Berita-3-(crop)BOGOR, Today – Memasuki bulan Ramadhan dan musim kompetisi yang masih belum ada kejelasan, membawa berkah tersendiri bagi se­jumlah pemain sepakbola. Terhentinya kompetisi sepak bola di Indonesia tak melulu berdampak buruk bagi pemain. Salah satu contoh positif datang dari bek berpengalaman Persita Tangerang Maman Abdurahman dan eks pe­main belakang Persikabo, Erik Ebol.

Ramadhan kali ini men­jadi ramadhan penuh berkah bagi eks pemain be­l a k a n g Persika ­bo, Erik E b o l . L i b u r kompetisi akibat sanksi FIFA membuat dia dapat meng­habiskan waktu lebih banyak bersama keluarga di bulan suci tahun ini. “Alhamdulilah tahun ini bisa dibilang rama­dhan penuh berkah, karena untuk pertama kalinya saya menjalankan ibadah puasa di Kota Bogor. Hikmah lain­nya, saya pun bisa lebih lama berkumpul bersama keluarga besar,” ujar Erik Ebol.

Baca Juga :  Daftar Negara Lolos 16 Besar Piala Dunia 2022, Sekaligus Jadwal Pertandingan

Karena kompetisi ber­henti, Erik kini lebih banyak menjaga kondisi fisik dengan berlatih sendiri atau ber­gabung bersama klub Divisi 3, Megatama FC. Menurutnya, menjaga kondisi fisik san­gatlah penting, karena usai lebaran nanti, ia sudah harus kembali lapangan hijau. “Ya aktivitasnya sekarang paling jaga kondisi fisik saja, lebih banyak jogging. Kalau lagi senggang ya paling ikut lati­han bersama Megatama FC,” lanjutnya.

Erik sendiri berharap di bulan ramadhan ini ia bisa menjadi pribadi yang lebih baik, dan memiliki penghasi­lan yang lebih baik ke depan­nya. “Mudah-mudahan bisa lebih baik dari apa yang saya punya sekarang, baik itu amal ibadah, prestasi kerja, dan juga penghasilan,” lanjutnya.

Sementara itu, mantan penggawa Persib Bandung Maman Abdurrahman me­nyatakan, semenjak PSSI dan PT Liga Indonesia memutus­kan tidak menggulirkan kom­petisi di Tanah Air, ia jadi leb­ih banyak mendekatkan diri kepada sang pencipta.

Baca Juga :  Berikut Tim Negara Yang Lolos Babak 16 Besar Piala Dunia

“Saat ini saya jadi sering berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berharap sama manusia sudah sering dikecewakan jadi saya lebih meminta pertolongan kepada Tuhan ,” kata Maman.

Meski demikian pria beru­sia 33 tahun tersebut tetap menginginkan bisa kembali bermain bersama rekan satu timnya. Sebab ia menilai ber­main sepak bola merupakan gaya hidup yang tak bisa dilepaskan dari dirinya. “Saya rindu akan atmosfer kompe­tisi sepak bola di negara ini. Semoga kompetisi bisa se­cepatnya berjalan,” ujar pria bertinggi 1.74 meter itu.

(Adilla Prasetyo Wibowo)