Benarkah Jahe Bisa Menurunkan Demam? Ini Penjelasan Ilmiah di Baliknya

Jahe
Ilustrasi Jahe. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM – Wedang jahe sudah lama menjadi minuman andalan masyarakat Indonesia ketika tubuh mulai meriang, flu, atau demam. Sensasi hangat yang dihasilkan membuat banyak orang merasa lebih nyaman dan percaya bahwa jahe mampu mempercepat pemulihan.

Namun, apakah jahe benar-benar dapat menurunkan demam, atau hanya memberikan rasa hangat sesaat? Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa rempah ini memang memiliki manfaat kesehatan, meski perannya bukan sebagai pengganti obat penurun panas.

Kandungan Jahe yang Membantu Meredakan Peradangan

Jahe mengandung berbagai senyawa aktif, di antaranya gingerol, shogaol, dan zingerone. Berdasarkan penelitian mengenai Immunomodulatory and Anti-inflammatory Therapeutic Potential of Gingerols, senyawa-senyawa tersebut memiliki sifat antiinflamasi, antioksidan, serta membantu mengatur respons sistem kekebalan tubuh.

BACA JUGA :  Studi Ungkap Gen Z dan Milenial Alami Penuaan Lebih Cepat, Risiko Kanker Usia Muda Meningkat

Gingerol diketahui mampu menghambat pembentukan prostaglandin, yaitu zat yang berperan dalam meningkatkan suhu tubuh ketika terjadi peradangan atau infeksi. Ketika produksi prostaglandin berkurang, respons peradangan ikut menurun sehingga suhu tubuh berpotensi menjadi lebih stabil.

Dengan mekanisme tersebut, konsumsi jahe dapat membantu meredakan demam ringan yang berkaitan dengan proses inflamasi di dalam tubuh.

Didukung Hasil Penelitian

BACA JUGA :  Kepribadian Seseorang Bisa Terlihat dari Cuaca Favoritnya, Benarkah?

Manfaat jahe sebagai penurun suhu tubuh juga ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Dalam penelitian tersebut, ekstrak jahe merah terbukti mampu menurunkan suhu tubuh pada hewan percobaan yang mengalami demam.

Peneliti menjelaskan bahwa efek tersebut berkaitan dengan kandungan gingerol yang bekerja menghambat sintesis prostaglandin sekaligus mengurangi proses peradangan.

Meski hasil penelitian ini cukup menjanjikan, para ahli menegaskan bahwa jahe lebih tepat digunakan sebagai terapi pendamping, bukan sebagai pengganti pengobatan medis.

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================