10730940_664540763644348_5120679297187087361_n

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Bisnis minuman dingin masih terus berkembang, seiring permintaan yang tetap tinggi. Apalagi saat ini tawaran varian minuman yang kian beragam, menambah daya tarik bagi konsumen un­tuk mencoba. Bisnis ini juga terkenal seb­agai bisnis yang bukan musiman, sehingga banyak pengusaha anyar yang tertarik bergerak di bidang ini.

Salah satunya adalah ChaCha Milk Tea besutan Pinpin Maryanto. Agar usahanya cepat berkembang, Pinpin memutuskan untuk menawarkan kemitraan usaha sejak akhir tahun 2014.

Hingga saat ini sudah beroperasi seki­tar 12 gerai yang tersebar di Yogyakarta, Semarang, Solo, Lampung dan Bengkulu. Rinciannya satu gerai milik pusat dan si­sanya milik mitra usaha.

Paket investasi yang ditawarkan sebe­sar Rp 250 juta dan Rp 450 juta dengan konsep resto. Fasilitas yang didapat mitra yaitu renovasi tempat, peralatan usaha, pelatihan karyawan, desain outlet. Perbe­daan fasilitas yang didapatkan dari segi ke­lengkapan peralatan dan desain lantaran luas tempat usaha yang berbeda. Untuk paket pertama, luas tempat usaha sekitar 100 m² dan paket kedua butuh tempat se­luas 150 m².

ChaCha Milk Tea menawarkan 58 var­ian produk dalam beberapa kategori yaitu milktea, smoothie, dan oriental dessert. Tersedia pula 14 jenis taburan yang bisa di­pilih seperti popping boba, rainbow jelly, tapioka pearl, sampai egg atau taro pud­ding. Pinpin mengklaim bahwa kelebihan ChaCha Milk Tea adalah tawaran varian rasa yang beragam serta topping cukup banyak. “Selain itu rasa produk kami ber­beda dengan yang lainnya,” kata dia.

Kerjasama usaha akan berlangsung se­lama dua tahun. Untuk biaya perpanjan­gan kerjasama akan dibicarakan selanjut­nya oleh dua belah pihak.

Harus Bisa Branding

Harga jual menu berkisar Rp 11.000 hingga Rp 16.000 per gelas. Target pen­jualan tiap gerai sekitar 200 gelas per hari, sehingga omzet yang bisa diraup mencapai Rp 90 juta per hari. Setelah dikurangi bi­aya bahan baku, sewa tempat, gaji pegawai dan biaya operasional lainnya, mitra ma­sih bisa meraup laba sekitar 20%. Sehingga target balik modal sekitar 1,5 tahun.

Pinpin mengatakan, pengeluaran un­tuk pembelian bahan baku sekitar 40%- 50% dari omzet. Sekitar 80% bahan baku biasanya mitra pasok dari pusat.

Erwin Halim, Pengamat Bisnis dari Proverb Consulting mengatakan, prospek usaha minuman dingin masih bagus di Indonesia, karena bisnis ini juga bukan bisnis musiman cocok dengan iklim di Indonesia. Yang harus diperhatikan oleh calon mitra usaha adalah dukungan induk usaha khususnya dari pemasaran produk atau ketika ada pembukaan cabang baru. “Bagaimana mereka melakukan branding di masyarakat,” ucap Erwin.

Sementara untuk perhitungan proyeksi keuangan dan target balik modal masih terbilang wajar, asalkan tempat usaha strategis. (KTN)