Untitled-12PENGALAMAN sebagai bankir nyatanya memberikan dampak positif. Bagi Michael Rusli, pilihannya untuk menjadi bankir mem­buatnya paham apa itu bisnis. Berpuluh tahun berkutat dalam dunia perbankan menjadi modal baginya dalam berbisnis prop­erti, energi, dan yang paling terkenal, BigDaddy, sebuah bisnis dibidang entertainment. Apa yang didapatnya saat ini tidaklah mudah, semua dimulai dari nol.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Sejak masih 20 tahun, Michael sudah meniti karir di dunia perbankan. Dia benar- benar telah memulai dari level paling bawah. Dia bekerja sambil kuliah, bergelut salama 15 tahun, dari satu posisi ke posisi lain. Lalu karirnya menanjak tinggi di ABN Amro Bank. Dia berkisah ditunjuk jadi Presiden Direktur disana. Di tahun 2008 ketika ABN Amro berganti kepemilikan membuatnya tak lagi disana.

Dia lantas bekerja di sebuah perusahaan investasi asal Inggris, Flemming Family. Pengalaman sebagai bankir yaitu berkomunikasi dengan banyak pebisnis dan mama­hami mereka, Michael lantas memilih membangun usaha sendiri. Bisnis bernama Terra Capital didirikan pada tahun 2010. Untuk memodali bisnis pertama dia tak sendirian. Di­ajaknya dua patner kenalannya untuk berbisnis. “Tapi, saya yang menjalankan bisnis itu,” jelas suami Sarah Latief ini.

Jika beberapa pengusaha kelas atas memilih mengakui­sisi. Tidak bagi kisah BigDaddy, dikisahkannya, ini semua dari nol mendirikan usaha dibidang entertainment. Pria 38 tahun ini lantas menyebut usaha ini dimulai ketika dirinya membantu sebuah event. BigDaddy dimulai ketika dirinya membantu acara Disney on Ice itu sejak 2010. Lantaran ke­cewa dengan promotor sebelumnya, sang pemilik, Disney Indonesia itu langsung menunjuk BigDaddy.

Padahal itu baru sajalah dimulainya. Perjalanan Terra Capital setidaknya jadi alasan kuat bagi Disney. Tak tang­gung- tanggung, Michael menyebut mereka telah meneken kontrak tetap tujuh tahun. Dengan sangatlah matang ia menanamkan modal investasi disini. Salah satu investa­sinya yaitu membangun jaringan penjualan tiket. Memak­simalkan pendapatan, BigDaddy Production, mulai men­cari- cari artis untuk dipromotori. Dia menjelaskan ringan, “kebetulan, saat itu, konser musik lagi ramai.”

Baca Juga :  Lepas Status Janda, Laudya Chintya Bella Jatuh ke Pelukan Pangeran Arab

Konser Pertama

Pria kelahiran Jakarta, 2 November 1976, yang besar di Singapura dan Australia ini, mengaku tak sendiri mem­bangun BigDaddy. Ia menyebut sosok Arifin Wiguna, yang kebetulan pendiri Indika, pengusaha yang telah mapan melalui perusahaan berbasis hiburan. Tiap tahun BigDa­ddy teratur menjalankan dua acara Disney. Dari segi per­tumbuhan untung sangatlah bagus, usaha BigDaddy bisa bertahan walau ada kriris moneter 2008- 2009.

Ini lantaran tiga usaha jangka panjang ditangan mer­eka. Dari kontrak tujuh tahun dengan Disney Indonesia, ada usaha Livenation (agensi artis luar negeri) dan akade­mi sepakbola Liverpool kontrak selama sembilan tahun. Bisnisnya terbilang stabil bahkan menghasilkan kenaikan di akhir- akhir tahun hingga 25-35 persen. Kalau ditanya konser apa yang pertama dipromotori BidDaddy ialah konser Linkin Park. Tak tanggung- tanggung bermodal besar, mereka rela membeli sendiri sound system dari Kanada.

Michael menyatakan ini sudah jadi standar menggu­nakan system internasional. Tidak cuma itu BigDaddy juga menyediakan infrastruktur pendukung seperti gedung konser. Sound system yang mencapai berat dua ton. Lalu ada infrastruktur gedung konser dengan energi 1,2 juta watt. Saat konser Lingkin Park, kekuatan listrik yang dibu­tuhkan berkali lipat, dari umumnya saat itu cuma 400 ribu watt. Ia meyakinkan BigDaddy merupakan satu terbaik di­bidang sound system di Asia.

Baca Juga :  Ayah Temukan Kerangka Anaknya Tertimbun Pasir Pasca 8 Bulan Gunung Semeru Meletus

“Itu salah satu yang terbagus di dunia, dan sampai saat ini, baru kami yang memiliki sound system seperti itu di antara promotor Asia,” cetus Michael.

Umumnya usaha promotor macam ini mengalami ban­yak pilihan. Segmentasi serta jenis usahanya bisa jadi ber­beda- beda. Menjadi banyak aneka usaha, seperti gedung konser, penyedia sound sytem, dan juga untuk penjualan tiket konser apapun. Untuk livenation saja ia bisa menar­getkan angka Rp.250 milar. Pendapatan ini total didukung investasi besar dibidang infrastruktur.

Sepanjang 2010 tercatat ada lima konser selebriti du­nia. Bahkan bisa meningkat 12 kali dalam satu tahun di tahun berikutnya. BigDaddy melalui kepercayaan klub sepak bola asal Inggris, menjalankan akademi sepak bola Liverpool di kawasan Bumi Serpong Damai dan Senayan. Meski menjadi usaha besar disebutnya juga bukan kontri­busi terbesar. Apalagi yang bisa dikatakan seorang komi­soner PT. Trisurya Lintas Elektrikal dan CFO PT Trisurya Lintas Energi ini.

Pengusaha muda nan kaya raya yang merupakan lu­lusan Master of Commerce, Banking and Finance dari Monash University ini, baru saja dikabarkan menjadi komisaris Independen PT. Cipta Nushapala Persada. Dari usaha Terra Capital sendiri, perusahaan berbasis di Singa­pura merupakan pemilik saham terbesar dari Cipta Nush­apala atau Cipaganti. Dimana cabang usahanya beraneka ragam antara lain properti, keuangan, infrastruktur, dan pertambangan.

Anak perusahan dari Terra Capital mencakup PT. Bhuwanatala Indah Pratama Tbk. Yang terbaru dari Ter­ra capital membeli mayoritas saham di PT.Tekonindo, Perusahan Tambang nickel yang telah beroperasianal di Kabaena,sulawesi Tenggara.

(pengusaha)