Untitled-16SEPEKAN memasuki bulan suci Ramadhan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor menetapkan 17 kecamatan mengalami kekeringan dan krisis air bersih. Warga di sejumlah kecamatan sudah meminta pasokan air bersih. Diantaranya warga Desa Gunung Putri, Kecamatan Gunung Putri.

RISHAD NOVIANSYAH|YUSKA APITYA
[email protected]

Setelah menerima laporan, kami langsung mengirim tiga truk tangki untuk memenuhi kebutuhan sekitar 200 KK di Desa Gunung Putri,” ujar Kepala Pelaksanan BPBD Kabupaten Bogor, Kusparmanto, Selasa (23/6/2015).

Kusparmanto menyebutkan, ada 17 kecamatan yang setiap musim kemarau selalu mengalami krisis air bersih. Diantaranya Kecamatan Cariu, Jonggol, Gunung Putri, Babakan Madang, Jasinga, Cigudeg, Tenjo, Parung Panjang, dan Parung. “Mengalami kekeringan iya, tapi dari 17 kecamatan itu tidak semua mengalami krisis air bersih. Untuk saat ini baru 1 desa yang mengalami krisis air bersih, yaitu di Gunung Putri,” katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bogor, Budi Aksomo mengatakan, pihaknya saat ini intensif melakukan koordinasi dengan kecamatan untuk mengatasi krisis air bersih. “Jika menerima laporan ada yang mengalami krisis air bersih, maka kami langsung kirim air. Saat ini sudah ada 5 truk tangki yang disediakan oleh BPBD dan PDAM Tirta Kahuripan. Jika permintaan meningkat, truk tangki akan ditambah,” ujarnya.

Budi menjelaskan, ada tiga kategori dalam bencana kekeringan. Yakni langka terbatas, langka, dan kritis. Dari ketiga kategori itu fase kritis menjadi fokus distribusi air. Sebab pada daerah yang masuk dalam kategori itu setiap hari tingkat konsumsi air kurang dari 30 liter. Apalagi selama bulan Ramadhan ini air sangat dibutuhkan sekali. “Tidak mungkin untuk mendapatkan air mereka harus mengambil ke sumber air dengan jarak berkilo-kilo meter atau mengonsumsi air kotor,” ujarnya.

Baca Juga :  India Hentikan Ekspor Gandum, Harga Roti Hingga Mie di RI Terancam Naik

Karenanya, dirinya berharap baik kepada masyarakat maupun aparat di wilayah masing-masing untuk segera melaporkan jika desanya mengalami krisis air bersih. “Kami siap menyalurkan air bersih selama 24,” katanya.

Terpisah, Kabid Pangan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor, Prasetiowati, mengatakan sebanyak 21.000 hektare lahan pertanian di daerah itu terancam kekeringan saat musim kemarau tahun 2015. “Sebanyak 21.000 dari 76.217 hektare lahan pertanian yang sudah ditanam padi terancam kekeringan tahun ini,” kata dia, kemarin.

Namun, katanya, Dinas Pertanian dan Kehutanan sudah melakukan antisipasi terhadap bencana kekeringan. Dinas sudah menurunkan pompa air di lahan yang terancam kekeringan untuk membantu padi tetap tumbuh subur hingga masa panen tiba dengan dibantu prajurit TNI. “Yang namanya lahan pertanian kering adalah lahan yang sudah tidak ada air tanah dan pohon padinya kering,” kata Prasetiowati.

Ia menjelaskan, lahan pertanian di Kabupaten Bogor tidak mengalami kekeringan walaupun tanah retak-retak. Karena pohon padinya masih hijau dan bisa panen pada waktunya tinggal dibantu pengairan berkala untuk membantu pohon padi tetap hijau. “Yang terancam kekeringan ada di wilayah Bogor Timur, sedangkan Barat Tengah dan Utara, air pertanian masih bisa didapat dari sungai dan irigasi,” katanya.

Data yang dihimpun, kekeringan dialami warga Desa Gunung Putri, Kecamatan Gunung Putri. Ratusan kepala keluarga (KK) yang tersebar di empat RT pun kini kiris air. Untuk kebutuhan sehari-hari saja, warga terpaksa menggunakan air galon. “Bukan hanya untuk masak dan minum, cuci beras dan cuci piring kami pakai air galon,” kata Samsidar(30).

Baca Juga :  Jadi Tuan Rumah HUT APKASI Ke-22 Diharapkan Menjadi Sarana Promosi Kabupaten Bogor

Warga RT 02 ini mengaku sumur miliknya mengering. “Sudah hampir seminggu sumur kering,” katanya. “Biasanya isi air galon cukup sekali seminggu. Sekarang hampir setiap hari saya beli isi ulang tiga galon agar tak bolak-balik ke warung,” akunya.

Ini juga dibenarkan Kepala Desa Gunung Putri, Miming Saimin. Kata dia, khususnya di Gang Prihatin, memang langganan kekeringan. Saat musim hujan, wilayah ini juga rawan longsor. “Di Kampung (gang, red) Prihatin memang langganan kekeringan,” tuturnya.

Pada 2014 lalu, sambungnya, lebih dari lima KK diungsikan karena rumahnya rawan terdampak longsor. “Kalau musim hujan, ada saja yang harus direlokasi agar tidak ada korban longsor,” terangnya.

Begitu juga musim kemarau seperti sekarang, lebih dari 300 KK krisis air. “Kalau sudah jarang hujan, pasti kekeringan,” tuturnya.

Miming mengaku bingung cari bantuan untuk warganya. Terlebih, kata dia, untuk alat yang bisa mengatasi banjir dan kekeringan yang hampir setiap tahun terjadi di kampungnya. Pemdes hanya bisa melakukan pencegahan dengan alakadarnya. “Saat kekeringan seperti ini, kami hanya mengajak warga memanfaatkan sumber air di kampung lain. Meski jarak tempuhnya jauh, namun kami menjamin air itu bisa dipergunakan secara cuma-cuma,” tandasnya. (*)