160142226BOGOR, TODAY — Menguatnya nilai tukar dollar Amerika Serikat (USD) mulai memukul pedagang dan pen­gusaha kecil di wilayah Jabodetabek. Salah sa­tunya produksi tempe dan aktivitas pedagang makanan. Sarmini (38), pedagang tempe di Pasar Anyar Kota Bogor, men­gakui, harga kedelai impor sebagai bahan baku tempe naik dari Rp 7.500 menjadi Rp 8.000 per kilo­gram dalam dua pekan terakhir akibat USD perkasa.

Untuk menyiasati kenaikan harga kedelai, Sarmini mengecil­kan ukuran tempe sehingga dia tak perlu menaikkan harga. Tempe seharga Rp 5.000 yang semula be­ratnya 5 ons dikurangi jadi 4,5 ons. “Kalau harga dinaikkan nanti da­gangan makin sepi. Sekarang saja omzet sudah turun dari biasanya Rp 500.000 jadi Rp 400.000 per hari,” kata dia.

Hal serupa dilakukan kalangan pembuat tempe dan tahu di ka­wasan Bogor Raya (Kota Bogor, Ka­bupaten Bogor, dan Kota Depok).

Ketua Primkopti Kabupaten Bogor Sukhaeri mengungkapkan, di wilayahnya ada hampir 1.000 pembuat tempe-tahu. Kebutuhan kedelai untuk produsen tempe-tahu di Bogor lebih dari 1.000 ton per bulan yang sebagian besar di­impor dari AS.

Baca Juga :  Residivis Kasus Narkotika di Bogor Diringkus, Polisi : Jaringan Aceh

Kekhawatiran harga kedelai mulai naik membuat produsen tempe-tahu di Bogor membuat produk lebih kecil 5 persen. Ada juga yang menurunkan produk­sinya.

Rubini (40), perajin tempe di Citeurep, Kabupaten Bogor, mengakui harga kedelai mulai naik. “Ada kenaikan harga dari Rp 6.800 menjadi Rp 7.400 per kg kedelai kualitas sedang dan dari Rp 7.400 menjadi Rp 8.200 per kg untuk kualitas bagus,” ucapnya, kemarin.

Meski harga kedelai naik, ia tetap mempertahankan harga jual tempe dengan konsekuensi peng­hasilannya turun. Menaikkan har­ga tempe, kata dia, tak bisa serta-merta dilakukan karena daya beli masyarakat loyo.

Ketua Pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Puskopti) DKI Jakarta Suyanto, menyam­paikan, gejolak harga kedelai saat ini memang belum parah karena belum mencapai harga kritis Rp 8.000 per kg. Namun, para pro­dusen menginginkan agar harga kedelai stabil sehingga produksi tempe dan tahu tetap berjalan.

Apalagi, menurut Suyanto, ke­butuhan kedelai di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi, un­tuk produksi tempe dan tahu men­capai 12.000 ton per bulan atau 400 ton per hari. Di tingkat nasi­onal, kebutuhan kedelai mencapai 132.000 ton per bulan.

Baca Juga :  Penyesalan Ardhito Pramono Memakai Narkoba : Menyesal Sangat Menyesal

Ketua Umum Gabungan Kop­erasi Tempe Tahu Indonesia Aip Syaifudin mengatakan, saat ini harga kedelai tak melonjak tinggi karena harga kedelai di bursa ke­delai AS sedang turun.

Namun, penurunan harga di AS itu hanya akan berlangsung hingga masa panen kedelai di neg­ara itu berakhir pada Desember. Memasuki Januari, harga kedelai di AS akan mulai naik. “Untuk menstabilkan harga, pemerintah perlu menyerap kedelai lokal se­hingga ketika harga kedelai impor naik pada Januari nanti sudah ada cadangan kedelai lokal dengan harga terjangkau,” ucapnya.

Selain pengusaha tempe dan tahu, merosotnya nilai tukar rupiah juga berdampak pada berbagai sek­tor lain. Ketua Umum Dewan Pimp­inan Daerah Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) Sarman Simanjorang menjelaskan, kenai­kan nilai dollar AS juga memenga­ruhi industri yang memanfaatkan bahan baku impor, seperti otomo­tif, logam, farmasi, dan elektronik.

(Yuska Apitya Aji)