Dr.H.-Helmi-Basri,-Lc,-M.AKHUTBAH PERTAMA

Ma`asyiral Muslimin wal Musli­mat Rahimakumullah

Puji dan syukur marilah senan­tiasa kita ucapkan kehadirat Allah SWT yang selalu melimpahkan ni`mat dan karuniaNya bagi kita dalam setiap saat, tidak ada satu detikpun hidup yang kita jalani kecuali pada saat itu ada ni`mat Allah yang menyertai kita, udara yang sedang kita hirup, darah yang masih mengalir di tubuh kita, de­nyut jantung yang tak pernah ber­henti, serta ni`mat-ni`mat yang lainnya yang takkan pernah bisa kita hitung jumlahnya. Itu artinya bahwa Allah SWT tidak pernah melupakan hambaNya meskipun sesaat, akan tetapi hambaNyalah yang selalu melupakan Dia, bah­kan sebagian dari hamba Allah itu justru menggunakan ni`mat yang diberikan untuk berbuat maksiat kepadaNya, untuk itu mari kita sadari dan kita renungkan, semo­ga kita tidak termasuk kedalam golongan tersebut, akan tetapi kita harus menjadi hambaNya ber­syukur agar ni`mat itu selalu bert­ambah bagi kita.

Allah SWT berfirman:

“Jika kalian bersyukur ter­hadap nikmatku niscaya akan aku tambah ni`mat tersebut, tetapi jika kalian kufur sungguh azabKu san­gatlah pedih” (Q.S. Ibrahim: 7 )

Shalawat dan salam juga har­uslah selalu kita perbanyak untuk Rasulullah SAW yang telah berjuang dan mengorbankan segala-galanya untuk kemaslahatan dan kebaha­giaan ummatnya, baik di dunia maupun di akhirat. Semoga saja kecintaan kita kepada Beliau selalu bertambah dan tak pernah pudar, dan kita berharap semoga ungkapan shalawat yang selalu membasahi li­dah kita itu membuat kita menjadi orang yang berhak mendapatkan syafa`atnya di Yaumil .

Ma`asyiral.

Hadirin wal Hadirat Rahimaku­mullah

Pada hari yang mulia ini umat Islam di barbagai belahan dunia beramai-ramai melantunkan kata-kata Takbir, Tahmid dan Tahlil sebagai wujud rasa bahagia dalam menyambut hari kemenangan. Mereka semua berbahagia kare­na sebulan penuh telah berhasil melawan hawa nafsu serta men­gisi detik-detik waktunya dengan berbagai macam bentuk kebaikan yang akan mendekatkan diri mer­eka kepada Allah SWT. Berpuasa di siang hari, shalat di malam hari, memperbanyak tilawah Al-Quran, berdo`a dan beristighfar, berinfaq dan bersedekah, menjalin hubun­gan silaturrahim, dan lain seb­againya, seraya berharap semua kebaikan tersebut diterima hen­daknya oleh Allah SWT dan dapat memperpanjang catatan amalan kebaikan kita yang akan diperli­hatkan di akhirat kelak.

Meskipun demikian ada satu hal yang harus diketahui bahwa kebahagiaan yang terpancar di raut wajah hari ini memiliki dua kemungkinan, sebahagian dari mereka ada yang berbahagia karena sedang menyambut ke­menangan dirinya sendiri, se­mentara sebahagian yang lain ada pula yang berbahagia tapi sekedar merayakan kemenangan orang lain. Dalam hal ini kita tidak dian­jurkan untuk menilai orang lain, kita hanya dituntut untuk mere­nungkan diri kita masing-masing apakah kita sekarang benar-benar sedang merayakan kemenangan diri kita sendiri, ataukah sedang berpura-pura bahagia dalam me­nyambut kemenangan orang lain. Kita semua berharap semoga Al­lah SWT memberikan kebaha­giaan yang sesungguhnya kepada kita bersama, amin.

Orang yang berbahagia ses­ungguhnya adalah mereka yang telah mendapatkan ampunan dan maghfirah Allah SWT karena telah memanfaatkan detik-detik Ra­madhan secara maksimal untuk berbagai bentuk kebaikan yang dilaksanakan atas dasar iman dan penuh harapan. Sesuai dengan sabda Nabi SAW:

“Siapa yang melaksanakan puasa Ramadhan dengan penuh iman dan mengharapkan pahala dan ampunan maka diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

Ma`asyiral muslimin Rahima­kumullah

Perbuatan dan amal baik yang sudah menjadi kebiasaan umat Islam untuk dilakukan selama Ramadhan diharapkan mampu membentuk karakter dan tabi`at mereka untuk berbuat hal yang sama setelah Ramadhan berlalu, janganlah pernah menjadikan Ramadhan sebagai topeng dalam kehidupan kita, tapi jadikanlah sebagai wajah asli kita dalam men­jalani sebelas bulan kehidupan berikutnya. Apabila selama Rama­dhan kita selalu menyempatkan diri untuk membaca Al-Quran, mendatangi masjid untuk shalat berjama`ah, bangun di sepertiga malam untuk sahur dan tahajjud, berempati terhadap fakir miskin, meneteskan air mata saat bermu­najat dan bersimpuh di hadapan Allah SWT, serta berbagai kebai­kan lainnya, maka janganlah sam­pai kebaikan-kebaikan tersebut menjadi wajah indah kita yang bersifat sesaat, akan tetapi jadi­kanlah ia sebagai perhiasan jiwa yang tetap bertahan dan terlak­sana setelah Ramadhan mening­galkan kita. Ketahuilah bahwa Tuhannya Ramadhan adalah Tu­hannya Syawwal juga, dan Tuhan sebelas bulan berikutnya.

Oleh karena itu hari raya idul fitri yang dijadikan sebagai agenda terakhir dari seluruh rangkaian ibadah Ramdhan pada hakikatnya bukanlah saat-saat berakhirnya peluang untuk mendulang kebai­kan, tapi justru sebaliknya bahwa idul fitri adalah saat awal memulai kehidupan baru dengan hati yang baru dan semangat yang baru pula.

Umar Bin Abdul Aziz berkata:

Hari raya itu bukanlah milik orang yang memakai pakaian baru

Akan tetapi hari raya adalah milik orang yang takut dengan hari pembalasan

Tidaklah hari raya itu buat yang memiliki kendaraan mewah

Akan tetapi hari raya itu buat orang yang dosanya terampuni

Imam Hasan Al-Bashri berka­ta: “setiap hari yang di dalamnya tidak ada kedurhakaan kepada Allah SWT maka hari itu adalah hari raya, dan setiap hari di mana seorang mukmin tetap berada dalam ketaatan Rabnya serta ber­zikir dan bersyukur kepadaNya maka bagi dia hari itu adalah hari raya”. Inilah hakikat Idul Fitri yang sesungguhnya, kembali ke­pada kesucian, meraih kemenan­gan dengan prestasi taqwa serta mempertahankan kesucian dan kemenangan tersebut di masa yang akan datang.

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah SWT.

Hari ini kita merayakan hari kemenangan itu, rahim Ramad­han telah melahirkan sosok-sosok dan pribadi muslim yang menang dan sukses, namun kemenangan seperti apakah yang akan diraih oleh umat Islam melalui ibadah Ramadhan?.

Ada tiga bentuk kemenangan bagi umat Islam:

Pertama, Kemenangan Spritual.

Kemenangan spiritual adalah kemenangan jiwa, jiwa yang menang adalah jiwa yang selalu ber­sih dan suci dari berbagai noda dan penyakit seperti syirik, sombong, hasad dan dengki, dan berbagai pe­nyakit hati lainnya yang diharapkan melalui Ramadhan dapat terkikis habis. Allah SWT berfirman:

Baca Juga :  MENDIDIK DENGAN HATI

“Sungguh telah menang dan beruntung orang yang mensuci­kan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya” (Q.S. Asy-Syams: 9-10)

Jiwa yang menang adalah jiwa yang selalu berupaya untuk membentengi diri dari berbagai bentuk penyimpangan dan pe­nodaan terhadap aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, dan itu adalah hakikat taqwa ses­ungguhnya yang ingin dicapai me­lalui ibadah puasa. Sesuai dengan firman Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beri­man diwajibkan bagi kalian untuk berpuasa sebagaimana yang telah diwajibkan kepada orang-orang se­belum kalian, semoga kalian men­jadi orang yang bertaqwa” (Q.S. Al- Baqarah: 183).

Taqwa adalah suatu kondisi iman dan semangat spiritual yang harus selalu terpatri dalam jiwa seseorang, agar secara ber­kesinambungan ia selalu mera­sakan kehadiran dan pengawasan Allah dalam setiap gerak langkah aktifitas yang dilakukannya, se­hingga dengannya ia termotivasi untuk tetap taat dan memper­banyak ibadah kepada Allah SWT. Sebagaimana ia juga akan selalu berusaha untuk menghindari duri-duri di jalan kehidupan. Beta­pa indahnya perumpamaan yang diberikan oleh Ubay bin ka’ab ke­tika beliau ditanya oleh Umar bin Khattab tentang hakekat taqwa. Ketika itu Ubay balik bertanya: “wahai Amirul mukminin, apa yang anda lakukan di saat anda melewati jalanan yang penuh duri? Umar manjawab: saya akan meneguhkan pandangan agar langkah kakiku tidak menginjak duri, lalu Ubay berkata: wahai amirulmukminin itulah taqwa.”

Apabila sifat taqwa itu sudah tumbuh subur dalam jiwa ses­eorang maka ia akan selalu rela dan senang hati untuk menerima dan melaksanakan aturan Allah, apapun konsekwensi yang akan dihadapinya, meskipun akan mengorbankan sesuatu yang pal­ing dia cintai, atas nama cinta ke­pada Allah dan Rosulnya. Jika itu berhasil ia lakukan maka saat itu ia sedang merayakan puncak ke­menangan spritualnya.

Semangat ketaqwaan seperti itulah yang diciptakan oleh ibadah puasa, karena dengan berpuasa seseorang dituntut untuk selalu dalam suasana jiwa yang dekat kepada Allah SWT, sebagaimana ia dituntut untuk menghargai waktu agar bisa meraih sekecil apa­pun peluang ibadah, serta meng­hindari sekecil apapun peluang dosa yang akan bisa mengurangi atau merusak nilai-nilai puasa. Bahkan dari yang mubah sekali­pun jika tidak mendatangkan man­faat apa apa. Oleh Karena itulah Rosulullah membahasakan bahwa “puasa adalah sebagai perisai.”

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah SWT.

Ada satu karakter jiwa yang ingin dibina oleh Ramadhan yaitu, jujur atau amanah. Ibadah puasa adalah ujian bagi kejujuran kita, tidak ada yang mengetahui kepas­tian orang yang berpuasa selain daripada Allah SWT, berbeda den­gan ibadah yang lain seperti shalat, haji, zakat dan lain sebagainya.

Kejujuran adalah satu kekua­tan yang terdapat dalam jiwa yang membuat pemiliknya mampu melakukan tugas-tugas besar yang diembankan kepadanya. Dengan kejujuran berbagai persoalan dalam hidup dapat diselesaikan, sebaliknya tanpa kejujuran ber­bagai problematika kehidupan akan selalu bermunculan. Oleh karena itu menghiasi diri dengan sifat jujur adalah satu tuntutan yang dibebankan kepada seluruh elemen masyarakat; pemimpin, pejabat, hakim, politikus, pen­gusaha, wartawan, kaum akade­misi, rakyat dan lain sebagainya.

Dalam kehidupan bermasyara­kat, berbangsa dan bernegara jan­gan sampai terjadi krisis kejujuran karena hanya akan melahirkan ke­hancuran demi kehancuran. Itu­lah fakta dan kenyataan; korupsi merajalela, keserakahan pejabat terjadi di mana-mana, pengang­guran susah diatasi, kesenjangan social dan penindasan rakyat ke­cil sudah menjadi pajangan kasat mata, ketidakharmonisan dalam kehidupan rumah tangga, dan lain sebagainya, itu semua beraw­al dari ketidakjujuran dan ketida­kadilan. Maka apabila pemimpin sudah mampu untuk jujur terha­dap rakyatnya, para pejabat jujur dalam mengemban amanah ja­batannya, para hakim jujur dalam menyelesaikan perkara persidan­gannya, para suami jujur dalam memimpin keluarganya, serta semua kita mampu untuk jujur terhadap diri kita sendiri, jujur kepada Allah dan jujur kepada masyarakat maka yakinlah keda­maian hidup pasti akan dirasakan, persoalan demi persoalan akan semakin dapat disingkirkan dari jalan peradaban, dengan demiki­an kita dapat menghiasi dinding-dinding harapan dengan penuh optimis dalam menatap masa de­pan diri dan bangsa.

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah

Kedua: Kemenangan Emosional

Ibadah Ramadhan akan mem­bimbing umat Islam menuju kemenangan emosional. Emosi adalah sifat perilaku dan kondisi perasaan yang terdapat dalam diri seseorang. Ia bisa berupa rasa in­gin marah, rasa takut, rasa cinta atau keinginan yang kuat untuk mencintai dan membenci, rasa cemas, rasa minder dan lain se­bagainya. Emosi yang menang adalah apabila ia terkendali, yang dalam istilah agama disebut den­gan sabar. Jika kita perhatikan teori tentang kecerdasan emosi yang dijelaskan oleh para ahli fsikologi, ternyata konsep kecer­dasan emosi ini berbanding sama dengan konsep kesabaran dalam Islam. Sabar dalam Islam bukan­lah satu kelemahan, tetapi sabar justru merupakan satu kekuatan. Di dalam Al-Quran dijelaskan bah­wa satu orang yang sabar mampu mengalahkan sepuluh lawan dalam pertempuran, atau setida­knya mereka mampu menghadapi lawan sebanyak dua kali jumlah mereka (QS 8: 65-66).

Ketika seorang bersabar dan dapat menahan amarahnya dalam menghadapi satu perkara yang ia hadapi maka dia bukanlah orang yeng lemah, akan tetapi justru dia adalah orang yang memiliki ke­cerdasan emosional yang tinggi. Dalam sebuah ungkapannya Ra­sulullah SAW bersabda: “ orang yang kuat bukanlah orang yang se­lalu menang dalam berkelahi, akan tetapi orang kuat adalah orang yang dapat menahan diri saat dia marah” (H.R Imam Al-Bukhari).

Kesabaran merupakan karak­ter yang sangat mulia dan ia bisa diraih dengan cara melatih dan membiasakan diri dengannya. Maka bulan Ramadhan merupak­an kesempatan yang besar bagi seorang Muslim untuk melatih ke­sabaran itu. Ia dilatih untuk men­gontrol jiwanya dari pengaruh hawa nafsunya. Dengan begitu ia bisa keluar dari bulan Ramadhan sebagai pribadi yang kuat dan pandai mengendalikan diri dan emosinya.

Keterkaitan antara puasa dengan membangun kecerdasan emosional begitu terlihat dalam penjelasan Rasulullah SAW yang mengatakan: “apabila seseorang sedang berpuasa lalu ada yang menghina dia atau mengajaknya untuk berkelahi maka hendak­lah ia mengatakan: saya sedang berpuasa, saya sedang berpuasa” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim). Dengan arti kata kondisi seseorang yang sedang berpuasa akan dapat menahan emosinya agar tidak membalas cacian dan dendam dengan perbuatan yang sama.

Baca Juga :  MENDIDIK DENGAN HATI

Ibadah puasa akan selalu membimbing umat Islam untuk dapat mengendalikan jiwa dan nafsunya dengan cara zikir dan syukur kepada Allah SWT. Jika se­seorang sudah mampu untuk sela­lu berzikir dan bersyukur, apalagi jika hal itu sudah menjadi bagian yang tak terpisah dari diri dan kehidupannya, maka itu adalah indikasi dari emosional yang ter­kendali, sehingga dengannya ia akan selalu menghadapi berbagai persoalan hidup dengan tenang dan percaya diri, dan itu adalah puncak kemenangan emosional.

Bandingkan dengan seseorang yang selalu lupa kepada Allah serta tidak mau bersyukur terha­dap karunia yang didapatkannya dari Allah, maka ia akan selalu dihimpit oleh berbagai problem kehidupan, khususnya problem kejiwaan yang tak jarang mer­eka selesaikan dengan cara mer­eka sendiri. Ada yang dengan cara bunuh diri, ada lagi dengan cara menelan obat2 atau pil yang mer­eka anggap akan mampu men­enangkan jiwa mereka, dan lain sebagainya. Maka ibadah puasa akan selalu berusaha untuk me­nutup rapat rapat pintu yang akan membawa seseorang menuju kekacauan emosional dengan cara zikir dan syukur tersebut.

Satu lagi pelajaran penting yang dapat ditarik bahwa ibadah puasa akan menghapus sekat-sekat pemisah antara yang kaya dengan yang miskin, semua mer­eka sama di hadapan Allah SWT, apa yang dirasakan oleh orang-orang miskin selama ini itu ju­galah yang dapat dirasakan oleh yang kaya saat ia berpuasa, maka puasa akan membangun jembatan untuk menyatukan perasaan an­tar sesama umat Islam tanpa me­mandang status social untuk sal­ing mencintai, saling membantu, dan saling berbagi. Mungkin Ini jugalah salah satu dari rahasianya kenapa zakat fitrah itu diwajibkan kepada semua orang, yang miskin sekalipun. Supaya semua kita, dan juga mereka yang biasa meminta-minta, pernah merasakan nik­matnya memberi, minimal sekali dalam setahun. Inilah salah satu bentuk didikan emosional yang kita dapatkan dari ibadah puasa.

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah SWT

Ketiga: Kemenangan Intelektual

Ibadah Ramadhan juga akan melahirkan sosok-sosok pribadi muslim yang menang secara in­telektual. Kemenangan intelektual ditandai dengan kecerdasannya dalam memahami realita yang selalu dapat memberikan keseim­bangan pada diri dan pemikiran.

Namun ada satu hal yang har­us kita pahami bahwa terminologi kecerdasan intelektual dalam Is­lam tidak berbanding sama den­gan teori kecerdasan yang dipa­hami oleh banyak orang. Selama ini banyak orang yang mengukur kecerdasan lewat pencapaian-pencapaian angka dalam batas tertentu. Sehingga sorang anak dikatakan cerdas apabila nilai rata-ratanya di sekolah Sembilan atau sepuluh. Seorang mahasiswa dianggap cerdas ketika ia sudah mampu menghapal banyak diktat perkuliahannya lalu menghasil nilai IPK tertinggi, begitu seterus­nya. Sementara di dalam Islam ke­suksesan dan kecerdasan diukur secara proporsional antara kwali­tas dan kwantitas. Kecerdasan ada pada mereka yang menempatkan ilmu di hati bukan sekedar di lidah dan retorika saat berdiskusi tapi tidak disertai dengan aksi. Rasu­lullah SAW bersabda:

Orang yang berakal (cerdas secara intelektual) adalah orang memperbudak dirinya sendiri dan selalu berbuat untuk kepentingan akhirat) (H.R. At-Tirmizi)

Dengan demikian seoarang anak dianggap cerdas bukan se­mata-mata karena ia telah meraih angka 9 atau 10, akan tetapi diu­kur sejauhmana pelajaran –pelaja­ran itu berpengaruh positif dalam kehidupannya. Seorang diang­gap cerdas bukan sekedar sudah mengetahui bahwa 1 kg itu sama dengan 10 ons, akan tetapi diang­gap cerdas ketika pengetahuan itu diterapkannya di saat ia men­jadi seorang pedagang. Sistem pendidikan seperti inilah yang diterapkan oleh Rosulullah SAW dalam mendidik para sahabatnya, sehingga beliau memutuskan un­tuk mengirim Mush’ab bin ‘Umair menjadi duta dakwah ke Madinah, padahal Mush’ab ketika itu bu­kanlah orang yang paling banyak hapalan alqurannya.

Kecerdasan intelektual dalam perspektif Islam ditandai dengan apabila :

Selalu bisa membedakan mana yang halal dan mana yang haram

Selalu mempertimbangkan an­tara manfaat dan mudhorat

Selalu mengerti akan hak dan kewaiban.

Kecerdasan seperti inilah yang selalu ingin dibina oleh iba­dah puasa pada setiap peribadi muslim. Karenanya puasa selalu menuntut kita untuk selalu hati-hati dalam bertindak, bersikap dan berucap, agar tidak menodai nilai-nilai puasa yang sedang dik­erjakan. Kalau tidak bisa maka se­seorang tidak akan mendapatkan apa- apa dari puasanya selain me­nahan lapar dan haus saja.

Inilah tiga kemenangan be­sar yang diharapkan dapat diraih secara nyata dalam setiap prib­adi muslim melalui pelaksanaan ibadah puasa. Sebagai seorang muslim yang setiap tahun melak­sanakan ibadah ramadhan harus selalu menginstropeksi dirinya di setiap penghujung hari rama­dhan, agar ia tahu apakah ia hari ini benar-benar berbahagia untuk dirinya, atau untuk orang lain. Intropeksi itu menjadi penting untuk dilakukan agar Ramadhan tidak sebatas rutinitas tahunan.

Demikianlah khutbah ini dis­ampaikan, semoga bermanfaat.

KHUTBAH KEDUA

Ma`asyiral Muslimin Rahima­kumullah

Di akhir khutbah ini khatib in­gin mengajak kita bersama untuk mempertahankan kemenangan yang sudah dicapai selama Rama­dhan, ibarat sebuah bangunan ia bagaikan sebuah istana megah yang mengagumkan maka jangan­lah diruntuhkan kembali, ibarat sebuah tenunan ia sudah menjadi pakaian yang sangat indah dipan­dang mata maka janganlah diurai kembali benang yang sudah dite­nun itu ketika Ramadhan berlalu meninggalkan kita. Inilah makna dari ayat yang terdapat dalam surat An-Nahl ayat 92 di atas: “ janganlah kalian seperti seorang perempuan yang menenun pakaian di pagi hari lalu sorenya diurai kembali” betapa sia sianya, betapa ruginya bahkan betapa celakanya kalau itu yang dilakukan.

Akhirnya marilah kita sambut hari kemenangan ini sebagai sanda­ran untuk memulai kehidupan baru dengan hati dan semangat yang baru, maafkanlah segala kesala­han lupakan segala kekhilafan agar semua kita mendapatkan ridha dan maghfirah dari Allah SWT, semoga kita semua diizinkan kembali un­tuk menikmati indahnya Ramdhan pada masa yang akan datang. Amin ya rabbal `alamin. (*)