Foto(1466)Replika kendaraan berbentuk miniatur mungkin sudah banyak Anda lihat dimana-mana. Namun, replika kendaraan dengan ukuran asli dengan skala satu banding satu yang terbuat dari kayu mungkin masih jarang ditemukan. Kerajinan tangan yang membutuhkan keahlian dan kreativitas tinggi ini menarik perhatian penikmat seni, terutama dari pasar luar negeri. Sebut saja beberapa negara, seperti Jerman, Belanda, dan Uni Emirat Arab.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Umumnya rep­lika kendara­an yang dimi­nati seperti motor, mobil, becak, atau sepeda. Pe­mi­nat replika otomotif ini juga banyak datang dari dalam neg­eri, meski tidak sebanyak dari luar negeri. Umumnya mereka adalah para kolektor dan pecin­ta otomotif.

Tentu ini menjadi ceruk bisnis yang menarik pula. Lantaran pengerjaannya yang rumit serta membutuhkan kayu yang berkualitas tinggi, harga jual satu unit replika otomotif ini pun tidak murah. Banyak perajin kayu di daerah-daerah Jawa membuat kerajinan replika kendaraan ini lantaran permintaan yang besar.

Abdul Rohman, seni­man replika kayu asal Jepara, Jawa Tengah, mengatakan, replika kendaraan dari kayu memang agak sulit pembuatannya. Ada juga yang membuat replika namun tidak be­gitu detail dan terkadang hanya asal berbentuk motor saja atau mobil saja. Mengukir kayu dengan skala aslinya tentunya membutuh­kan ketelitian dan kesabaran.

Laki-laki yang lebih akrab disapa Rohman ini sudah menjadi perajin ukir sejak duduk di bangku kuliah. Dia tertarik menekuni aktivitas seni ini karena tidak semua orang bisa mem­buat detail yang sama persis.

Rohman banyak belajar mengukir dari ayahnya yang memang menjadi pegawai ukir kayu. Alhasil sejak lulus kuliah, dia mulai mem­bangun usahanya dengan nama Garuda Jepara di bawah naungan CV Garuda Jepara. Saat ini dia dibantu oleh enam orang karyawan untuk memproduksi seluruh pesanan konsumen.

Selain membuat replika kendaraan, dia juga membuat furnitur dari kayu lainnya seperti sofa, tempat tidur, meja, kursi, kabinet, dan ukiran bentuk lain seperti lambang burung garuda. Khusus untuk replika kendaraan, Rohman hanya membuat replika jenis motor Harley Davidson.

Khusus untuk replika Harley Davidson, dia hanya memproduksi tiga unit dalam sebulan. Harga jualnya Rp 14 juta per unit. “Namun, terkadang dalam sebulan hanya memproduksi satu saja,” kata Rohman.

Pengerjaan Dua Bulan

Dari penjualan replika kendaraan saja, Rohman bisa mengantongi omzet hingga Rp 42 juta, belum lagi dari produk kayu lainnya. Un­tuk penjualan replika kendaraan yang masih jarang dibuat perajin lain, Rohman dapat men­gantongi keuntungan bersih sekitar 50 persen sampai 100 persen dari harga jual. Tapi, untuk replika yang sudah banyak diproduksi atau de­sain lama, dia hanya mampu meraup keuntun­gan sekitar 10 persen dari harga jual.

Rohman gencar memasarkan produknya melalui situs internet, selain lewat gerai offline di Jepara. Alhasil, produknya pun sudah pernah mendapat pesanan dari berbagai daerah di In­donesia.

Perajin kayu lainnya, Khoirur Roziqin sudah memproduksi replika kendaraan sejak lima tahun lalu. Lewat merek usaha Duta Mebel, Khoirur juga memproduksi berbagai macam aneka produk kayu jati seperti ayunan kayu jati, berbagai macam mebel anak, meja makan, le­mari, mebel kayu trembesi, dan lain-lain.

Pria yang akrab disapa Rozi ini bilang, ter­kadang ada beberapa orang ingin miliki sesuatu yang mahal seperti mobil sport, tapi terkendala biaya. “Dengan membuat replikanya seakan-akan kita memilikinya,” ujarnya.

Bagian kendaraan yang paling sulit dibuat replikanya adalah bagian mesin. Karena ba­gian ini membutuhkan detil yang lebih banyak ketimbang bodi mobil. Dalam sebulan, Rozi bisa menerima pesanan untuk replika kendaraan berjenis Harley Davidson sebanyak dua unit sampai unit. Pengerjaan satu unit butuh waktu sekitar sebulan sampai dua bulan.

Untuk harga jual, Rozi membaginya dalam dua kategori. Harga jual produk yang belum ta­hap finishing dia banderol senilai Rp 20 juta per unit. Sedangkan untuk harga jual yang sudah sampai tahap penyelesaian, harga jualnya seni­lai Rp 48 juta per unit. Dari replika kendaraan ini saja, Rozi bisa mengantongi omzet hingga Rp 96 juta per bulan, dengan keuntungan bersih sekitar 30%.

Rozi mengaku pembeli untuk replika kenda­raan ini biasanya dari kalangan menengah ke atas yang paham betul urusan seni. Selama ini, kendaraan yang dia produksi hanya kendaraan berjenis Harley Davidson saja. “Kalau kendara­an lain, pemasarannya agak susah dan kurang banyak peminatnya,” tuturnya. Ke depannya Rozi berencana akan membuat replika mobil dan memiliki cabang di semua kota.

(KTN)

Bagi Halaman