8262512757_5bbe128dc3_oNia S. Amira
[email protected]

Ayo kita ngemil serangga!” kata teman baru saya yang orang Thailand, Wardha Wangpakdee Edrics. Saya hanya mengatakan, Ngak mau..saya tidak pernah memiliki pengalaman ngemil dengan serangga sebelum­nya. Di Yogyakarta dan beberapa desa di Jawa Tengah, memand ma­sih ada orang yang mengkonsumsi serangga menggantikan telur atau ikan untuk mendapatkan protein. Tapi … terima kasih, saya bukan orang yang bisa dengan mudah menelan makhluk alami yang sangat istimewa ini. Buat saya serangga itu adalah hewan yang jahat. Wardha terus mengemudi setelah kami ber Spa selama 1,5 jam dan benar-benar memberikan relaksasi, terutama karena otot saya banyak yang te­gang dan tekstur 12 udang segar di resto seafood lokal besar di Bang Kapi jalan benar-benar mengagum­kan, mulut saya sangat sensitif un­tuk menemukan makanan di atas rata-rata.

Setelah 20 menit, kami tiba di Huay Kwang pasar yang buka 24 jam, pasar itu mirip pasar Tanah Abang di Jakarta Pusat. Kami parkir di salah satu dari toko kosmetik yang buka 24 jam. Gadis muda yang menjual hal-hal yang memberikan anda keindahan mengenakan tank top, cuaca di Bangkok lebih dari 31 derajat celcius pada malam itu, kami benar-benar basah oleh kerin­gat.

Pikiran saya tentang serangga, Wardha mengatakan kepada saya bahwa mereka rendah kalori, teta­pi tinggi protein dan memberikan nutrisi tinggi. Dahulu, serangga merupakan makanan bagi pekerja berpenghasilan rendah di Thailand, tapi seperti yang saya lihat malam itu, masyarakat kelas atas duduk di kursi Mercedes mereka dan menik­mati cemilan serangga mereka lay­aknya mengemil keripik biasa …

Dari mana serangga-serangga ini didatangkan? – Seperti di Jawa Tengah dan negara-negara Asia lain­nya di mana orang masih memakan serangga goreng, orang-orang men­gambil serangga dari pohon-pohon, mencarinya di semak-semak atau menebang batang pohon bambu untuk memanen ulat bambu, se­rangga lain bahkan dibudidayakan oleh petani serangga dan ini sudah menjadi bisnis lokal karena mereka menyediakan banyak pasokan un­tuk pelanggan setia mereka.

Dimana anda dapat menemu­kan serangga goreng di Bangkok? – Serangga goreng tersedia di seluruh Bangkok. Salah satu tempatnya ada di Pasar Malam Huay Kwang, mer­eka menjual sekantong penuh se­rangga goreng setiap malam.

Serangga yang mana yang se­baiknya anda makan? – ulat Bambu, jangkrik dan belalang adalah yang paling populer di Bangkok, yang lain termasuk kalajengking dan kumbang air, hama penggerek dan semut. Saya bahkan ti­dak berani mencicipi ulat bambu yang terli­hat masih hidup buat saya. Seorang gadis 24 tahun yang baru saja datang untuk sekantong kecil ulat bambu men­gatakan dia suka serang­ga goreng dan harganya murah, hanya 60 bath atau 24.000 Rupiah.

“Jangkrik dan belalang rasanya renyah, sedan­gkan ulat bambu sedikit renyah di luar, tapi lembut di dalam. Kaki belalang dan sayap jangkrik menempel di gigi dan kalajengking lebih sulit untuk dimakan dengan semua cangkang­nya, “jelas wanita berusia 40 tahun yang meminta Wardha untuk men­erjemahkan dalam bahasa Inggris.

Tapi tentu saja, Anda akan men­emukan rasa serangga goreng ber­beda dari satu penjual dan penjual lainnya, karena mereka menggu­nakan rempah-rempah yang berbe­da, kadang-kadang penjual menam­bahkan saud buatan sendiri untuk penambah rasa. Seperti penjual kentang dan jamu goreng di Jakarta, rekan-rekan mereka di Bangkok juga menaruh bumbu cabai atau campuran rasa pad belalang goreng dan itu akan memberikan kombi­nasi yang enak dari keripik renyah tersebut.

Untuk mereka yang super petu­alang, cobalah sekantong tas se­rangga campuran, dan anda akan mendapatkan serangga yang bervariasi, termasuk kalajengking atau serangga menakutkan lainnya

Serangga akan lembab setelah beberapa jam digoreng, jadi lebih baik langsung disantap begitu sele­sai digoreng. Anda juga dapat mem­beli serangga goreng dalam kema­san plastik di beberapa pasar, dan penjual menjamin bahwa serangga tetap renyah dan bisa bertahan hingga seminggu.

Sebuah laporan dari Organisasi Pangan dan Pertanian dunia tahun 2013 menunjukkan bahwa serangga bisa dimakan dan bisa membantu mengimbangi kerawanan pangan dengan meningkatnya populasi penduduk dunia – serangga tinggi akan protein, vitamin serta serat.

Di masa depan, mungkin saja sekantong tas serangga segera hadir di 7-Eleven terdekat. Siapa tahu?

Bagi Halaman