Foto : Net
Foto : Net

BOGOR, TODAY — Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, Bogor menduduki peringkat pertama deflasi di tingkat nasi­onal dengan presentase penu­runan harga rata-rata 57 persen.

Kepala BPS, Sur yamin menjelaskan, deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya indeks kelompok pengelu­aran, yaitu kelompok bahan makanan 1,06 persen.

Beberapa komoditas yang men­galami penurunan harga pada Oktober 2015 antara lain cabai merah, daging ayam ras, cabai rawit, telur ayam ras, jengkol, kacang panjang, ketimun, cabai hijau, tarif listrik, bahan bakar rumah tangga, dan bensin.

“Cabai merah perubahan harga 26,6 persen, pasokan melimpah, di 75 kota IHK. Penurunan tertinggi ter­jadi di Bogor sampai 57 persen dan di Bulukumba sampai 56 persen. Jadi bobotnya 0,37 persen, andil dalam in­flasinya minus 0,13 persen. Ini cabai itu suka jadi masalah dulu, mudah-mudahan sekarang dikontrol terus itu sudah bagus,” kata Suryamin di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (2/11/2015).

Berikut rincian penyebab deflasi:

*Daging ayam ras, perubahan harga 5,34 persen. Bobot 1,16 persen lebih tinggi dari cabai, andil terhadap inflasi -0,07 persen. Ini akibat turunnya harga di tingkat distributor, akibat juga pa­sokan cukup tinggi. Penurunan terjadi di 76 kota IHK. Penurunan tertinggi di Tanjung Pandan 22 persen dan Banda Aceh 19 persen.

*Cabai rawit, perubahan harga 32,64 persen dengan bobot 0,14 persen, an­dil terhadap inflasi -0,07 persen. Pa­sokan banyak melimpah, akibat tidak hujan, pertumbuhan cabai bagus. Penu­runan terjadi di 72 kota IHK, tertinggi di Sumenep 73 persen dan Bogor 70 persen.

Baca Juga :  Resep Rujak Buah Bumbu Kacang Simpel dan Bikin Ketagihan

*Telur ayam ras, perubahan harga 5,52 persen, bobot 0,67 persen, an­dil terhadap inflasi -0,04 persen. Aki­bat turun harga di tingkat distributor. Penurunan terjadi di 75 kota IHK, penu­runan tertinggi di Jember 17 persen dan Bogor 15 persen.

*Tarif listrik, perubahan harga 0,31 persen, bobot 3,42 persen, andil terha­dap inflasi -0,01 persen. Terjado penu­runan di 80 kota IHK, penurunan terting­gi di Pontianak 0,8 persen, ada pula yang tidak menurunkan yang dikelola oleh Pemda seperti di Batam dan Tarakan.

*Bahan bakar rumah tangga, gas, pe­rubahan harga 0,38 persen, bobot 1,79 persen, andil terhadap inflasi -0,01 pers­en. Terjadi penurunan di 54 kota IHK, tertinggi di Lhokseumaweh dan Pare-Pare 5 persen dan Singkawang 4 persen.

*Bensin untuk Pertamax, perubah­an harga 0,18 persen, bobot 3,9 persen, andil -0,01 persen. Terjadi penurunan di 72 kota IHK, tertinggi Bandar Lam­pung dan Tarakan sampai 0,7 persen.

*Solar turun 2,26 persen, bobot 0,17 persen, andil -0,004 persen.

Sedangkan komoditas yang men­galami kenaikan harga, yaitu beras, to­mat sayur, wortel, tomat buah, bawang merah, bayam, jeruk, bawang putih, mie, rokok kretek, rokok kretek filter, tarif kontrak rumah, upah tukang bu­kan mandor, dan mobil. “Pada Okto­ber 2015 kelompok pengeluaran yang memberikan andil atau sumbangan de­flasi, yaitu kelompok bahan makanan 0,22 persen,” imbuh Suryamin.

Sedangkan kelompok pengeluaran yang memberikan andil atau sumban­gan inflasi, yaitu kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,07 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,02 persen; kelompok sandang 0,02 pers­en; kelompok kesehatan 0,01 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,01 persen; dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,01 persen.

Baca Juga :  Resep Kue Nona Manis Pandan Legit di Mulut

Berikut rincian penyebab inflasi:

*Beras naik 0,76 persen, bobot 3,92 persen, andil dalam inflasi 0,03 persen. “Ini akibat sudah berkurang pasokan akibat musim kemarau dan ga­gal panen di beberapa daerah. Terjadi peningkatan di 62 kota IHK, tertinggi di Batam sampai 11 persen dan di Bungo 4 persen,” ungkap Suryamin.

*Tomat sayur, perubahan harga 20,53 persen, bobot 0,17 persen, andil dalam inflasi 0,03 persen. Terjadi kenai­kan di 62 kota IHK, tertinggi di Ternate 165 persen dan Gorontalo 100 persen.

*Wortel perubahan harga 18,26 persen, bobot 0,11 persen, andil dalam inflasi 0,02 persen. Terjadi di 76 kota IHK, tertinggi Jambi dan Gorontalo 63 persen, Watampone 62 persen.

*Tomat buah perubahan harga 23,14 persen, bobot 0,07 persen, andil dalam inflasi 0,02 persen. Terjadi kenaikan di 49 kota IHK, tertinggi Lhokseumaweh 107 persen dan Pare-Pare 87 persen.

*Bawang merah kenaikan harga 4,17 persen, bobot 0,38 persen, andil terhadap inflasi 0,02 persen. Terjadi di 65 kota IHK, tertinggi di Cirebon 31 persen dan Tegal 19 persen.

“Bawang putih, mie instan, rokok kretek, rokok kretek filter, tarif kontrak rumah, upah tukang bukan mandor, harga mobil masing-masing andilnya 0,01,” tandas Suryamin.

(Yuska Apitya Aji)