270905_1718628139705_3823097_nMENJALANI puasa di negeri orang tak senyaman di negeri sendiri, hal ini dialami oleh mahasiswa Indonesia yang kuliah di Malaysia.

GUNTUR EKO WICAKSONO
[email protected]

Negeri yang mem­punyai ikon me­nara petronas atau biasa disebut dengan menara kembar itu cukup banyak me­narik minat mahasiswa untuk menimba ilmu di negara itu.

Sebut salah satunya Ricky Darmawan yang merasakan beribadah puasa di negeri jiran itu. Udara panas dan su­litnya mencari makanan yang masuk di lidah.

Hal itu ia ceritakan ketika menjalani selama lima tahun berkuliah disana. Menu­rutnya, udara disana sungguh tak bersahabat. “Panas disana lebih-lebih dari Indonesia,” je­lasnya.

Hal ini merupakan ujian bagi mahasiswa muslim yang sedang melakukan ibadah puasa di negeri Jiran tersebut.

Baca Juga :  3 Pria di Aceh Ditangkap Usai Curi Besi Jembatan

“Panas disini hampir dua kalinya panas Jakarta, tapi ya mau gimana lagi puasa itu kan ibadah dan juga kewajiban bagi umat muslim untuk ber­puasa, mau panas, mau dingin ya dijalani,” bebernya

Ricky juga menjelaskan kalau berpuasa di negeri orang lebih banyak godaannya dibandingkan di negeri sendi­ri, karena tidak semua warga disana beragama Islam.

Sehingga banyak warga disana melakukan makan dan minum di tempat umum. Hal ini berbeda sekali dengan di Indonesia masih menghormati mereka yang berpuasa.

“Di Malaysia terlalu bebas, orang disana tidak ada toler­ansinya menurut saya,” im­buhnya.

Selain iklim, makanan di Malaysia juga berbeda dengan di Indonesia dari mulai nama, bentuk dan rasa. Rasa yang di­tawarkan tidak masuk dengan lidah orang Indonesia. Jadi un­tuk memenuhi makanan saur dan berbuka Ricky lebih me­milih makanan yang berasal dari negara Indonesia.

Baca Juga :  Resep Membuat Cumi Asin Cabe Ijo

Kalau disini kan ada nasi bryani, nasi lemak, nasi kandar untuk ta’jil nya ada le­mang, kue-kue dan masih ban­yak lainnya.

Saya sih enggak suka den­gan itu semua makanya saya makan di kampung Indonesia yang menyediakan makanan khas Indonesia seperti Nasi Padang dan Soto Lamongan,” ujar pria Kelahiran Bogor 15 Agustus 1990 ini.

Dan biasanya kata dia, pada waktu sahur dan berbu­ka, mahasiswa asal Indonesia berkumpul untuk makan ber­sama. (*)