IMG-20150529-WA0004Berangkat dari niat mulia ingin menciptakan lapangan pekerjaan, seorang pegawai di salah satu hotel mewah di Bogor rela berhenti dari pekerjaannya sejak 2014 lalu. Pemuda warga Cimahpar, Bogor Utara, Kota Bogor, ini kemudian terjun dengan mendirikan usaha masker penyaring udara dengan bendera TFD Daily Mask. Tidak seperti masker kebanyakan, TFD Daily Mask menyuguhkan banyak keunggulan, selain nyaman dipakai, filter penyaring udaranya pun bisa diganti dan dicuci. Seperti apa?

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Meningkatnya kandungan polusi udara di kota-kota besar, tak terkecuali di Bogor, membuat penggunaan masker oleh pengendara sepeda motor dan pe­jalan kaki meningkat. Fadli Fauzi (29) misalnya yang melirik peluang usaha masker tersebut.

Sebelum terjun ke usaha ini, Fadli merupakan salah seorang karyawan di sebuah hotel mewah di Bogor. Ia bertugas di bagian Food and Beverage. Sekitar lima tahun bekerja, jiwa wirausahanya pun muncul secara tiba-tiba. “Pilihan yang berat saat memutuskan untuk keluar dari pekerjaan. Dengan niat ingin membuka la­pangan pekerjaan, akhirnya saya putuskan untuk ber­henti bekerja,” ungkap Fadli kepada BOGOR TODAY.

Jiwa wirausahanya makin tumbuh saat ia melihat pengumuman Gerakan Seribu Wisarusaha (GSW) di media sosial, Facebook. “Saya gabung dalam gerakan itu. Saya disuru cari 15 ide usaha yang akan dikem­bangkan. Karena basic saya dari food and beverage, banyak ide usaha yang saya tulis berkaitan dengan ku­liner. Saya juga suka otomotif, saya catat juga ide usaha perlengkapan motor dan masker udara,” tandasnya.

Setelah di-review oleh pembimbing di GSW, Fadli kemudian ditugaskan untuk mengembangkan usaha masker lantaran memiliki keunikan. “November 2014 saya lakukan riset. Bisnis usaha masker ke depannya memang masih akan bagus karena polusi udara yang terus meningkat,” terang dia.

Kemudian Fadli membeli masker yang banyak dipakai masyarakat. Mulai dari model masker sekali pakai yang biasa digunakan untuk keperluan medis hingga masker dengan berbagai motif.

“Hasilnya, kalau yang sekali pakai tentunya akan menghasilkan limbah sampah. Terus masker yang ber­motif juga rupanya kurang baik bagi kesehatan karena menggunakan sablon yang ketika dihirup bisa bikin sesak,” katanya.

Tak berhenti sampai disitu, Fadli membeli masker lain. Setelah beberapa hari digunakan, ia membong­kar jeroannya. “Ternyata filter busa yang ada di dalam menghitam alias kotor,” imbuhnya.

Hasil riset itu, Fadli aplikasikan dengan membuat masker yang nyaman dengan filter yang bisa dilepas dan dicuci. “Akhirnya saya kembangkan model mask­er ini,” ucap dia.

Tak semudah seperti yang dibayangkan, Fadli pun melakukan banyak revisi dan evaluasi sebelum mask­er TFD yang ia buat dilepas ke pasaran. Tahap awal, ia membeli kain kemudian dibentuk menjadi masker.

“Saya tahap pertama buat dua lusin. Kemudian saya pakai sendiri, sisanya saya bagia­kan ke teman-temean dekat. Saya suru teman saya testimoni. Bahan kain yang digunakan ternyata membuat panas, busa yang dipakai pun membuat nafas sedikit ter­hambat, karetnya pun bikin sakit. Hasil terstimoni itu kemudian saya jadikan evaluasi. Saya ganti bahan, ganti bentuk,” beber dia.

Untuk bahan, kini Fadli menggunakan combed cot­ton 100 persen yang nyaman dipakai. Karetnya pun dimodifikasi. “Sudah 300 pcs saya produksi. Kemu­dian saya pasarkan di toko bikers dan toko akseosirs wanita. Saya yang terjun lanmgsung memasarkan se­cara kanvasing,” timpalnya.

Untuk harga, Fadli membanderol TFD Daily Mask dengan harga Rp15 ribu per pcs. Ia juga menerima resller yang akan diberikan harga khusus. “Sementara masih di Bogor saja. Ada beberapa pabrik juga yang menggu­nakan produk saya. Nanti kami akan rambah daerah lain. Pemasaran online juga akan dilakukan,” tandasnya.

Ke depan, Fadli juga akan melakukan inovasi den­gan masker yang memiliki aroma terapi. Bahkan, mer­ek dagang TFD juga akan digunakan untuk perlangka­pan otomotif lain, seperti jaket, protector, helm dan lain-lain.

(Apriyadi Hidayat)