new-matcha-ice-cream-fresh-goreng-gulung-thailand-roll-donughts-sundae-lover-chocolate-cappellosEs krim terus diminati banyak orang. Pria hingga wanita, anak-anak hingga orang tua, semuanya banyak yang kepincut dengan kudapan segar ini. Tak peduli musim hujan atau panas, es krim selalu diburu sebagai teman cemilan dalam segal suasana. Untuk itu, bisnis es krim seolah tak ada matinya. Banyak inovasi yang bermunculan agar konsumen tak bosan dalam menikmatinya. Seperti yang coba ditawarkan oleh Darren Nicholas yag mengusung brand Cappello’s Ice Cream. Seperti apa?

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Tak hanya menawarkan aneka jenis es krim dengan aneka rasa, Darren juga menyuguh­kan peluang usaha dengan sistem kemitraan. Dengan paket investasi senilai Rp 350 juta, mitra ditargetkan bisa mengantongi omzet Rp 75 juta per bulan. Mitra bisa balik modal dalam setahun.

Bisnis es krim kian menjamur. Ini ditandai dengan makin banyaknya pengusaha terjun ke bisnis ini. Un­tuk mengembangkan usahanya, banyak dari mereka menawarkan kemitraan. Salah satunya Darren Nicholas yag mengusung brand Cappello’s Ice Cream di Jakarta.

Gerai es krim ini sudah berdiri sejak tahun 2014 lalu. Awal tahun ini Cappello’s resmi menawarkan kemitraan usaha. Hingga saat ini, Cappello’s sudah memiliki tujuh ge­rai. Rinciannya dua gerai milik pusat dan lima sisanya mi­lik mitra yang berlokasi di Jakarta, Surabaya, dan Sidoarjo.

Cappello’s menyediakan menu utama es krim roll. Proses pembuatan es krim mulai dari bubuk, cair hingga beku dilakukan langsung di depan konsumen. “Jadi di­jamin segar karena langsung dibuat saat dipesan,” klaim Darren.

Es krim Cappello’s terdiri dari banyak varian rasa, sep­erti cokelat, stroberi, matcha, pretzel, milo, coffee moca, crisp corn flake, cicco taro, bluberi, dan rum raisin. Dar­ren bilang, dari semua varian rasa, yang paling banyak peminatnya adalah rasa stroberi karena ada ada buah stroberinya langsung. Harga es krim ini dibanderol mulai Rp 15.000-Rp 30.000 per porsi.

Dalam kemitraan ini, Cappello’s mematok biaya in­vestasi sebesar Rp 350 juta.Mitra mendapat fasilitas satu set booth, lisensi merek Cappello’s, peralatan membuat es krim, perlengkapan penyajian, seragam karyawan, training, dan peralatan promosi.

Kemitraan ini berlaku lima tahun. Setelah itu, mitra harus membayar biaya perpanjangan. “Tapi, itu nilainya tidak mahal dan bisa dinegosiasikan,” ucap Darren. Un­tuk standar rasa, mitra wajib membeli bahan baku dasar dari pusat. Sedangkan bahan topping bisa dibeli di toko bahan makanan terdekat.

Omzet Rp75 juta

Darren bilang, rata-rata gerainya bisa menjual 100 porsi es krim per hari. Dari penjualan tersebut, bisa men­gantongi omzet Rp 2,5 juta per hari atau Rp 75 juta-Rp 90 juta per bulan. “Dari omzet itu, biaya produksinya sekitar 30% dan margin 70%, ” jelas Darren.

Mitra diprediksi balik modal dalam satu tahun sampai dua tahun. Untuk lokasi, Darren hanya merekomen­dasikan lokasi di mal. Luas gerainya minimal 5 meter persegi dengan tiga karyawan.

Burang Riyadi, konsultan waralaba dari International Franchise Business Management (IFBM) mengakui, pel­uang bisnis es krim masih menjanjikan. Bisnis ini bisa balik modal cepat karena mar­ginnya lumayan besar.

Namun untuk bertahan dalam jangka panjang, ha­rus ada program inova­si yang berkelanjutan, terutama berkaitan dengan tampilan dan rasa. Selain itu, bisnis yang bisa bertahan juga bisa dilihat dari lamanya bisnis terse­but. “Rata-rata life cycle tren bisnis es krim itu 3 tahun-5 tahun saja. Maka balik modalnya maksimal 1,5 tahun,” katanya.

(KTN)