Untitled-12Memasuki bulan Ramadan, Badan Pengawasan Obat danMakanan (BPOM) meningkatkan intensitas pengawasan.Hal ini dimaksudkan untuk mencegah beredarnyamakanan takjil yang mengandung bahan berbahaya.

Oleh : Yuska Apitya Aji
[email protected]

BOGOR TODAY- Memasuki bulan Ramadan, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) meningkatkan intensitas pengawasan. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah beredarnya makanan takjil yang mengandung bahan berbahaya. “Dua minggu menjelang bulan Ramadan kami mengintensifkan pengawasan peredaran bahan pangan seperti takjil. Hal ini untuk menjamin keamanan pangan masyarakat,” ujar Plt Kepala BPOM Badhar Johan di Ruang Wartawan BPOM, Jl. Percetakan Negara, Jakarta Pusat, Kamis (9/6/2016). Deputi Bidang Pengawasa Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya, Suratmono menambahkan, hasil temuan yang ada di lapangan semakin menurun. BPOM pusat dan daerah menemukan tren penurunan bahan pangan yang mengandung zat berbahaya. “Tren pengawasan takjil memang ada penurunan dari bahan pangan berbahaya yang ditemukan di lapangan. Sekarang dinas-dinas terkait di pemerintah kota sudah mulai aktif. Dulu kita main sendirian. Tren temuan bahan berbahaya pada pengawasan takjil sejak 2011 sudah mengalami penurunan,” ujar Suratmono.
Data dari BPOM, pada 2013 tercatat ada 12 persen yang menggunakan rhodamin. Kemudian turun menjadi 10 persen. Di tahun 2015 menjadi 11 persen.
Sementara penggunaan formalin pada pangan takjil, pada 2013 tercatat 13 persen bahan pangan yang mengandung formalin. Kemudian turun menjadi 12 persen di 2014. Dan kembali turun di tahun 2015 menjadi 6 persen.
Pengawasan makanan ini dilakukan di hampir semua provinsi. Pada pelaksanaannya, BPOM juga merangkul lembaga lain untuk pegawasan ini.
“Pengawasan yang kami lakukan, juga kerjasama dengan bea cukai. Tadi pagi juga kami datang ke BNN untuk bekerja sama memberantas makanan yang mengandung narkotika,” tutur Bahdar.
Bahdar mengungkapkan, sektor makanan memiliki nilai ekonomi yang lebih besar dibandingkan obat dan kosmetik. Maka BPOM juga mengharapkan partisipasi masyarakat dalam pengawasan pangan berbahaya.

Memahami Manfaat Takjil

Istilah Takjil seringkali kita dengar pada saat maupun menjelang bulan Ramadhan. Kebanyakan orang awan beranggapan bahwa takjil merupakan hidangan yang disajikan untuk berbuka puasa, terutama makanan atau minuman yang manis-manis seperti kolak, kurma, es buah, dan lain sebagainya. Benarkah demikian?

Baca Juga :  Kisah Bung Hatta Sang Proklamator Indonesia, Diasingkan Hingga Dituding Masuk Partai Terlarang

Sebenarnya, pengertian takjil dalam ajaran agama islam sangatlah berbeda dengan pengertian takjil yang berada di sebagian benak orang awam  seperti kita ini. Dalam islam, takjil berasal dari kata ta’jiilun (تَعْجِيْلٌ ) yang di wakafkan menjadi ta’jiil (تَعْجِيْلْ ), dimana kata tersebut berasal dari fi’il madhi ajjala (عَجَّلَ) yang berarti menyegerakan atau mempercepat.

Jadi sekarang sudah tahu kan bahwa takjil bukanlah hidangan untuk berbuka puasa, melainkan kegiatan menyegerakan untuk menyelesaikan ibadah puasa atau membatalkan puasa dengan memakan sesuatu, yaitu ketika waktu berbuka puasa telah tiba.

Mengingat puasa adalah salah satu dari kewajiban umat muslim untuk dijalankan dan menjadi bagian dari 5 rukun islam, tentunya harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Mulai dari waktu awal puasa hingga waktu membatalkannya, salah satunya memakan takjil yang benuh dengan berkah. Lalu apa saja hikmah takjil menurut ajaran islam?

Akan selalu berada dalam kebaikan

Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda :

لا يَزَالُ اَلنَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Artinya:

“Manusia Senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim)

Menyegerakan berbuka puasa adalah merupakan sunnah Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam. Jadi, sudah sepantasnyalah kita sebagai umat muslim untuk mengikuti sunnah-sunnah beliau.

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

“Umatku akan terus dalam sunnahku selama mereka tidak menunggu bintang ketika berbuka (puasa).” (HR Ibnu Hibban).

Dan Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam juga pernah bersabda :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Artinya:

“Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berbuka puasa dengan ruthab sebelum shalat (Maghrib). Jika tidak ada ruthab (kurma muda) maka dengan tamr (kurma matang), jika tidak ada tamr maka beliau meneguk beberapa teguk air” (HR. Abu Daud 2356, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)

Dari kedua hadist di atas sudah jelas bahwasannya Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam selalu menyegerakan untuk berbuka puasa setiap kali beliau berpuasa, dan dalam berbuka puasa beliau memilih untuk berbuka terlebih dahulu dengan memakan kurma, dan jika tidak ada kurma, maka beliau berbuka dengan meneguk air saja. Mengapa demikian?

Baca Juga :  Gelorakan Semangat HUT RI ke 77, Puluhan Biker Bogor Kibarkan Bendera Merah Putih

Menyegerakan berbuka puasa adalah sesuai dengan fitrah manusia, dimana mereka ingin segera menghilangkan rasa haus dan lapar setelah seharian berpuasa. Dan kenapa Rasulullah memilih berbuka puasa dengan memakan kurma daripada makanan yang berat-berat?

Dalam kitab Kifayatul Akhyar, penulisnya (yaitu Taqiyuddin Al Hushni) menukil sebuah pendapat yang dinyatakan oleh Ar Rauyaniyaitu:

وَيسْتَحب أَن يفْطر على تمر وَإِلَّا فعلى مَاء للْحَدِيث وَلِأَن الحلو يُقَوي وَالْمَاء يطهر وَقَالَ الرَّوْيَانِيّ إِن لم يجد التَّمْر فعلى حُلْو لِأَن الصَّوْم ينقص الْبَصَر وَالتَّمْر يردهُ فالحلو فِي مَعْنَاهُ

Artinya:

“Dianjurkan berbuka dengan kurma atau jika tidak ada maka dengan air, berdasarkan hadits ini. karena yang manis-manis itu menguatkan tubuh dan air itu membersihkan tubuh. Ar Rauyani berkata: ‘kalau tidak ada kurma maka dengan yang manis-manis. karena puasa itu melemahkan pandangan dan kurma itu menguatkannya, dan yang manis-manis itu semakna dengan kurma’” (Kifayatul Akhyar, 200)

Pola kuliner dan konsumsi yang telah dicontohkan oleh Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam tidak hanya membawa dampak pada kesehatan tubuh serta sesuai dengan fitrah manusia saja, akan tetapi juga sebagai bentuk ibadah yang menjadikan Rasulullah sebagai teladan bagi kehidupan umat muslim dalam segala hal.

Menjadi pembeda antara umat muslim dengan pemeluk agama lainnya