Untitled-11Bingung mau memulai usaha selepas lulus kuliah? Mungkin perlu membaca cerita pengalaman Raisa Amelia dan Quinta Normalita membangun usaha kecil-kecilan dengan berjualan hijab. Setelah hampir dua tahun menekuni usaha ini, dara kembar ini mulai menikmati hasil kerja kerasnya.

Oleh : Alfian Mujani
[email protected]

Dua tahun silam, ketika Quinta baru lulus dari jurusan Arsitek Lanskap fakultas Pertanian IPB Bogor, dit­anya ibunya akan usaha apa sebe­lum mendapat pekerjaan yang tepat. Quin, panggilan Quinta (24) menyatakan akan berdagang. ‘’Mau dagang sepatu di toko online,” katanya. Ibunya lantas memberikan modal Rp 3,5 juta.

Quin lantas menelepon kembarannya, Raisa Amelia yang masih kuliah di Fisip UNS Solo. Mere­ka kemudian sepakat memulai usaha kecil-kecilan dengan modal hanya Rp 3,5 juta itu. Dua saudara kembar ini berbagi tugas. Quinta bertugas belanja barang. Raisa bertugas membuat instagram dan sosial media lain yang bisa dimanfaatkan untuk jualan. Raisa juga bertugas ngurus keuangan.

‘’Tetapi usaha jualan sepatu lewat toko online gagal. Hasilnya tidak memuaskan. Ordernya kecil, kalah saing oleh toko online besar yang juga men­jual produk-produk fashion termasuk sepatu,’’ kata Quin.

Seiring dengan trend berhijab di kalangan anak-anak muda kian populer, Qunta dan Raisa sepakat untuk mengubah barang dagangannya. Quin yang memiliki pengetahuan di bidang arsitek mulai membuat rancangan hijab alias kerudung yang diperkirakan banyak diminati konsumen. Dia juga mengamati trend hijab dari internet dan media. ‘’Yang paling banyak diminati kerudung segi empat dan pasmina alias shal,’’ katanya.

Baca Juga :  Merawat Tradisi Membuat Dandang Nasi

Lagi-lagi dua saudara kembar ini berbagi tugas. Kali ini Quin yang bertugas mendisain, menja­hit, dan belanja bahan. Raisa yang masih kuliah hanya mengurusi keuangan. Sekali-kali juga men­cari bahan kerudung yang tidak ada di Jakarta dan Bandung, tetapi ada di pasar-pasar tekstil di Solo. ‘’Sering kali harga kain di Solo lebih murah dari Jakarta dan Bandung,’’ katanya.

Di luar dugaan, bisnis hijab di toko online yang diberi nama @Twinstores ini ternyata berkem­bang pesar. Pesanan yang semula hanya dari teman-teman, kini datang dari berbagai penjuru mulai dari Aceh, Riau, Lampung, Banten, Kali­mantan, Malaysia dan bahkan ada juga dari Singa­pura. ‘’Pesanan dari Malaysia sering dalam jumlah cukup banyak,’’ ujar Raisa.

Setelah hampir dua tahun, Twinsores yang juga membuka toko online Twinhijab, memiliki omset berkisar Rp 60.000.000 – Rp 100.000.000 perbulan. ‘’Marginnya lumayan,’’ kata Quin yang kini menjadi pegawai negeri di Pemkot Tangerang Selatan.

Baca Juga :  Merawat Tradisi Membuat Dandang Nasi

Karena Quin menjadi pegawai negeri, kini bis­nis Twinstores ditangani Raisa. Pengembangan jaringannya semakin luas. Bukan saja melayani pembelian eceran dan grosiran, Twinstores juga memberikan kesempatan kepada siapapun yang ingin menjadi reseler alias agen penjualan di dae­rah masing-masing. ‘’Harga untuk reseler dan eceran berbeda. Pastinya reseler lebih murah karena jumlah pembeliannya banyak,’’ kata Raisa.

Apa Tipsnya?

Menurut Raisa, tida ada kiat atau tips khusus dalam menjalankan usaha kerudung lewat toko online ini. Semuanya berjalan mengalir begitu saja. ‘’Yang kami pikirkan betul adalah kualitas bahan dan kualitas jahitannya. Dengan memper­hatikan kualitas bahan dan kualitas jahitan, saya berharap pelanggan puas,’’ katanya.

Soal harga, sangat relatif. Harga murah bisa saja menjadi daya tarik konsumen. Tetapi jika ter­lalu murah juga calon pembeli ragu, karena pada akhirnya yang bicara adalah kualitas produk. ‘’Saya cenderung memberi harga yang rasional. Misalnya, margin diusahakan tidak melebihi 30% agar tetap kompetitif di pasar,’’ kata Raisa.

Yang lain, lanjutnya, modal utama usaha ini, mungkin usaha apapun, adalah keberanian memulai dan keyakinan dengan pilihan produk yang akan dipasarkan. ‘’Dengan keberanian memulai dan keyakinan pada pilihan produk, maka kita akan serius mencintai pekerjaan ini,’’ ujar Raisa. (*)