6379201779_7a1e5eaf4b_oKEPUTUSAN warga inggris untuk memutuskan keluar dari Uni Eropa atau Brexit, nampaknya memang berdampak merembet pada hampir semua bidang dan sektor ekonomi. Selain mata uang, Brexit juga berimbas pada sektor migas (minyak dan gas).

Oleh : Yuska Apitya
[email protected]

Harga minyak anjlok pada perdagangan Senin (27/6) setelah pe­kan lalu Inggris memu­tuskan tidak lagi menjadi bagian dari Uni Eropa (Brexit). Harga minyak acuan Eropa, Brent tu­run 15 sen menjadi US$48,26 per barel, sementara harga min­yak acuan Amerika S e r i k a t tergerus 25 sen menjadi US$47,39 per barel.

Tergerusnya harga minyak merupakan imbas dari me­lemahnya nilai tukar pound sterling, terhadap mata uang negara lain pasca referendum Brexit. Pada penutupan perda­gangan akhir pekan lalu, mata uang tersebut di tutup pada level Rp18.317 per pound. Sementara hari ini, setiap 1 pound sterling dihargai Rp17.995.

BACA JUGA :  Roberto Callieri Jadi Komisaris Utama Hasil RUPST, Indocement Bakal Bagikan Dividen Rp308 Miliar

Go l d m a n Sachs dalam risetnya me­nyebut investor masih bingung mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya setelah Inggris me­ninggalkan Uni Eropa. Meski demikian, lembaga keuangan tersebut meyakini Brexit tidak akan memberikan efek yang lama pada permintaan minyak du­nia. “Kemungkinan permintaan minyak dari Inggris hanya akan berkurang 1 persen atau 16 ribu barel per hari. Angka itu hanya memukul 0,016 persen terhadap permintaan minyak global,” kata Goldman Sachs, kemarin.

Para pelaku pasar justru meya­kini penurunan permintaan dari In­ggris untuk sementara waktu, akan terkompensasi oleh potensi me­ningkatnya permintaan dari China yang disebut bakal meningkat lagi di semester II 2016. “Kilang di China telah meningkatkan produksinya lagi. Nanti akan terjadi keseimban­gan baru antara permintaan, paso­kan, dan harga di pasar,” ujar riset tersebut.

BACA JUGA :  Roberto Callieri Jadi Komisaris Utama Hasil RUPST, Indocement Bakal Bagikan Dividen Rp308 Miliar

Sementara itu, Gubernur Or­ganization of Petroleum Expor­tir Countries (OPEC), Widhyawan Prawiraatmaja mengatakan, pasca pengumuman tersebut, dolar Ameri­ka Serikat sempat meroket, dan den­gan serta merta berimbas pada harga minyak yang jatuh. “Akibatnya, lebih karena mata uangnya, maka jadi begitu (turun USD2) tapi kan itu se­mentara, kan biasa kalau harga dolar menguat harga minyak turun,” kata Widhyawan di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (27/6).

============================================================
============================================================
============================================================