Menjaga Nalar Generasi Zaman Now

Nalar
Agus Jatmika (Pemerhati Sosial Komunikasi)

Oleh : Agus Jatmika (Pemerhati Sosial Komunikasi)

DI ruang-ruang kelas hari ini, para guru mulai merasakan perubahan yang tidak selalu mudah dijelaskan. Banyak siswa semakin cepat merasa bosan ketika membaca teks panjang, sulit mempertahankan konsentrasi dalam diskusi, dan lebih tertarik pada informasi yang datang dalam bentuk video pendek atau potongan konten singkat.

Fenomena ini dalam diskursus digital sering disebut brain rot, sebuah istilah yang menggambarkan kondisi ketika konsumsi konten digital yang berlebihan membuat daya pikir menjadi dangkal, mudah terdistraksi, dan kehilangan kedalaman refleksi.

Istilah tersebut mungkin terdengar berlebihan, tetapi gejalanya semakin mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak terbiasa menggulir layar tanpa henti, berpindah dari satu konten ke konten lain hanya dalam hitungan detik.

BACA JUGA :  Jalur Cepat Tegar Beriman Ditutup Malam Ini, Warga Diminta Cari Rute Alternatif

Informasi yang diterima sering kali tidak sempat dipahami secara mendalam karena segera tergantikan oleh konten berikutnya. Dalam jangka panjang, pola konsumsi informasi seperti ini dapat memengaruhi cara generasi muda berpikir, belajar, dan memaknai dunia.

Dalam perspektif sosiologi, fenomena ini berkaitan dengan perubahan besar dalam pola sosialisasi generasi muda. Jika pada masa lalu keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial menjadi ruang utama pembentukan nilai dan pengetahuan, kini media sosial ikut mengambil peran besar dalam proses tersebut.

Anak-anak belajar tentang banyak hal dari ruang digital yang bekerja mengikuti logika algoritma seperti apa yang menarik perhatian akan terus muncul berulang, sementara refleksi yang mendalam sering kali tersisih oleh hiburan yang serba cepat.

BACA JUGA :  Disdik Kabupaten Bogor Minta Sekolah Tak Pungut Iuran Perpisahan dan Study Tour

Sementara itu dari sudut pandang ilmu komunikasi, medium digital bukan sekedar saluran penyampai pesan tetapi juga membentuk cara manusia memproses informasi.

Ketika komunikasi didominasi oleh konten singkat, sensasional, dan viral, pola perhatian manusia pun ikut berubah.

Konsentrasi menjadi lebih pendek, kesabaran membaca berkurang, dan kemampuan berpikir reflektif semakin jarang terlatih.

Kekhawatiran terhadap dampak tersebut mulai memunculkan respons dari negara. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital merencanakan kebijakan pembatasan penggunaan media sosial bagi anak-anak di bawah usia tertentu, yang dijadwalkan mulai diberlakukan pada 28 Maret 2026.

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================