20150117124538Pallet kayu biasanya hanya digunakan sektor pergudangan sebagai bantalan sebuah barang. Namun di tangan orang kreatif, pallet bukan lagi dianggap sebagai limbah tak berguna. Limbah tersebut kemudian didaur ulang menjadi mebel yang memiliki nilai jual. Lewat bendera usaha Someday Woodart, pemuda asal Bogor ini pun bisa meraup omzet hingga juta rupiah per bulan. Seperti apa?

Oleh : Apriyadi Hidayat

[email protected]

Kayu sebagai elemen dekorasi ruangan tetap menjadi pili­han karena mampu men­gubah tampilan sebuah ru­angan menjadi lebih alami dan memberi kesan kesejukan. Selain itu, kayu pallet bekas hasil kreasi unik ini juga memiliki nilai seni dan jual yang cu­kup tinggi.

Adalah Kuro. Pemuda yang berdomis­ili di Jalan Ciremai Ujung RT 02 / RW 10, Nomor 24, Bantarjati Kaum, Bogor Utara, ini memulai usaha pengolahan pallet kayu sejak awal Januari 2015. Ya, belum lama memang. Namun, nama Someday Woodart sudah cukup dikenal lantaran sejumlah proyek pernah dikerjakannya, mulai dari cafe, distro, mini skatepark hingga dekorasi kamar dan rumah.

“Tren kayu pallet untuk dekorasi se­benarnya sudah cukup lama. Tapi, akhir-akhir ini memang sedang booming. Keb­etulan di Bogor pemain usaha ini belum banyak. Jadi, saya lihat ini potensi yang cukup lumayan. Apalagi saya menyukai mengenai daur ulang atau recycle,” un­gkap Kuro kepada BOGOR TODAY, Kamis (20/8/2015).

Dalam memulai usaha ini, Kuro men­gaku tidak mengalami kesulitan yang cukup berarati, baik dari sisi modal mau­pun bahan baku. Untuk modal, Kuro memanfaatkan uang muka konsumen­nya dalam membeli bahan baku berupa pallet kayu jenis jati Belanda. Sementara itu bahan bakunya ia beli di sebuah lapak penjual pallet di Bogor.

“Kebetulan juga saya suka seni. Jadi untuk desain ya saya kreasikan sendiri. Tapi kalau konsumen minta dibuatkan seperti ini atau seperti itu ya saya laku­kan juga. Saya juga lihat referensi dari internet,” jelasnya.

Limbah pallet kayu kayu jati Belanda tersebut kemudian Kuro olah menjadi berbagai jenis mebel seperti gantungan baju, meja laptop, kursi dan meja ruang tamu, kafe, taman, mini booth, rak, le­mari, wall decoration, lampu hias, kitch­en set, ranjang, hingga gerobak.

“Yang pesen perorangan ada. Untuk keperluan komersil juga banyak, misal­nya cafe, distro dan lain-lain. Kayu dipilih sebagai dekorasi karena sifatnya netral bisa dicampur dengan desain apa aja,” kata dia.

Untuk memasarkan hasil karyanya, Kuro percaya bahwa kualitas membuat kon­sumen per­caya dan akan merekomendasikan kepada orang lain. “Selain itu, saya juga memanfaatkan instagram dan aktif di media sosial,” tandasnya.

Lantas, berapa banderolan harga un­tuk produk yang Someday Woodart ta­warkan? Kuro mengaku, masalah harga adalah salah satu kelebihan yang dimil­iki produknya. “Harga masih bisa nego lah. Yang jelas, nggak mahal diband­ingkan usaha sejenis lainnya. Misalnya, skatepark mini yang sedang dikerjakan ini Rp1,5 juta. Saya juga pernah meng­garap proyek cafe di Bogor budget-nya Rp80 juta. Bahkan ada proyek juga yang ratusan ribu,” beber dia.

Saat ini, Kuro masih memanfaatkan halaman rumahnya sebagai workshop. Ke depannya, ia mengaku ingin memi­liki galeri sendiri untuk memajang hasil karyanya. Yang lebih penting lagi, kata Kuro, ia ingin mempekerjakan banyak anak muda lewat usahanya itu.

(Apriyadi Hidayat)


1 KOMENTAR

  1. Terinspirasi gan dengan kreasinya. ane juga suka dengan pernak pernik kayu tpi blom bisa full action. kalau agan berkenan dan gak keberatan nge share cara olah kayu nya saya sangat berterima kasih dan pengen banget belajar. semiga agan sukses terus

Comments are closed.