IMG_20150903_193202MERASAKAN diskriminasi saat melamar kerja kesana-sini dirasakan oleh Thung Giok Eng alias Fransisca. Anak pertama dua bersaudara dari Thung Lian Eng ini mengaku kesulitan mencari kerjalantaran ia terlahir sebagai keturunan cina.

Oleh : Latifa Fitria
[email protected]

Kondisi perbedaan sikap terhadap kaum minoritas di Indonesia ma­sih sangat terasa, dari sejak ia lulus SMA tahun 2004 hingga detik ini beratus-ratus kali melamar kerja tak ada satupun perusahaan yang meneriman­ya. “Orang bilang banyak pe­rusahaan Bank swasta yang menerima keturunan cina, tetapi kenyataannya tidak. Dengan menggunakan izasah S1, saya masih sulit diterima kerja,” ungkap wanita yang akrab disapa Chika oleh teman-temannya.

Namun, tidak menutup ke­mungkinan banyak juga perusa­haan yang mendiskriminasikan kaum pribumi. Menurut pengakuan Chika dari pengalaman teman-temannya yang mus­lim dan berjilbab, banyak juga perusa­haan yang menolak pelamar kerja yang menggunakan kerudung.

Baca Juga :  Pria Paruh Baya Tewas Tertabrak Kereta, Diduga Sengaja Telungkup di Tengah Rel

“Saya pikir cina doang yang didis­kriminasikan, tetapi ternyata teman-teman saya yang berjilbab juga mera­sakan hal yang sama, biasanya mereka itu perusahaan cina yang menolak pegawai menggunakan kerudung,” paparnya.

Kesulitan mencari kerja disaat ia dan keluarganya membutuhkan pemasukan sangat merepotkan, na­mun itu bukan alasan baginya untuk tidak berusaha. Memulai bisnis online dari peralatan dokter hingga sendal ia jalani, hingga akhirnya ia sempat dijuluki “Ratu Online” oleh teman-teman dan pelanggannya.

“Habisnya, mau kerja saja susahnya setengah mati, mau jadi PNS enggak bisa. Yasudah saya usaha saja, kebetulan saya suka dengan dunia jeja­ring sosial online, jadi saya kembangkan semua. Hingga akhirnya saya mampu mem­biayain diri sendiri juga ke­luarga saya,” tutur wanita kelahira 24 Januari 1989.

Baca Juga :  Perumda Pasar Pakuan Jaya Kota Bogor Bakal Perketat Akses Peredaran Daging Sapi

Kondisi Chika, ibu dan adiknya sudah ditinggal lari pa­panya dari sejak kecil menempai ia menjadi pribadi yang tangguh, bahkan ia juga sempat mengalami kekerasan dari ibunya sewaktu kecil. “Dulu saya sempat marah kalau mami mukulin saya sebagai pelampiasan kekesalannya pelampiasan diting­gal papi. Tapi saya sekarang paham kenapa mami bersikap begitu, mami mengalami depresi saat itu, hingga mengharuskan ia untuk minum obat penenang sehari dua sampai tiga bu­tir,” tambahnya.

Kondisi keluarganya yang sem­pat carut marut dijadikannya filosofi dalam hidup.”Buat saya filosofi saya itu “jangan sampai mamai menan­gis”, buat oranglain sih itu filosofi yang aneh. Tetapi itu benteng per­tahanan hidup saya agar kokoh,” pungkasnya.