Selanjutkan kenaikan cukai untuk tem­bakau dalam negeri. Pemerintah juga ingin agar ruang bagi para perokok dipersempit. Terutama pada tempat-tempat yang meru­pakan ruang publik. “Tempat-tempat untuk merokok pada prinsipnya pemerintah akan melakukan pembatasan hingga dengan demikian ruang bagi para perokok di ruang publik akan semakin terbatas,” jelasnya.

Menko Perekonomian Darmin Nasu­tion menambahkan, impor tembakau sudah berlangsung sejak lama. Namun perlu dihitung kembali sebelum kebijakan dikeluarkan. “Karena sebenarnya dari dulu kita juga impor, maka itu dipelajari dulu berapa banyak kita impor, kemudian membuat aturannya bisa benar,” terang Darmin pada kesempatan yang sama.

Terkait dengan konvensi pengendal­ian tembakau atau Framework Conven­tion on Tobacco Control (FCTC) yang di­rancang oleh World Health Organization (WHO), masih perlu ada kajian lebih lan­jut di tubuh pemerintahan.

Baca Juga :  Nyeri Punggung? Ini Dia 7 Cara Mengatasinya

Menyikapi permintaan Presiden Jokowi tersebut, Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin mengaku dilema­tis. Menurutnya, penerimaan negara dari tembakau bisa dinilai cukup besar. Na­mun, baru-baru ini Presiden Jokowi me­minta untuk mengendalikan tembakau.

Saleh mengungkapkan, dari sektor perindustrian sejatinya mendukung kepu­tusan Presiden Jokowi yang ingin men­gendalikan tembakau. Setidaknya ada empat arahan dari orang nomor satu di Indonesia soal pengendalian tembakau.

Arahan pertama adalah Presiden Jokowi meminta untuk menekan impor tembakau, kedua menaikkan cukai tem­bakau impor, ketiga menaikan cukai ro­kok, dan keempat mempersempit ruang bagi para perokok. “Saya sih tergantung dengan keputusan dari kementerian-kementerian yang lain juga, sebab untuk ambil keputusan ini kan tidak hanya dari sisi Kemenperin, tapi ada dari Kemenkes, Kemenaker, dan lain-lain, dan kami akan ikuti keputusannya,” kata Saleh di Kom­plek Istana, Jakarta, Selasa (14/6/2016).

Baca Juga :  Minibus Angkut 17 Orang Terjun ke Jurang di Pakpak Bharat, 5 Tewas

Saleh mengungkapkan, sumbangsih industri tembakau selama ini dari sektor cukainya saja mencapai sekitar Rp39 tril­iun, dari sektor PPn dan PPh jika ditotal mencapai sekitar Rp180 triliun. “Itu kan cukup besar, kira-kira dari total peneri­maan negara sumbangan rokok itu ya 11 persen lah, itu kan bukan angka kecil. Nanti ada enggak yang bisa mengganti­kan itu,” tandasnya.

(Yuska Apitya Aji)

Halaman:
« 1 2 » Semua