Oleh: ABDUL MU’TI

Pemerintah Prancis ma­sih mendalami pelaku dan motif penyerangan. Walau demikian, kelom­pok militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mengaku bertanggung jawab atas pemban­taian di enam sudut kota Paris.

Sebagaimana dilansir bebera­pa media nasional dan internasion­al, motif penyerangan adalah balas dendam atas kebijakan pemerin­tah Prancis dalam masalah di Su­riah. Benarkah demikian?

ISIS sebagai Culprit

Setelah riwayat Al-Qaeda tamat, ISIS menjadi ”hantu pen­cabut nyawa” yang paling ditakuti negara-negara Barat. ISIS menjadi culprit, pelaku dan biang semua kejahatan.

ISIS mengaku bertanggung jawab atas pengeboman pesawat Rusia di Mesir. Setelah Prancis, mereka menebar ancaman akan menyerang Inggris dan negara-negara Barat lainnya.

Ketakutan negara-negara Barat terhadap ISIS sangat bisa dipaha­mi. Pertama, baik ISIS maupun Al- Qaeda menjadikan negara-negara Barat baik warga negara, fasilitas, maupun jaringan sebagai musuh utama dan sasaran aksi mereka.

Akan tetapi sebagaimana vid­eo yang dirilis melalui berbagai media, dalam melakukan aksin­ya, ISIS lebih brutal dan sadistis dibandingkan dengan Al-Qaeda. Cara ISIS mengeksekusi para kor­ban sungguh mengerikan.

Kedua, ISIS mendapatkan dukungan luas dari berbagai ka­langan. Banyak kalangan muda dari negara-negara Barat yang bergabung dengan ISIS. Mereka ti­dak hanya berasal dari keturunan Arab, tetapi juga keturunan dan warga negara Eropa.

Kelompok pendukung ISIS dari keturunan Eropa lebih me­nyulitkan karena mereka mengua­sai semua hal tentang Eropa, me­lek teknologi, dan ekonomi yang kuat. Mereka bergabung karena alasan ideologis dan politis.

Bagi mereka, ISIS memiliki tujuan perjuangan yang jelas. ISIS memberikan harapan dan mimpi mewujudkan negara Islam di bawah kepemimpinan khalifah yang tegas dan berani. Mayori­tas negara-negara Islam di Timur Tengah adalah kerajaan yang dip­impin para raja.

Di mata para pendukung ISIS, para raja itu hanyalah antek, kaki tangan, dan boneka Barat yang ti­dak berpihak kepada rakyat dan tidak bersungguh-sungguh menegakkan syariat Islam.

Ketiga, ISIS memiliki sum­ber dana yang kuat. Hal ini me­mungkinkan mereka melakukan ekspansi ke seluruh penjuru dunia dan merekrut anggota baru dari kalangan muda yang terinspirasi oleh mimpi kepahlawanan.

Dari sudut pandang ideologis dan politik bisa dimaklumi jika ISIS menjadi musuh bersama negara-negara Barat dan Timur Tengah, termasuk Arab Saudi dan Iran.

ISIS sendiri memerlukan pem­buktian eksistensi. Sebagaimana jamaknya, aksi kekerasan adalah bentuk perlawanan atas represi yang dialami suatu kelompok.

Dimensi politik ini penting dilihat sebagai hukum kausalitas. Kelahiran ISIS dibidani negara-negara Barat sebagai ”predator” untuk menumbangkan rezim dik­tator. Kini ketika tumbuh menjadi raksasa, negara-negara Barat ingin membunuhnya.

Bagi negara-negara Barat, ISIS telah menjadi ”anak durhaka”. Meminjam hukum evolusi, ISIS melawan untuk mempertahankan diri. Yang berlaku adalah hukum kausalitas: siapa menebar angin menuai badai.

Bukan Representasi Islam

ISIS bukanlah representasi Is­lam. Walaupun menyebut dirinya sebagai khalifah dan mengklaim sebagai keturunan Quraisy, al- Baghdadi tidak bisa disebut seb­agai khalifah.

Dalam khazanah Islam, seorang khalifah adalah mereka yang memi­liki kualifikasi iman, ilmu, akhlak, dan kepemimpinan yang unggul. Khalifah dipilih oleh umat, bukan mengangkat dirinya sendiri.

Yang sangat fundamental, khalifah senantiasa berpijak dan mengambil kebijakan sesuai aja­ran Islam. Karena itu, menurut Imam Syafii, tidak ada lagi kekhali­fahan Islam setelah khulafau al-rasyidun: Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abu Thalib.

Yang ada adalah para raja yang bergelar khalifah, sultan, dan se­bagainya. Para ulama berbeda pendapat tentang kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz. Sebagian berpendapat Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah, sebagian lainnya mengatakan bukan khalifah.

Islam adalah agama damai yang sangat menekankan pent­ingnya perdamaian. Diharamkan oleh Islam membunuh manusia yang tidak berdosa, bahkan dalam peperangan sekalipun. Karena itu, ISIS sebagai gerakan, organisasi, dan sepak terjangnya bukanlah representasi Islam.

Walaupun demikian, sebagai akibat tindakan ISIS, umat Islam akan menjadi korban. Label Islam sebagai teroris semakin melekat. Islamophobia akan meningkat. Semua muslim terkena getahnya. Dimensi keagamaan ini membuat gerak langkah muslim semakin sulit.

Pada konteks dalam negeri, pemerintah Prancis semakin memiliki alasan untuk menekan kaum muslim. Prancis memiliki masalah domestik yang kompleks menyangkut kewarganegaraan, kewargaan, dan budaya.

Islam telah menjadi agama ter­besar kedua di Prancis. Komunitas muslim di Prancis adalah yang ter­besar di Eropa. Secara politik dan keagamaan, Prancis mendapatkan ”berkah” dari ”tragedi Jumat” di Paris.

Dalam konteks Eropa, kelom­pok antiimigrasi mendapatkan mo­mentum untuk menolak imigran Timur Tengah. Meskipun berten­tangan dengan hukum internasi­onal, negara-negara Eropa semakin yakin untuk mengusir para pengungsi memasuki negara mereka.

Penulis: sekretaris Umum PP Muhammadiyah., dosen FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Sumber: Sindonews.com