
Begitu juga ketika salah seorang anggota DPR meminta fasilitas saat berlibur dengan keÂluarganya di Paris menuai protes publik. Tentu duduk perkara sesÂungguhnya perlu didalami, tetapi heboh itu sudah telanjur ada. Fasilitas dan pelayanan publik di Indonesia memang tergolong â€payah dan parahâ€. Memang ada peningkatan secara perlahan, tetapi dalam banyak hal kedÂuanya masih menyesakkan dada apabila dibandingkan dengan negara-negara yang sepatutnya sudah menjadi bahan perbandingan bagi Indonesia.
Tidak kalah untuk diperbinÂcangkan adalah pelayanan publik di wilayah-wilayah terluar IndoneÂsia. Populer juga dengan sebutan wilayah kita yang berbatasan langÂsung dengan negara-negara tetÂangga. Ada beberapa ciri kebijakan negara di masa lalu mengenai wilayah perbatasan. Ciri pertama, kebijakan belum berpihak pada kaÂwasan tertinggal. Kedua, masih adÂanya paradigma â€kawasan perbaÂtasan sebagai halaman belakang†wilayah yang terabaikan.
Sarana dan prasarana yang minim diiringi dengan tingginya angka kemiskinan. Akibatnya, adÂanya kesenjangan pembangunan dengan negara tetangga. PelayÂanan publik dan fasilitas publik adalah hak rakyat dan karena itu pula rakyat sepakat menyerahÂkan kedaulatan mereka kepada negara. Negara kemudian diperÂintah oleh para birokrat yang seharusnya amanah dengan jaÂbatannya. Di mana-mana, rakyat memimpikan kesejahteraan.
Pelayanan publik oleh negÂara sebagai awal mencapai kesÂejahteraan itu. Namun nasionÂalisme mereka, terutama rakyat yang tinggal di wilayah perbaÂtasan, diuji ketika dihadapkan pada pelayanan publik yang disajikan negara yang berbatasan langsung. Logikanya, sebagian orang tidak sulit menentukan pilihan ketika dihadapkan antara tetap mempertahankan nasionÂalisme sebagai orang Indonesia dengan berbagai kekurangannya atau mengubah paspor dengan pelayanan publik yang luar biasa.
Jika ingat beberapa tahun lalu ada berita tentang Askar WataniÂah, mereka adalah ratusan orang Indonesia yang dilatih baris-berÂbaris, strategi perang, bersenjata, dan dijadikan Malaysia sebagai tentara bayaran untuk menjaga perbatasan dengan Indonesia di Kalimantan. Tidak hanya digaji, tetapi mereka juga diakui sebagai warga negara Malaysia. Pastilah terjadi â€peperangan nurani†anÂtara nasionalisme dengan kebuÂtuhan hidup.
Tidak semua warga kita di perbatasan yang dengan mudah menggadaikan nasionalismenya. Namun ketika kebebasan berpikir itu dimiliki, pertanyaan- pertanÂyaan kritis mengemuka. Di antara mereka pastilah ada yang minta ketegasan, apalah artinya nasiÂonalisme ketika air bersih, listrik, pendidikan, dan pekerjaan tidak didapatkan. Padahal berbagai kebutuhan dasar dan pelayanan publik paripurna itu bisa merÂeka dapatkan dengan mudah dari negara tetangga. Manusiawikah ketika mereka meninggalkan naÂsionalisme sekadar untuk bertahÂan hidup sebagai manusia?
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















