Jiwei memastikan, pemerintah negara mana pun maupun inves­tor pasar modal dan investor sektor riil akan sulit melakukan prediksi atas pergerakan ekonomi dunia. “Semua akan meresponsnya secara berlebihan, sampai akhirnya kita sadar bahwa semuanya perlu men­enangkan diri dan melihat segala sesuatunya dengan lebih objektif,” katanya.

Indonesia sendiri merasakan dampak negatif dari referendum Brexit yang dilakukan Kamis (23/6) waktu Inggris. Bank Indonesia (BI) menyebut pelemahan nilai tukar ru­piah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi pada Jumat (24/6) disebabkan pelaku pasar yang me­mindahkan dananya ke negara yang diyakini aman. “Kami melihat ini adalah sesuatu yang wajar karena memang ada suatu flight to qual­ity,” tutur Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo, kemarin.

Ketika itu, Reuters mencatat rupiah sempat menyentuh level Rp13.425 per dolar. Menurut Agus, saat ini pasar dalam kondisi risk off di mana pelaku pasar cender­ung menghindari risiko, kemudian menarik dananya dan menaruh­nya di negara yang dinilai aman. Berdasarkan pengamatannya, negara yang diminati pelaku pasar ada Amerika Serikat dan Jepang. “Banyak mata uang yang tertekan tetapi kita lihat dolar dan yen ada penguatan. Itu menunjukkan bah­wa Amerika dan Jepang menjadi tempat yang diminati pada saat situasi risk off ini,” kata Mantan Menteri Keuangan ini.

Lebih lanjut, Agus meyakini pelemahan rupiah hanya akan ter­jadi sementara. Hal itu didukung oleh perekonomian Indonesia yang disebutkan tengah dalam kondisi prima dengan tingkat inflasi yang terjaga. “Selain itu, hubungan perdagangan antara Indonesia dan Inggris tidak terlalu besar dari sisi ekspor dan impor meskipun dam­pak keuangannya ada dalam bentuk aliran dana (keluar) tadi,” ujarnya.

Terpisah, Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keaman­an Luhut Binsar Pandjaitan me­minta sesama koleganya di bidang perekonomian untuk mewaspadai dampak negatif yang mungkin dit­imbulkan dari keputusan Inggris mental dari aliansi Uni Eropa atau Brexit.

Luhut mengaku ikut mengamati proses referendum Brexit dengan cermat. Menurutnya, dampak dari keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa tidak bisa dilihat dalam waktu dekat. «Brexit amati saja den­gan cermat, karena menurut saya dampaknya masih akan kita lihat dalam beberapa waktu ke depan. Mungkin secara langsung dampak­nya ke Indonesia tidak banyak, tapi bagaimanapun kita harus hati-hati melihat perekonomian,” ujar Luhut di Jakarta Barat, Minggu (26/6/2016).

Mantan Kepala Staf Presiden itu mengaku belum berkomuni­kasi dengan Presiden Joko Widodo ( Jokowi) mengenai apa langkah yang harus diambil Indonesia dalam menyikapi keputusan Ing­gris ini. Ia berencana untuk melaku­kan hal itu pekan depan. “Belum (berkomunikasi dengan Presiden). Masih terlalu awal, kan baru Jumat kemarin. Mungkin nanti, minggu depan. Tapi kami sudah menyiap­kan beberapa pikiran mengenai dampak dari Brexit ini, dari aspek ekonomi, politik, maupun keaman­an,” katanya.

Referendum Brexit terjadi pada Kamis (23/6). Dari perhitungan su­ara di 98 persen distrik di Britania Raya, sebanyak 51,82 persen dari 46,5 juta warga Inggris memilih kel­uar dari Uni Eropa. Sementara 48,18 persen mengatakan Inggris harus tetap di Uni Eropa.

Menyusul hasil tersebut, Per­dana Menteri Inggris David Cam­eron memutuskan mengundurkan diri sebelum musim gugur. Dia sendiri adalah pendukung Inggris tetap berada di Uni Eropa.(*)

 

Halaman:
« 1 2 » Semua