JAKARTA TODAY- Pertemuan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) di Aljir, Aljazair, akhirnya menghasilkan kesepakatan untuk membatasi produksi minyak seluruh negara anggotanya menjadi 32,5 juta hingga 33 juta barel per hari (bph). Meski hanya memangkas produksi minyak 240 ribu-740 ribu bph dari target sebelumnya 33,24 juta bph, namun kesepakatan tersebut terbukti ampuh meningkatkan harga minyak dunia.

Ketua OPEC Mohammed Bin Saleh Al-Sada menjelaskan dalam pertemuan selama enam jam, sebanyak 14 negara anggota setuju untuk mengurangi angka produksi tahun ini. Hal tersebut ditindaklanjuti dengan membentuk sebuah komite yang akan menghitung produksi final dari setiap negara anggota pasca kesepakatan itu dibuat. “Komite akan mengkoordinasikan upaya berbagi beban dengan menyesuaikan produksi antara produsen OPEC dan non-OPEC. November nanti, laporan itu harus selesai dan dibahas dalam pertemuan di Wina,” kata Al-Sada, dikutip dari kantor berita Antara, Kamis (29/9/2016).

Sebelumnya pada Selasa dan Rabu kemarin, Perdana Menteri Aljazair Abdelmalek Sellal bertemu dengan Wakil Menteri Perminyakan Arab Saudi, Pangeran Salman bin Abdul Aziz bin Salman Al-Saud dan Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zanganeh.

Sellal melakukan upaya diplomasi agar Arab Saudi, salah satu produsen minyak utama, bersedia membatasi pasokan menjadi sekitar 10,3 juta bph dan Iran diminta untuk bisa membatasi pasokannya menjadi 3,7 juta bph.

Menteri Energi Aljazair Noureddine Bouterfa mengatakan, apabila harga minyak bisa membaik ke level US$50 hingga US$60 per barel maka akan menguntungkan bagi konsumen dan produsen. “Level harga itu membantu menjaga investasi dan karena itu menjamin ketersediaan produk energi utama ini dalam jangka panjang,” jelas Bouterfa.

Harga minyak dunia langsung menguat setelah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) sepakat membatasi produksi minyak jadi 32,5 juta – 33 juta barel per hari (bph) dari posisi sebelumnya 33,24 juta bph.

Harga minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November naik US$2,38 menjadi US$47,05 per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara harga minyak patokan Eropa, Brent naik US$2,72 menjadi US$48,69 per barel di London ICE Futures Exchange. Sebelumnya pada Selasa dan Rabu kemarin, Perdana Menteri Aljazair Abdelmalek Sellal bertemu dengan Wakil Menteri Perminyakan Arab Saudi, Pangeran Salman bin Abdul Aziz bin Salman Al-Saud dan Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zanganeh.

Sellal melakukan upaya diplomasi agar Arab Saudi, salah satu produsen minyak utama yang jadi anggota OPEC, bersedia membatasi pasokan menjadi sekitar 10,3 juta bph. Sementara Iran diminta untuk bisa membatasi pasokannya menjadi 3,7 juta bph.

Menteri Energi Aljazair Noureddine Bouterfa mengatakan, apabila harga minyak bisa membaik ke level US$50 hingga US$60 per barel maka akan menguntungkan bagi konsumen dan produsen. “Level harga itu membantu menjaga investasi dan karena itu menjamin ketersediaan produk energi utama ini dalam jangka panjang,” jelas Bouterfa.

Upaya diplomasi Aljazair tersebut mendapat apresiasi dari Ketua OPEC Mohammed Bin Saleh Al-Sada. Menurut Al-Sada, kesediaan Arab Saudi dan Iran untuk memangkas produksinya diikuti oleh 12 negara anggota OPEC lainnya untuk mengurangi angka produksi tahun ini.(Yuska Apitya/dtk)