Ilustrasi-HikmahSEMENJAK Rasulullah wafat, Sahabat Bilal ibn Rabbah me­nyatakan bahwa dirinya tidak akan mengumandangkan adzan lagi. Ketika Khalifah Abu Ba­kar memintanya untuk menjadi muadzin kembali, dengan hati pilu nan sendu Bilal berkata, “Bi­arkan aku hanya menjadi muadzin Rasulullah saja. Rasulullah telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi.” Abu Bakar pun tak bisa lagi mendesak Bilal un­tuk kembali mengumandangkan adzan.

Kesedihan sebab ditinggal wafat oleh Rasulullah terus men­gendap di hati Bilal. Dan kesedi­han itu yang mendorongnya me­ninggalkan Madinah, dia bersama rombongan pasukan Fath Islamy berangkat menuju Syam, dan ke­mudian tinggal di Homs, Syria.

Sudah lama Bilal tak mengun­jungi Madinah, hingga sampai pada suatu malam, Rasulullah ha­dir dalam mimpi Bilal, dan mene­gurnya, “Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa ? Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku ? Mengapa sampai seperti ini ?”

Bilal pun bangun terperanjat, segera ia mempersiapkan perjala­nan ke Madinah untuk berziarah ke makam Rasulullah. Sekian ta­hun sudah dia meninggalkan Ra­sulullah.

Baca Juga :  NASIHAT GURU KITA PADA HUT KEMERDEKAAN RI KE 77

Setiba di Madinah, Bilal ber­sedu sedan melepas rasa rindu­nya pada Rasulullah, kepada Sang Kekasih.

Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa mendekat­inya. Keduanya adalah cucu Rasu­lullah Hasan dan Husein. Dengan mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua itupun memeluk kedua cucu Rasulullah tersebut. Salah satu dari keduanya berkata kepada Bilal, “Paman, maukah engkau sekali saja mengumandan­gkan adzan untuk kami ? Kami in­gin mengenang kakek kami.”

Ketika itu, Umar bin Khattab yang saat itu telah menjadi Khali­fah juga sedang melihat peman­dangan mengharukan tersebut, dan beliaupun juga memohon ke­pada Bilal

untuk mengumandangkan ad­zan, meski sekali saja. Bilal pun memenuhi permintaan itu.

Saat waktu shalat tiba, dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada masa Rasulullah masih hidup. Mulailah dia men­gumandangkan adzan. Saat lafadz Allahu Akbar dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Ma­dinah senyap, segala aktifitas ter­henti, semua terkejut, suara yang telah bertahun -tahun hilang, su­ara yang mengingatkan pada so­sok Nan Agung, suara yang begitu dirindukan itu telah kembali.

Baca Juga :  NASIHAT GURU KITA PADA HUT KEMERDEKAAN RI KE 77

Ketika Bilal meneriakkan kata ‘Asyhadu an laa ilaha illallah’, se­luruh isi kota madinah berlarian ke arah suara itu sambil berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar.

Dan saat bilal mengumandang­kan ‘Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah’, Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan. Semua menangis, ter­ingat masa-masa indah bersama Rasulullah, Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya. Bah­kan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya, lidahnya tercekat oleh air mata yang berde­rai. Hari itu madinah mengenang masa saat masih ada Rasulullah diantara mereka.

Hari itu adalah adzan pertama dan terakhir bagi Bilal setelah Ra­sulullah wafat. Adzan yang telah menerbitkan rasa kerinduan pen­duduk Madinah kepada Rasulullah. Adzan yang tak bisa dirampung­kan. Dan pada saat itu, Kota Madi­nah banjir oleh air mata kerinduan kepada Rasulullah. Allaahumma Sholli ‘Alaa Muhammad. (*)