebagai refleksi ekosistem pembelajaran secara keseluruhan.

Sorotan terhadap rendahnya capaian matematika tidak bisa serta-merta diarahkan kepada siswa. Prestasi belajar adalah hasil relasi panjang antara kurikulum, kualitas pembelajaran, kesiapan guru, serta budaya belajar yang tumbuh di sekolah.

BACA JUGA :  Dugaan Korupsi Pembangunan RSUD Parung, Negara Rugi Rp9,1 Miliar

Bila TKA dimaksudkan sebagai pemetaan, maka hasil yang rendah seharusnya diperlakukan sebagai sinyal perbaikan, bukan stempel kegagalan.

Tekanan Simbolik di Balik Status “Bukan Ujian”

Meski berulang kali ditegaskan bukan ujian, TKA tetap membawa beban simbolik yang kuat. Tes berskala nasional selalu memproduksi rasa dinilai.

Sekolah merasa diawasi, siswa merasa diuji, dan orang tua ikut cemas. Pelaksanaan yang terkesan tergesa-gesa, tipe soal yang relatif baru, serta sistem penskoran yang belum sepenuhnya dipahami publik membuat TKA perdana ini lebih terasa sebagai pengalaman menekan ketimbang ruang belajar.

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================