DSC_1140‘MANUSIA boleh berencana, tetapi Tuhan yang menentukan’, kalimat bijak ini menggambarkan pengalaman pahit yang pernah dialami oleh Agus Salim, Coordinator Sales Institu­tion Faber-Castell area Bogor. Agus yang berdarah Cina, Arab, Betawi dan Gorontalo ini mengungkapkan kegagalan pernikahan yang membuat ia merasa sangat terpuruk kala itu terjadi di hidupnya.

Oleh : Latifa Fitria
[email protected]

Kenyataan pahit itu tepatnya ter­jadi pada tahun 2003, apalagi saat itu keempat putri Agus den­gan istrinya masih anak-anak, bahkan putri bungsunya masih bayi. “Dalam hati saya tidak ingin berpisah, tetapi saya juga tidak mau menghambat keinginan dia. Jadi dengan berat hati saya menerima. Lalu saya juga tidak mau rebutan hak asuh anak, karena saya tidak mau ada konflik,” tutur pria kelahiran 11 Agustus 1965 ini.

Baca Juga :  Resep Masakan Gulai Kambing Sedap, Empuk dan Juicy

Meski Agus mengaku sangat terpukul dan terpuruk saat itu, rasanya ia tidak perlu larut dalam fase kegalauannya itu terlalu lama. Hitungan bulan ia menata kembali serpihan hati dan kepingan hidup yang ia miliki, meski­pun ia tidak tinggal bersama anak-anaknya, tetapi Agus berusaha untuk memantau anak-anaknya. “Saya pikir anak-anak akan nya­man tinggal bersama ibunya, tetapi malah kebalikannya. Anak-anak diterlantarkan ibu­nya, sampai ada yang tidak disekolahkan,” ujarnya.

Marah saat mengetahui kondisi anaknya, Agus spontan mengambil alih hak asuh puteri-puterinya, dan memutuskan mengu­rusnya seorang diri. “Saya harus jadi ayah sekaligusibu untuk mereka, awalnya saya khawatir tidak bisa, tetapi ternyata saya bisa melalui dan menikmati semuanya. Sampai akhirnya anak-anak saya tumbuh besar dan mereka sekolah hingga ke jenjang bangku ku­liah,” tambah dia.

Baca Juga :  Resep Masakan Sup Pangsit Ayam Jamur

Bagi pria yang gemar berolahraga ini, mengurus keempat anak-anaknya seorang diri jauh lebih nyaman ketimbang ia harus sibuk mencari pasangan sebagai ibu baru un­tuk anak-anaknya. “Anak-anak belum tentu cocok dan belum tentu juga wanita itu mau menerima kondisi saya dan anak-anak saya,” imbuhnya.

Baginya, menanamkan filosofi ‘let it flow’ dan menjalankan segalanya dengan senang hati adalah jawaban dari segala rintangan. Karena dengan hati yang bahagia, semua kes­ulitan akan terasa ringan dan menyenangkan.