Untitled-5Bagi sebagian orang Indonesia, khususnya umat muslim, Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran sangat iden­tik dengan tradisi mudik, halal bi­halal, suka cita, kue lebaran dan lainnya. Namun, apakah makna sebenarnya dari Hari Raya Idul Fitri bagi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten, KH Ahmad Mukri Aji?

Baginya, Idul Fitri merupak­an puncak pelaksanaan puasa se­lama satu bulan penuh. Menurut­nya, hari terbesar umat muslim ini, erat dengan tujuan dan arti dari puasa, yaitu meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT.

“Idul Fitri adalah sebagai tanda jika kita sebagai umat mus­lim telah kembali bersih setelah ‘dicuci’ dengan segala bentuk ibadah di bulan ramadan. Setelah ramadan, manusia harus bebas dari penyakit hati, berwawasan luas, tidak picik batin, dan bebas dari iri hati,” ujar Mukri Aji.

Ia melanjutkan, dari puasa selama 30 hari, seharusnya umat muslim bisa memetik pelajaran bagaimana cara untuk memper­baiki perilaku serta ibadah yang sebelumnya tidak lengkap diluar bulan ramadan.

“Momen Idul Fitri itu untuk merubah sifat yang sebelumny arogan menjadi peduli akan ses­ama dan ikhlas membantu orang lain dalam hal-hal positif,” ung­kapnya.

Lebaran juga identik dengan segala sesusatu yang bersifat positif seperti menjalin silaturah­mi sebagai sarana membersihkan diri dari segala dosa yang telah diperbuat antar sesama manusia dan kepada Allah SWT.

bertautan antar sesama makhluk. Silaturrahmi tidak han­ya berbentuk pertemuan formal.

“Jadi ini bukan pertemuan secara formal. Saat lebaran, si­laturahmi sangat sederhana, bisa dengan menyambangi rumah ke rumah, saling mengenalkan dan mengikat kerabat dan saling duduk bercengkrama,” beber­nya.

Selain itu, Idul Fitri merupak­an hari raya dimana umat Islam kembali berbuka atau makan. Oleh karena itu, sunnah sebelum melaksanakan sholat Idul Fitri adalah makan atau minum meski hanya sedikit. Hal ini sebagai bentuk jika Hari Raya Idul Fitri 1 syawal itu waktunya berbuka dan haram untuk berpuasa.

(Guntur Eko Wicaksono)