KREDIT MACET MENINGKAT

Sementara itu, Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir triwu­lan I-2016 tercatat USD 316,0 miliar, atau tumbuh 5,7% (yoy). Relatif stabil dibandingkan pertumbuhan ULN akhir triwulan IV-2015.

Agus Marto menilai, nominal utang tersebut masih dalam batas aman. Na­mun tetap harus menjadi perhatian.

“Saya secara umum utang luar negeri Indonesia dalam kondisi yang aman, dan itu terlihat dari walaupun jumlahnya swasta itu lebih besar dari pemerintah,” ujar Agus.

ULN berjangka panjang pada akhir triwulan I-2016 mencapai USD 277,9 miliar (87,9% dari total ULN), atau naik 7,9% (yoy). Lebih lambat dari pertum­buhan triwulan IV-2015 yang sebesar 9,2% (yoy).

BACA JUGA :  Resep Bolu Gula Merah Kukus Tanpa Telur, Lembut, Manis, dan Mekar Sempurna

Di sisi lain, ULN berjangka pendek pada akhir triwulan I-2016 tercatat sebesar USD 38,1 miliar atau turun 8,4% (yoy), lebih lambat dibandingkan dengan penurunan pertumbuhan tri­wulan IV-2015 yang sebesar 13,7% (yoy).

“Kalau mau dilihat yang sensitif itu total utang swasta yang jangka pendek, yang diberikan oleh non-afiliasi. Nah total utang swasta yang jangka pendek, non-afiliasi itu totalnya hanya 5% dari loan. Jadi secara umum terkelola den­gan baik,” terang Agus.

BACA JUGA :  Perdana, Peringatan HJB ke-544 Digelar di Citalahab Malasari

Menurut Agus, pengelolaan utang akan menjadi lebih terkendali bila ad­anya kerja sama dengan pihak terkait. Misalnya utang pemerintah, BUMN dan perbankan swasta melalui BI dan OJK.

“Nah korporasi non-bank kita ada kehati-hatian yang dikeluarkan tahun 2014, membuat korporasi yang utang perlu melaporkan likuiditasnya, Po­sisi missmacth currency-nya ataupun over leverage atau tidak. Jadi jumlah yang melapor lebih baik, dan kondisi dipatuhinya minimum hedging mini­mum liquidity itu semakin baik,” pa­parnya. (*)

 

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================