Bandingkan kondisi Munaslub Golkar ini dengan Muktamar Luas Biasa (MLB) PPP, dengan Djan Faridz sebagai kubu PPP Jakarta tidak ikut hadir dan bahkan menyatakan peÂnolakannya terhadap MLB PPP di Asrama Haji, Pondok Gede. Kedua, proses pemilihan ketua umum diikuti tokoh dari semua kubu eks perkubuan di Golkar. Dari kubu Golkar Bali ada SN dan Aziz Syamsuddin. Dari kubu Golkar Ancol, ada Priyo Budi Santoso dan AirÂlangga Hartato. Ada pula tokoh yang selama ini berusaha berada di luar perkubuan terseÂbut seperti Mahyuddin.
Ketiga, sudah terjadi percampuran dalam tim sukses dan pendukung para calon dari kubu Golkar Bali dan Ancol. Contohnya, Setya Novanto (Golkar Bali) yang dalam proses peÂmilihan telah didukung oleh Agun Gunandjar Sudarsa dan Ace Hasan Syadzily (Gokar Ancol).
Pertanyaannya kemudian, apakah Setnov yang sudah terpilih sebagai pengganti AbuÂrizal Bakrie mampu membawa Partai Golkar dengan prestasi dalam pemilu yang lebih baik?
Tidak cukup dengan strategi mendukung Pemerintahan Jokowi-JK maupun pencalonan Jokowi sebagai presiden saja. Setnov juga harus melakukan strategi lain, yakni mengedepankan citra para kader partai Golkar di daerah-derah.
Setnov harus memposisikan diri seperti manajer klub sepak bola Real Madrid yang terkenal dengan julukan Los Galacticos, kareÂna memiliki banyak pemain bintang. Tugas manajer atau pelatih di Real Madrid adalah mengelola dan mengoptimalkan potensi para pemain bintang tersebut. Jika potensi pemain bintang maksimal, maka Los Galacticos akan menjadi juara. Partai Golkar adalah Los GalacÂticos dalam jagad politik Indonesia. Partai ini memiliki banyak “pemain bintang†di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Setnov harus memberi ruang besar pada para kader tersebut, baik tampil sebagai calon kepala maupun peran lain.(*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















