Untitled-12

 Khutbah Pertama

Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakaatuh

Innal hamda lillaahi nahmaduhu wanasta’iinuhuu wanastaghfiruh wa na’uudzubillaahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyiaati a’maalinaa, man yahdihil­laahu falaa mudhillalah wa man yudhlilhu falaa hadiyalah. Wa asyhadu allaa ilaaha il­lallaah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhuu warasuu­luhu laa nabiyya ba’dah. Allaahumma shalli wa sallim wabaarik ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aalihii wa shohbihi wa manihtadaa bi hudaahu ilaa yaumil qiyaamah. Yaa ayyu­hannasu uushikum wa iyyaaya bi taqwallaa­hi fa qad faazaal muttaquun. Qaala ta’aalaa: yaa ayyuhaladziina aamanuttaqullaha haqqatuqaatihii wala tamuutunnaa illaa wa antum muslimuun. Yaa ayyuhalladziina amanuttaqullaaha wa quuluu qaulan sadi­idaa. Yuslih lakum a’maalakum wa yaghfir­lakum dzunuubakum wa man yuthi’illaaha wa rasuulahu fa qad faaza fauzan ‘adziimaa.

Ma’asyirol Muslimin yang dirahmati Allah

Pada kesempatan khutbah kali ini, khatib tidak pernah bosan-bosannya untuk menghimbau diri khatib secara pribadi dan para jama’ah sekalian untuk senantiasa ber­taqwa kepada Allah di mana saja kita bera­da dengan berupaya semaksimal mungkin mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Karena tidak ada bekal terbaik di hari kiamat kelak yang membuat kita mulia di sisiNya melain­kan dengan taqwa. Karena tidak ada yang mampu menjadi tameng kita dari adzab dan api neraka-Nya melainkan adalah taqwa yang kita miliki.

Allah Ta’ala berfirman,

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa.” (QS. al-Baqarah:197)

Dan Rasulullah bersabda,

“Bertakwalah kamu di mana saja kamu berada, dan sertakanlah olehmu kejahatan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapus­kannya (kejahatan tersebut), serta pergauli­lah manusia dengan akhlak yang baik”. (HR. at-Tirmidzi, dengan sanad hasan shahih).

Ma’asyirol Muslimin yang dirahmati Allah

Ada sebuah ungkapan atau kalau boleh ia disebut motto hidup yang cukup seder­hana, “Tidak akan pernah kembali hari-hari yang telah berlalu”. Kenapa kita katakan sederhana?? sebab ungkapan ini cukup fa­miliar di telinga kita, bahkan ia terkadang bagaikan angin yang lalu begitu saja, atau ungkapan picisan kuno yang tak ada arti bagi sebagian orang, bahkan anak-anak ke­cil saja tahu dan mengerti kalau hari-hari yang telah dilewatinya tidak akan pernah terulang dan kembali lagi.

Tentunya tidak bagi para pemerhati kehidupan atau orang-orang yang selalu merenungi dan menghayati hidup yang dijalani, juga tidak bagi orang yang selalu mengevaluasi diri dan ingin hari-harinya yang sekarang dan yang nanti lebih baik dari hari-harinya yang telah lalu. Karena baginya hari-hari yang telah lalu adalah sejarah sekaligus pelajaran untuk menatap dan manata hidup di masa depan yang leb­ih gemilang, pelajaran mahal yang tak bisa dihargai dengan lembaran-lembaran kertas yang kini telah berubah menjadi sembahan, hari-hari yang telah berlalu terus akan me­nyisakan kenangan dan kenikmatan bagi siapa saja yang menghabiskannya untuk sesuatu yang indah dan penuh makna.. dan selalu akan meninggalkan penyesalan dan kesedihan yang mungkin tak terlupakan bagi siapa saja yang menjalaninya untuk sesuatu yang sia-sia dan penuh dosa.

Ma’asyirol Muslimin yang dirahmati Allah

Tentunya bagi seorang mukmin hari-hari adalah sebuah kesempatan yang ber­harga untuk beramal dan berinvestasi se­banyak-video islami cahayabanyaknya yang tidak akan pernah ia sia-siakan begitu saja. Sehingga ia selalu berupaya untuk mengisi lembaran-lembaran hidupnya dengan ses­uatu yang mendatangkan keridhaan dan ke­cintaan AllahTa’ala. Sebagaimana dia tahu Rasulullah bersabda,

Antara kesempurnaan (kebaikan) Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna bagi dirinya.”. at-Tirmi­dzi, dishahihkan oleh al-Albany)

Ma’asyirol Muslimin yang dirahmati Allah

Kalau hari-hari yang biasa dijalani oleh seorang mukmin begitu ia manfaatkan sebaik mungkin, apalagi jika ia berada di hari-hari yang di dalamnya terdapat bonus-bonus dan ‘seabrek’ keistimewaan yang disediakan dan begitu menjanjikan, ten­tunya betul-betul tidak sedikitpun ia akan sisakan hari dan waktunya kecuali untuk mengejar dan meraih semua bonus-bonus dan keistimewaan nan menggiurkan. Dia akan tampak agresif dan kompetitif dan siap bersaing serta berupaya mengungguli rival-rivalnya demi sebuah prestasi yang akan diraih. Allah Ta’ala berfirman,

“…Maka berlomba-lombalah kamu (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpul­kan kamu sekalian (pada hari kiamat). Ses­ungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(QS. Al-Baqarah:148)

Ma’asyirol Muslimin yang dirahmati Allah

Hari-hari yang indah dan didambakan itu kini hampir datang kepada kita, hari-hari yang terdapat pada bulan yang sangat istimewa di mata Sang Pemiliknya dan bagi siapapun yang mengetahui keistimewaan­nya, tamu nan agung yang selalu dinanti-nanti oleh semua orang yang merindukan­nya, dia adalah bulan ramadhan bulan rahmah, bulan maghfirah, bulan berkah, bulan sabar, bulan Qur’an, bulan shadaqah, bulan pendidikan dan madrasah orang-orang yang beriman, bulan dilipat-ganda­kan pahala dari setiap amalan yang diker­jakan di dalamnya dan masih banyak lagi nama-nama yang indah untuknya yang be­lum disebutkan, sesuai dengan banyaknya kebaikan dan keutamaan di dalamnya.

Allah Ta’ala berfirman,

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai pe­tunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjela­san mengenai petunjuk itu dan pembeda (an­tara yang hak dan yang bathil).” (QS. 2: 185)

Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah bersabda,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya memberi kabar gembira kepada para shahabatnya dengan bersabda,’Telah datang kepada kalian bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh berkah, Allah telah me­wajibkan kalian berpuasa Ramadhan, Pada bulan ini pintu-pintu langit dibuka dan pintu-pintu jahannam ditutup, tangan-tangan syet­an dibelunggu, dan di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, maka barangsiapa yang dijauhkan (diharam­kan) dari kebaikannya, maka benar-benar telah dijauhkan.” (HR. an-Nasa’i)

Ma’asyirol Muslimin yang dirahmati Allah

Dan wahai hamba-hamba Allah yang haus akan pengabdian dan ketaatan kepa­da-Nya, jangan biarkan ia berlalu dan lewat begitu saja di depan mata, cukuplah rama­dhan yang lalu menjadi pelajaran dan seka­ligus penyesalan yang nyata, karena telah menyia-nyiakan kesempatan yang ada, yang telah Allah anugerahkan kepada kita, dengan hanya membawa sedikit dari sekian banyak dan berlimpah ruahnya kebaikan-kebaikanNya yang tersedia. Atau boleh jadi tidak sedikitpun pahala yang terbawa, karena banyak amalan utama yang tak ter­jaga, dan hilang dengan sia-sia. Allah Ta’ala berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, ber­taqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diper­buatnya untuk hari esok (akhirat), dan ber­taqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadi­kan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr:18-19)

Khutbah yang Kedua

Ma’asyirol Muslimin yang dirahmati Allah

Pernahkah kita berpikir kalau ramad­han ini adalah ramadhan terakhir yang Al­lah taqdirkan buat kita, maka apa yang kita akan perbuat di dalamnya?

Seseorang yang tahu kalau hidupnya akan berakhir saat itu, pastinya dia akan menyiapkan segala bekalnya dengan sebaik dan sesempurna mungkin. Maka dia akan menjadikan ramadhannya kali ini menjadi ramadhan terbaik dan berkualitas dari se­belum-sebelumnya.

Ma’asyirol Muslimin yang dirahmati Allah

Tentunya untuk menjadikan ramad­han lebih baik dan berkualitas, dibutuhkan persiapan yang ekstra serius dan sungguh-sungguh. Khususnya yang lebih dipriori­taskan adalah menyiapkan ilmu-ilmu syar’i seputar ramadhan itu sendiri. Sehingga dengan bekal tersebut betul-betul ses­eorang akan menjalani ramadhannya den­gan Iman dan ihtisab (hanya mengharap pahala dan ridha Allah semata), Rasulullah bersabda,

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan hanya mengharap pahala dari Allah (ihtisab), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (Muttafaq’alaih).

Dalam hadits yang lain,

“Barangsiapa mendirikan shalat malam Ramadhan (tarawih) karena iman dan han­ya mengharap pahala dari Allah (ihtisab), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (Muttafaq’alaih)

Ma’asyirol Muslimin yang dirahmati Allah

Hanya dengan bekal ilmu syar’i yang cukuplah, insya Allah ibadah yang dijalani selama sebulan penuh menjadi ibadah yang maqbulah (diterima oleh Allah Ta’ala) karena semata-mata melaksanakan per­intah Allah melalui tuntunan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang beramal (beribadah) yang tidak ada perintah dari kami, maka iba­dahnya tertolak”. (HR. Muslim)

Ma’asyirol Muslimin yang dirahmati Allah

Bukan hanya itu saja yang akan diteri­ma olehnya, Allah akan memasukkannya ke dalam hamba-hambaNya yang bertakwa (al-Muttaqun), karena tujuan disyariatkan­nya puasa Ramadhan itu sendiri adalah agar orang yang melaksanakan ibadah di dalamnya, menjadi hamba-hamba Allah yang bertakwa yang tidak ada balasannya kecuali dipersiapkan Surga untuknya.

Sebagaimana firman-Nya,

“Hai orang-orang yang beriman, diwajib­kan atas kamu berpuasa sebagaimana diwa­jibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. (QS. Al-Baqarah:183)

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan bersegeralah kamu kepada ampu­nan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang dise­diakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Ali Imran:133)

Ma’asyirol Muslimin yang dirahmati Allah

Demikianlah, semoga khutbah yang singkat ini bisa menjadi renungan dan mo­tivasi bagi kita semua untuk menjadikan ra­madhan kali ini menjadi lebih berarti dan penuh berkah ilahi. Amin.

Oleh : Ustadz Solichin Al-Amin (*)