Untitled-7BOGOR, TODAY - Langkah Ke­menterian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemendikti) untuk membersihkan kampus-kam­pus abal-abal, yang menjual ijazah tanpa menggelar kegiatan perkuliahan, kem­bali digeber. Tim Evaluasi Kinerja Aka­demik Perguruan Tinggi Kemendikti menggrebeg kegiatan wisuda kampus swasta di Kampus Universitas Terbuka (UT), Pondok Cabe, Tangerang.

Tim khusus bentukan Menristek Dikti, Nasir itu mengambil langkah tegas. Mereka menggerebek acara wisuda abal-abal di kampus Univer­sitas Terbuka, Pondok Cabe, Provinsi Banten. “Mereka melakukan pembela­jaran kelas jauh dan setelah ditelusuri ternyata tidak ada pembelajaran. Jadi seperti jual-beli ijazah. Ini pelang­garan,” kata Ketua Tim Evaluasi Kinerja Akademik Perguruan Tinggi Supriadi Rustad di kampus UT.

Menurutnya, acara wisuda yang dilakukan Yayasan Aldiana Nusantara itu tanpa izin dari Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) dan tidak melapor ke pangkalan data pendi­dikan tinggi. Wisuda abal-abal tersebut diikuti beberapa perguruan tinggi, antara lain Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Telematika, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT), Sekolah Tinggi Ilmu Eko­nomi (STIE) Ganesha, serta Sekolah Tinggi Kegu­ruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Suluh Bangsa.

Yayasan Aldiana Nusantara selama ini melakukan pembelajaran kelas jauh. Ada yang di Sulawesi Selatan, Sopeng, Papua, Ambon, dan Nusa Tenggara Timur.

Dari penelusuran Tim Evaluasi, kelompok ini sudah tiga tahun melakukan pelanggaran. Supriadi menjelaskan peserta wisuda adalah warga yang kurang berpendidikan dan tidak tahu aturan. “Kami tanya, mereka tidak bisa menjawab dari kampus mana, hanya menun­juk spanduk acara saja,” ujar Supriadi.

Tanpa Nomor Induk Mahasiswa

Kementerian Riset, Teknologi dan Pendi­dikan Tinggi menemukan banyak kejanggalan dalam wisuda yang dilakukan Yayasan Aldiana Nusantara (YAN). Sebagian besar para peserta wisuda ilegal yang diadakan di Universitas Ter­buka itu tidak dicantumkan nomor induk ma­hasiswanya.

Jumlah peserta wisuda juga tidak kon­sisten. Berdasarkan keterangan ketua pani­tia penyelenggara wisuda, Mulyana, jumlah peserta wisuda adalah 987 orang. Namun pada laporan ketua yayasan jumlah peserta adalah 700 orang. “Artinya ada 200 orang yang diselun­dupkan, kok bisa-bisanya ya,” kata Anggota Tim Evaluasi Kinerja Akademik Perguruan Tinggi, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) Sugiyanto, kemarin.

Baca Juga :  Cerita Juru Parkir Jujur, Kembalikan Emas 50 Gram yang Tercecer di Parkiran

Data peserta wisuda juga simpang siur. Sugianto mencontohkan data daftar wisuda dari STT Telematika yang diterimanya ada 218 orang, sementara pihak ketua yayasan menye­but lebih dari itu.

Menurut Mulyana, Ketua Yayasan Aldiana Nusantara (YAN), data itu disusun oleh bagian keuangan yayasan. Mulyana menyebut data itu diurutkan berdasarkan pembayaran yang di­lakukan peserta wisuda dan tidak mengetahui detil peserta wisuda. “Diurutkan berdasarkan yang bayar, dan mungkin sudah berkoordinasi juga dengan yang lain. Saya panitia penyeleng­gara saja, jadi berdasarkan uang yang masuk ya kami kelola untuk acara ini,” kata Mulyana.

Kemenristek menyebutkan mahasiswa yang mengikuti wisuda abal-abal di gedung Universitas Terbuka, Pondok Cabe, Sabtu ke­marin, dikenakan biaya Rp 15 juta untuk satu orang. “Mereka bayar 15 juta,” kata Supriadi Rustad, Ketua Tim Evaluasi Kinerja Akademik, saat dihubungi Tempo pada Minggu pagi, 20 September 2015.

Pelaksanaan wisuda abal-abal ini, ber­dasarkan pantauan pihak Kemenristekdikti, telah berjalan selama 3 tahun. “Sebelumnya belum pernah ketahuan,” kata Supriadi.

Tim evaluasi yang baru dibentuk pada Mei 2015 ini mengindikasikan adanya kecurangan berdasarkan laporan masyarakat. “Kami ini kan tim yang baru dibentuk pada Mei 2015, kita mengkaji dari pangkalan data pendidikan tinggi lalu kroscek dari laporan masyarakat yang masuk,” katanya. “Kita melakukan inves­tigasi dan penyusupan.”

Supriadi juga mengakui, wisuda abal-abal serupa juga telah dilaksanakan pada 9 Sep­tember 2015 di gedung Manggala Wanabakti, Jakarta. “Kemarin tanggal 9 September juga ada wisuda semacam ini. Kampusnya beda, tapi masuk dalam satu jaringan sindikat dari beberapa perguruan tinggi.”

Baca Juga :  Gudang Kayu Terbakar, 2 Unit Mobil Turut Hangus

Kampus yang melaksanakan wisuda ilegal tersebut adalah Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yapan yang dinaungi oleh Yayasan Palapa Nusantara. Supriadi menerangkan ada 460 peserta wisuda pada tanggal 9 September itu, “Data yang diserahkan pada kami ada 460, ke­banyakan S2,” ucapnya.

Dini Nurul Hakim (22), mahasiswa S-1 teknik informatika dari Yayasan Insani Subang, Jawa Barat, yang mengikuti wisuda dari Yayas­an Aldian Nusantara tidak bisa menyebutkan secara jelas nama kampus tempat ia belajar.

“Di Subang saya kuliah di Yayasan Insani, pokoknya kami ikut pembelajaran di sana di bawah Yayasan Aldian Nusantara. Saya kuliah selama empat tahun, delapan semester, dan mendapat 144 SKS,” kata Dini, seusai mengi­kuti wisuda di Universitas Terbuka Convention Center, Tangerang Selatan.

Saat ditanyakan mata kuliah apa yang men­jadi favoritnya, Dini pun juga tidak jelas menye­butkannya bahkan ia tidak tahu mata kuliah yang ia sebutkan itu mempelajari tentang apa. “Apa ya, banyak deh pokoknya, yang lain saja deh pertanyaannya,” ujarnya menghindar.

Dini juga mengatakan bahwa saat ini han­ya wisuda saja, untuk ijazah belum diberikan Yayasan Aldian Nusantara karena alasan yang tidak jelas, ia hanya diberi tahu oleh pihak yayasan, ijazah baru bisa diambil tiga bulan kemudian. “Hari ini hanya wisuda, ijazahnya diambil tiga bulan lagi di Jakarta. Mungkin belum selesai pembuatannya dan nanti akan dikabari kembali oleh yayasan,” kata dia.

Selain kuliah, Dini juga bekerja di perusa­haan garmen sejak 2012 sampai sekarang. Dini yang berangkat dari Subang pukul 04.00 WIB ini mengaku kuliah pada Sabtu dan Minggu secara tatap muka. Sebelumnya, Supriadi Rus­tad, Ketua Tim Evaluasi Kinerja Akademik Per­guruan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, menemukan wisuda ile­gal yang diadakan oleh Yayasan Aldian Nusan­tara.

(Yuska Apitya Aji)