BOGORTODAY.COM – Kejang pada anak sering kali dianggap sebagai kondisi sesaat yang tidak berbahaya, terutama jika tidak disertai demam. Namun, pandangan ini perlu diwaspadai karena kejang tanpa pemicu yang jelas bisa menjadi indikasi gangguan pada sistem saraf, salah satunya epilepsi.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Neurologi Anak RSIA Bunda Jakarta, Achmad Rafli, menjelaskan bahwa kejang yang terjadi berulang tanpa demam dan tanpa penyebab yang jelas perlu dicurigai sebagai epilepsi. Menurutnya, kondisi ini sering kali tidak disadari orang tua sehingga penanganan menjadi terlambat.
Ia menambahkan bahwa pada anak usia 0 hingga 18 tahun, sistem saraf masih dalam tahap perkembangan.
Pada fase ini, gangguan neurologis seperti epilepsi dapat muncul, tetapi sering tidak terdeteksi sejak awal. Akibatnya, sebagian kasus baru ditangani ketika kondisi sudah lebih serius.
Pentingnya Deteksi Dini
Achmad Rafli menyebutkan bahwa sekitar 20 hingga 30 persen kasus epilepsi pada anak sulit dikendalikan, salah satunya akibat keterlambatan diagnosis.
Banyak orang tua menganggap kejang tanpa demam sebagai hal yang akan hilang dengan sendirinya, padahal kondisi tersebut bisa menjadi tanda awal gangguan neurologis.
Untuk memastikan diagnosis, diperlukan pemeriksaan lanjutan seperti electroencephalography (EEG) yang berfungsi merekam aktivitas listrik otak dan mendeteksi adanya pola kejang.
Seiring perkembangan teknologi, pemeriksaan EEG kini semakin mudah dilakukan. Bahkan, beberapa fasilitas kesehatan telah menyediakan EEG portable yang memungkinkan pemeriksaan dilakukan di rumah pasien, sehingga lebih nyaman terutama bagi anak-anak.
Epilepsi Tidak Bisa Sembuh, Tapi Bisa Dikendalikan
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















