Untitled-14BOGOR, TODAY – Dewan Pendidikan (Wandik) Kota Bogor memberikan solusi untuk mendong­krak mutu pendidikan le­wat pengembangan objek karya siswa.

Selama ini, sekolah merupakan rumah kedua bagi seorang pelajar den­gan peranan sebagai part­ner dan pembimbing.

Banyak cara yang di­lakukan lembaga pendidi­kan untuk mencetak atau­pun mendorong siswanya agar lebih berprestasi, salah satunya dengan memfasilitasi sebuah objek ciptaan murid.

Dewan Pendidikan pun menggelar workshop di Kantor Sekretariat Dewan Pendidikan, Jalan Julang, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor.

“Acara ini bertujuan memberikan wawasan serta arahan kepada para sekolah, terutama pimpinan SMK. Di­mana kebanyakan dari murid mereka memang ditempa untuk menjadi en­trepreneur muda. Maka dari itu kami menggelar kegiatan ini,” jelas Ketua Dewan Pendidikan Kota Bogor, Apendi Arsyad.

Baca Juga :  Uji Kemampuang Santri, MDT Al Haya Gelar Imtihanussanah

Dosen Universitas Djuanda itu melanjutkan, dalam workshop ini. pihaknya juga mengundang perwakilan pimpinan dari sekolah menengah atas se-Kota Bogor, ditambah seorang narasumber sekaligus motiva­tor muda Rizky Irawan.

“Karena melihat dari hasil selama ini, dirasa lulusan pe­lajar sekarang kurang berkara­kter. Entah apa yang mem­pengaruhi keadaan tersebut sehingga banyak dari mereka masih mencoba mencari jati diri ataupun arah kemana dirinya harus melangkah, be­lum tahu mau berbuat apa,” tuturnya.

Dalam pembawaan materinya Riz­ky mengatakan, bahwa kebanyakan konsep pengajaran di sekolah mengah­ruskan murid mengahafal pembelaja­ran, bukannya mengeksplorasinya.

“Padahal jika kita berani membe­baskan siswa untuk mendalami ma­teri pelajaran dengan gayanya sendiri, maka akan menghasilkan seorang ahli dalam satu bidang di masa depan bu­kan lulusan penghafal,” tandasnya.

Baca Juga :  Guru Honor di Bogor Terima Kenaikan Insentif  

Dalam workshop tersebut banyak guru dari berbagai sekolah SMA/SMK yang terlihat antusias dalam menyimak serta mencerna materi masukan pem­bahasan dari narasumber, ataupun de­wan pendidikan sendiri.

Kebanyakan guru kesulitan mengerti serta memahami kondisi pe­nyebab tingkah laku para siswanya, lantaran memang itu dipengaruhi dari banyak faktor, mulai dari lingkungan, keluarga, pribadi, hingga mindset si anak terhadap kehidupannya.

“Maka dari itu kita sebagai in­stansi pendidikan sudah seharusnya mengerti kondisi si anak sendiri. Dengan cara pendekatan individual, karena cara itu bisa dinilai ampuh, karena bersentuhan langsung den­gan murid, ditambah masukan nilai agama, serta edukasi moral lainnya. Maka niscaya siswa tersebut akan lebih berkarakter dari sebelumnya,” ucap Rizky.

(Latifa Fitria)