Kalbe-Farma-Q1-2009-1JAKARTA, Today – PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mencatatkan laba bersih bertumbuh sebesar 7,8% mencapai Rp 1,146 triliun di semester I-2016. Pertumbu­han laba bersih terutama dise­babkan oleh meningkatnya pendapatan operasional serta penghasilan bunga yang lebih baik.

Laba kotor tercatat sebesar naik 8,5% menjadi Rp 4,663 tril­iun. Rasio laba kotor terhadap penjualan sendiri mengalami penurunan menjadi 48,8% dari 49,3% pada semester pertama tahun lalu. Hal ini tidak terlepas dari melemahnya nilai tukar ru­piah dibandingkan tahun 2015.

Sementara itu, laba usa­ha bertumbuh sebesar 10,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan rasio mencapai 15,9% terhadap pen­jualan bersih.

Penjualan bersih tercatat sebesar Rp 9,556 triliun di se­mester I-2016 atau tumbuh 9,6% dari periode yang sama tahun 2015 sebesar Rp 8,720 triliun.

Direktur Keuangan dan Sekretaris Perusahaan Kalbe Vidjongtius mengatakan, hal ini didukung dengan positifnya pertumbuhan seluruh divisi utama yang ada pada Kalbe, se­mentara kenaikan harga hanya dilakukan untuk beberapa produk tertentu.

“Kinerja 6 bulan pertama memberikan hasil yang sangat baik. Kinerja kuartal II lebih baik dari kuartal I. Pertumbu­han yang baik ini didukung oleh beberapa aspek, misalnya obat resep, produk kesehatan, nutri­si, distribusi semuanya tumbuh positif, termasuk labanya,” ka­t anya dalam acara Institu­tional I n v e s t o r Day di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/8/2016).

Dengan mempertimbang­kan situasi makro ekonomi dan kondisi kompetensi, Kalbe pun tetap mempertahankan target pertumbuhan penjualan sebe­sar 8-10% untuk tahun ini.

“Kita berharap kuartal III sampai kuartal IV juga terus naik. Karena kalau kita lihat makro cukup baik. Kita optimis target yang sudah kita canang­kan awal tahun ini pertumbu­han bisnis 8-10%, sampai hari ini semuain line dan terus melaku­kan penanaman modal. Capex kita sebagaimana direncanakan di awal Rp 1-1,5 triliun. 6 bulan pertama kita sudah spend Rp 581 miliar,” ujarnya.

Sementara itu, mengenai rencana Kalbe untuk peningka­tan investasi di sektor Industri Farmasi di Indonesia, Vidjong­tius mengatakan, Kalbe telah mempersiapkan anggaran be­lanja modal sebesar Rp 1-1,5 tril­iun yang akan digunakan untuk perluasan kapasitas produksi dan distribusi.

“Kita lihat secara spesifik, kalau investasi untuk industri farmasinya positif sekali. Secara kebutuhan volume nasional, kita butuhnya tinggi. Bicara JKM (Jaminan Kesehatan Ma­syarakat), volumenya pasti naik. Karena jumlah masyarakat yang di-cover oleh BPJS kan bertam­bah terus. Makanya Pemerintah targetkan sampai 2019 hampir semua masyarakat akan tercov­er oleh BPJS. Itu artinya volume akan terus meningkat,” ujarnya. “Saya rasa industri farmasi harus invest, karena kalau membuat pabrik itu tidak bisa hanya seta­hun. Pabrik itu bisa 3 tahun baru jadi. Kalau kita tidak melakukan hari ini, 2-3 tahun ke depan bisa terjadi kekurangan kapasitas. Kalbe sangat terbuka untuk ko­laborasi dengan siapa pun apakah lokal atau interna­sional,” pungkasnya. (Calviano/ NET)