-1x-1DANA Moneter Internasional (IMF) angkat bicara mengenai hasil referendum yang memutuskan Inggris keluar dari Uni Eropa (Brexit). IMF meminta otoritas Inggris dan Uni Eropa segera merampungkan transisi ekonomi agar tak berdampak massal ke sejumlah negara di Dunia.

Oleh : Yuska Apitya
[email protected]

Direktur IMF, Christine Lagarde mengatakan pi­haknya bisa memahami keputusan yang diam­bil oleh warga Inggris. Atas dasar hal tersebut, ia meminta otoritas Inggris dan Uni Eropa untuk me­nyiapkan segala hal dengan baik. «Kami mencatat keputusan ma­syarakat Inggris. Kami mendesak otoritas Inggris Raya dan Eropa untuk bekerja sama guna memasti­kan kelancaran transisi hubungan ekonomi yang baru antara Inggris dan Uni Eropa, termasuk dengan memperjelas prosedur dan tujuan yang luas yang akan memandu proses transisi,» ujarnya dalam keterangan resmi, kemarin.

Christine menjelaskan, ia mendukung bank sentral kedua belah pihak, baik Inggris dan Uni Eropa yang berkomitmen menjaga kondisi likuiditas dan kesehatan

keuangan wilayahnya. “Kami sangat mendukung komitmen dari Bank of England dan bank sentral Eropa untuk memasok likuiditas ke sistem perbankan dan mengurangi volatili­tas keuangan yang berlebih. Kami akan terus memantau perkemban­gan dan siap untuk mendukung anggota kami apabila diperlukan,” jelasnya.

Baca Juga :  Lorin Sentul Hotel Gelar Upacara Bendera Hingga Rayakan Perlombaan 17 Agustus

Sebelumnya, hasil referendum Brexit membuat nilai tukar pound sterling anjlok ke level terendah sejak 1985 dibarengi dengan me­nukiknya harga saham berjangka Inggris pada Jumat (24/6). Aksi jual obligasi juga meningkat tajam dan mendongkrak biaya pinjaman Pemerintah Inggris.

Nilai tukar pound sterling anjlok hampir 10 persen kemarin, yang merupakan kejatuhan terdalam sepanjang sejarah Inggris. Tepatnya sejak rezim nilai tukar mengambang bebas diperkenalkan pada awal 1970-an.

Depresisi kurs saat ini dinilai lebih parah dibandingkan dengan tragedi ‘Black Wednesday’ pada September 1992, ketika miliarder George Soros melakukan aksi jual pound sterling besar-besaran se­hingga melumpuhkan pertahanan Bank Sentral Inggris (BOE).

“Ini seperti kembali dari masa depan, kita seperti kembali ke era 1985,” kata Nick Parsons, Wakil Ke­pala Strategi Mata Uang Global di NAB. Pound sterling tercatat jatuh ke level US$1,33, yang merupakan level terendah terhadap dolar se­jak September 1985. Sementara terhadap Euro, pound sterling me­lemah 6 persen dan terhadap yen terdepresiasi 15 persen. Sementara itu, harga saham berjangka turun 7 persen di Bursa London. «Pound sterling sudah anjlok 10 persen dalam enam jam. Itu sangat luar bi­asa, dan referendum Inggris telah menciptakan krisis di Eropa,” kata Nick.

Baca Juga :  Bank Indonesia Resmi Meluncurkan Tujuh Uang Kertas Baru

Sementara itu, keresahan juga dialami Menteri Keuangan China Lou Jiwei. Lou menilai keputusan Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa semakin menambah tinggi faktor ketidakpastian ekonomi du­nia. Ia menyebut, imbas dari hasil referendum tersebut diperkirakan bakal memberi implikasi bagi eko­nomi Inggris dan dunia sampai 10 tahun ke depan.

“Brexit akan mengaburkan pan­dangan atas ekonomi dunia. Akibat dan dampak dari Brexit itu akan kita rasakan dalam 5 sampai 10 ta­hun,” ujar Jiwei saat berpidato di pertemuan tahunan perdana Asian Infrastructure Investment Bank di Beijing, dikutip dari Reuters, Min­ggu (27/6).