Foto-Galeri-(4)UPACARA Peringatan Proklamasi Kemerdekaan RepublikIndonesia selalu membawa cerita haru dan bahagia bagi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka(Paskibraka). Begitu juga bagi para senior dan keluargayang mendampinginya. Sisi lain itu, tak bisa dilewatkan begitu saja.

Oleh: SELLY OCTARINA
PPI Kota Bogor 1989

Perayaan hari kemerdekaan tahun ini be­gitu istimewa, selain angka tahunnya yang ke-70 merupakan hasil penjumlahan dari 17+8+45=70. Pencapaian Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kota Bogor tahun ini juga begitu luar biasa. Selain berhasil mengirimkan dua orang ang­gotanya ke Tingkat Jawa Barat atas nama Nadia Ari­andyen, siswi SMK Negeri 3 Bogor dan Paskibraka ke Tingkat Nasional atas nama Rayandkhika Renarand, siswi SMA Negeri 10 Bogor, tim Paskibraka Kota Bo­gor juga diperkuat oleh 35 orang putra-putri pilihan yang luar biasa.

Pada saat malam ramah tamah dengan para ang­gota PPI Kota Bogor, Sabtu (15/08/2015) lalu di Aula Asrama Atlit Kanpora Kota Bogor, Hendra Gunawan (PPI 1982) sempat bertanya apa yang mereka dapat­kan dengan bergabung dalam tim Paskibraka. Den­gan lantang mereka menjawab: “Kebersamaan, Ber­jiwa kuat, Ketabahan, Cinta Tanah Air dan Bangsa, Rela Berkorban, Percaya Diri, Persatuan, Pantang Menyerah, Mandiri, Tegas!!” itulah 10 diantaranya.

Nilai-nilai tersebut mereka dapatkan dan rasakan mulai sejak pemilihan di tingkat sekolah, tingkat ke­camatan dan tingkat kota dengan melalui test kese­hatan, test integensia dan bakat. Setelah terpilih mer­eka harus melalui serangkaian pembinaan jasmani, kegiatan BMP (Basic Mental Program) dan kemudian dilatih untuk penaikan dan penurunan bendera. Jika dijumlahkan, kegiatan ini memakan waktu sekitar 5 bulan sampai ke pelaksanaan tugas pada 17 Agustus 2015.

Kegiatan ini diikuti oleh penulis sejak awal, karena salah seorang dari mereka adalah putri saya, Shafika Azmi Maulana. Berat dan seringkali ingin menyerah saat latihan membuat saya merasa ha­rus kuat memberi semangat. Saya acungi 4 jempol untuk para bunda PASKIBRAKA 2015. Selalu mem­bakar semangat anak-anaknya dan mendukung semua kegiatannya dengan tenaga dan do’a. Tugas semakin berat seiring dengan datangnya bulan suci Ramadhan dimana anak-anak tetap latihan sambil berpuasa. Tak jarang para bunda ini berbagi tawa dan tangis saat melihat beban tugas yang harus di­laksanakan, saling mengingatkan dan sama-sama berdoa untuk kelancaran tugas anak-anaknya.

Saya, PPI’89. Sebagai seorang ‘senior’ saya memi­liki kebebasan lebih untuk kerap kali bertemu anak-anak dalam masa pembinaan. Saat bunda yang lain cukup memperhatikan dari ujung lapangan dan tak jarang berlaku seperti intel atau paparazzi, saya bisa bebas mengabadikan gambar dan asyik berbincang mendiskusikan kemajuan pembinaan dengan para instruktur. Kebahagiaan dan kebanggan yang lebih barangkali ketika melihat putri saya menjejakkan kaki berbaris rapi di lapangan yang sama dengan saya 26 tahun yang lalu. Alhasil karena seringnya mengunjungi anak-anak latihan, semua anak me­manggil saya mami dan para bunda memanggil saya kuncen (penunggu) lapangan. Oleh karena itu saya tak ragu menganggap mereka semua anak-anakku dan para bunda menjadi saudara-saudaraku. Semoga persaudaraan ini tidak berakhir saat purnanya tugas anak-anak kita. Dan waktu yang ditunggu pun tiba, 17 Agustus 2015, pengibaran Bendera Merah Putih. Saat Bendera Duplikat Pusaka dibentang dan dinaikan dengan sempurna serta diturunkan dan disimpan untuk dinaikkan lagi tahun depan, disitu sebenarnya peran seorang Paskibraka dimulai. Paskibraka ha­rus mempertahankan nilai-nilai yang diberikan saat pembinaan, berperan sebagai putra-putri pilihan di masyarakat dan menjadi panutan, berbakti kepada orangtua, bangsa dan agama. Terimakasih para pembina dan instruktur atas bimbingannya selama ini. Dari para Pembina dan Instruktur keharuan pe­cah saat seusai penaikan bendera dan kebahagiaan terpancar saat setelah penurunan bendera. Tenaga dan pikiran yang ikhlas kalian berikan selama ini semoga menjadi amal baik dan mendapat Ridho dariNya, Aamiin.

Lalu, saat Kang Hendra yang dulu melatih saya memanggil untuk maju ke depan dan bertanya, ke­napa saya ingin anak saya menjadi seorang Paski­braka? Jawaban saya : “Agar semua nilai baik yang saya dapatkan di Paskibraka bisa dia rasakan, bukan diajarkan”