showimgJAKARTA TODAY – Laba bersih bank umum rontok 8,3% pada kuartal ketiga tahun ini menjadi hanya Rp 78,20 triliun jika dibandingkan dengan pencapaian pada periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 85,37 triliun.

Realisasi ini merupakan kelanjutan dari perlam­batan pertumbuhan laba bank umum yang terjadi se­jak awal tahun.

Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia (SPI) yang dilansir Otoritas Jasa Keuangan (OJK), laba bank umum pada Agustus 2015 lalu anjlok 8,9% menjadi Rp 68,35 triliun dari periode yang sama tahun lalu sebe­sar Rp 75,06 triliun. Pada Juli 2015, penurunannya malah lebih drastis lagi, yaitu sebanyak 10,4%.

Maklum, pendapatan bunganya tumbuh lebih pelan ketimbang beban bunga yang dibayarkan bank umum. Pendapatan bunga industri bank umum naik 15,6% menjadi Rp 479,00 triliun. Sementara, beban bunganya melesat 18,5% menjadi Rp 253,51 triliun.

Baca Juga :  Resep Membuat Kue Lupis yang Legit dan Kenyal Bikin Nagih

Di sisi lain, beban operasionalnya juga membeng­kak mencapai Rp 278,96 triliun atau meningkat 34,1% jika dibandingkan dengan kuartal ketiga tahun lalu yang hanya Rp 208,00 triliun. Sedangkan pendapatan operasionalnya tumbuh lebih rendah, yaitu 30% men­jadi Rp 149,31 triliun hingga 30 September 2015.

Di beberapa bank, bahkan labanya runtuh seiring dengan tingginya risiko kredit yang dihadapi. Sehing­ga, beban pencadangan dinaikkan.

Sebut saja, PT Bank CIMB Niaga Tbk yang labanya turun 89,9% menjadi Rp 238,4 miliar dan PT Bank Per­mata Tbk yang hanya membukukan laba sebesar Rp 938 miliar atau turun 24% ketimbang kuartal ketiga tahun lalu.

Baca Juga :  Pemilik Warung di Tanjungpinang Ditangkap Atas Dugaan Pelecehan Terhadap Anak di Bawah Umur

Sandeep Jain, Direktur Bank Permata melalui keterangan resmi mengatakan, kondisi makro yang penuh tantangan mempengaruhi kualitas aset yang dikelola. Rasio kredit bermasalah atawa non perform­ing loan (NPL) perseroan naik menjadi 2,5% pada kuartal ketiga ini.

Bank Permata, lanjut dia, mengalami tekanan por­tofolio yang cukup kentara. Beban pencadangan alias provision expense melesat 226% menjadi sebesar Rp 1,64 triliun. “Situasi tersebut diperkirakan akan terus berlanjur pada kuartal keempat tahun ini,” terang dia.

(Yuska Apitya/ktn)