Untitled-17PERTUMBUHAN ekonomi tahun ini diperkirakan akan berada di bawah 5%. Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan pertumbuhan ekonomi 2015, berada di kisaran 4,7% sampai 4,8%.

YUSKA APITYA AJI
[email protected]

Dalam kajian BI tadi, kalau kita ikuti pertumbuhan di kisaran 4,7% sampai 5,1%. Tetapi, bila didalami lagi memang berada di kisaran 4,7% sampai 4,8%,’’ ujar Agus saat konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur di kantor BI, Selasa (17/11/2015).

Selain itu, untuk laju inflasi, menurut Agus, masih sesuai target. Bahkan, ada potensi inflasi tahun ini di bawah 3%. “Dengan masuk di November itu base effect nya sudah tidak lagi berdampak, dan kelihatannya bisa mencapai kondisi inflasi yang lebih rendah. Tentu, ini masih perlu dilihat sampai akhir November dan sepanjang 2015,” kata Agus.

Agus menambahkan, untuk current account deficit atau defisit transaksi berjalan pada 2015 diperkirakan sebesar 2,1% GDP. “BI secara umum tetap akan menjalankan pengelolaan moneter secara prudent dan konsisten, dan kita melihat pelaksanaan kebijakan moneter itu terus menjaga stabilitas nilai tukar, menjaga ketersediaan valas, dengan mengelola supply and demand,” kata mantan Direktur Utama Bank Mandiri itu.

Tahan Suku Bunga Acuan

BI juga memutuskan untuk kembali menahan tingkat suku bunga acuan di 7,50%. BI Rate belum juga berubah sejak awal tahun ini. “RDG (Rapat Dewan Gubernur) BI pada 17 November 2015 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di 7,50%, Deposit facility 5,50 %, dan Lending Facility 8,0%,” kata Agus.

Sementara itu, BI memutuskan Giro Wajib Minimum Primer dalam rupiah berubah dari 8% menjadi 7,5% berlaku efektif sejak 1 Desember 2015. “Inflasi akan terjaga di batas bawah sasaran 4% plus minus 1%, dan CAD (current account deficit) yang berada d kisaran 2%,” kata Agus.

Baca Juga :  Tinjau Lokasi Bencana Plt Bupati Bogor Siapkan Huntap, Segini Anggarannya

Agus menjelaskan, alasan utama keputusan ini didasarkan pada perkembangan ekonomi dunia, tekanan keuangan global, dan kemungkinan risiko terburuk lainnya.

“BI Rate yang kami tetapkan sama. Ini adalah tentu putusan BI menghadapi perkembangan khususnya ekonomi dunia, tekanan keuangan global dan kemungkinan risiko terburuk,” kata dia.

Agus mengatakan, bila melihat BI Rate 7,50% di Oktober 2015, aliran dana dari luar negeri tetap masuk ke Indonesia.

“Kami sudah perhitungan dan kajian dan dampak dari pada kebijakan ekonomi di negara-negara pertama di dunia. Termasuk kenaikan fed fun rate. Di samping juga fundamental ekonomi yang menunjukan perbaikan,” ujar Agus.

Dia menambahkan, BI saat ini mewaspadai perkembangan risiko keuangan global dan pertumbuhan ekonomi global. “Keuangan global itu adanya kemungkinan peningkatan fed fund rate, dan kemungkinan itu tinggi di 2015. Kemudian, ada divergensi kebijakan yang diambil untuk kebijkaan di Eropa, Jepang, dan China. Di mana negara-negara itu terus melakukan kebijakan quantitative easing, khususnya Eropa dan Jepang,” ungkapnya.

“Sementara China ada rencana untuk internasionalisasi remimbi dan membuka capital account-nya akan bawa konsekuensi keuangan global. Adapun ini lebih bagaimana tekanan atau penyesuaian ekonomi China dan cenderung lebih pelan dan ada periode mengalami kondisi yang melambat,” tutup Agus.

Harusnya BI Rate Turun

Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menilai suku bunga acuan atau BI rate seharusnya turun seiring dengan inflasi yang terkendali. Suku bunga yang rendah dibutuhkan untuk mendorong ekonomi yang tengah dalam perlambatan, seperti yang terjadi sekarang. “ Bunga harus turun, karena bunga adalah bagian dari high cost. Cost turun inflasi pasti turun. Banyak kesalahan yang terjadi, sama dengan menafsirkan inflasi dengan menaikkan suku bunga, itu keliru. Maka kita harapkan BI evaluasi kebijakan tingkat bunga” ungkap JK dalam acara Economic Briefing di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Selasa (17/11/2015)

Baca Juga :  Usai Berikan Berkas ke Puan Maharani, Wakil Ketua Banggar DPR Ambruk

Dengan suku bunga yang tinggi, maka komponen bunga yang lain juga ikut meningkat. Artinya mendorong banyak orang untuk menyimpan uangnya. Padahal kita butuhkan dana untuk belanja, baik konsumsi maupun investasi. “Karena tidak ada negara yang selalu saja pelajaran pertama mengatakan kalau negara saving,kalau tinggi bunganya pasti itu saving terus,” jelasnya.

JK mencontohkan dengan yang terjadi saat krisis moneter 1997-1998. Ketika inflasi sedang tinggi-tingginya, suku bunga dinaikkan dengancukup drastis, asumsinya bisa menurunkan inflasi. Hal inipun kemudian pernah disampaikan JK saat bertemu IMF.

“Pelajaran yang sangat salah yang kita lakukan pada krisis 98 yaitu memperbaiki inflasi dengan menaikan suku bunga. Saya katakan ke Lagarde, ‘kau lah yang menjebloskan ekonomi Indonesia menjadi begini’. Kamu membuat spion yang salah,” kata JK. “Kalau untuk memerangi inflasi dengan menaikkan suku bunga itu tidak benar. Maka pada 1998 itu bunga naik, inflasi juga naik, inflasi waktu itu 70% bunga 60%. Artinya kejar-kejaran,” ujarnya.

Suku bunga yang tinggi, menurut JK juga tidak mampu mendorong dana segar dari asing masuk ke dalam negeri. Sebab bagi investor juga melihat upaya pemerintah pendorong pertumbuhan ekonomi dengan fundamental yang kuat. “Karena itulah, makanya lebih baik semuanya berpikir yang sama, tidak ada negara yang begitu saja meningkatkan suku bunga karena inflow,” pungkasnya. (*)