shutterstock_297576605Wilayah urban nampak makin luas. Urban dicirikan dengan pembangunan yang pesat terutama pusat perbelanjaan, sekolah, fasilitas umum, jalan raya serta rumah-rumah mewah. Pembangunan perkotaan akan makin pesat. Bersama pula dengan banyaknya penduduk yang pergi dari desa ke kota. Mengadu nasib dan menekan ruang kota.

Oleh: BAHAGIA, SP., MSC
Dosen Tetap Universitas Ibn Khaldun Bogor

Kependukan juga makin bertambah secara nasional. Penduduk kita kini hampir 300 juta jiwa. Daerah penduduk terban­yak berada di jawa barat. Dae­rah ini termasuk daerah sentra beras.

Penduduk terbanyak juga ada di jawa timur dan Jawa ten­gah. Daerah ini terkategori dae­rah urban dan sekaligus daerah lumbung pangan. Rawan lahan pertanian menjadi lahan urban. Lahan petani diubah menjadi la­han rumah, sekolah, jalan raya dan sekolah serta industri. Kini nampak kawasan rumah me­wah diperkotaan makin meluas. Kebutuhan akan beras, sayuran dan buah-buahan juga mening­kat. Daerah desa makin terpo­jok. Petani akan menjual lahan dan pergi ke daerah urban un­tuk mengadu nasib.

BACA JUGA :  KECURANGAN PPDB TERUS BERULANG, BAGAIMANA SOLUSINYA

Profesi menjadi petani dit­inggalkan karena bertani penuh masalah. Orang desa sudah ber­pikri dagang termasuk cara ter­baik. Meskipun berdagang wa­rung kelontong dikota namun banyak yang beli. Lebih men­janjikan dibadingkan dengan menjadi petani yang menunggu panen. Setelah ditunggu harg­anya murah dan didesak dengan komodtas impor. Sarana dan produksi juga mahal. Benih saja petani belum produksi sendiri. Masih bergantung dengan pro­dusen benih. Pupuk juga sama dan obat-obatan hama.

Masalah iklim dan banjir ser­ta sewaktu-waktu kena keker­ingan. Pertanian tersingkirkan. Urban tadi makin luas karena kebanyakan orang kota beker­ja diperusaahan swasta dan BUMN. Sebagian pegawai neg­eri, pedagang dan supir. Satu sisi manusia butuh beras, say­uran dan buah-buahan. Dengan arus urbanisasi tadi tidak luput kita impor beras meningkat lagi. Disini kita tidak memikirkan be­ras. Yang dipikirkan bagaimana hidup untuk keluarga. Beras tadi harus berjalan seimbang sesuai dengan banyaknya ma­nusia yang lahir. Jika semuanya pergi ke kota maka profesi pet­ani akan ditinggalkan.

BACA JUGA :  KECURANGAN PPDB TERUS BERULANG, BAGAIMANA SOLUSINYA

Regenerasi petani siapa dan siapa yang akan menjadi petani. Kalaupun ada regenerasi petani namun lahannya tidak ada lagi. Habis buat pembangunan ur­ban. Kalaupun ada lahannnya namun petani sudah beralih profesi. Disini nampak pemban­gunan kini saling konflik dan sa­ling membunuh satu sama lain. Harusnya urban dan beras ber­jalan bersamaan sehingga yang jadi petani tetap ada. Urban juga tetap tidak bisa dibendung namun bukan menghentikan pembangunan pertanian.

Kacaunya pemberdayaan masyarakat desa karena pemer­intah gagal menjadikan desa sebagai tempat penghidupan banyak orang. Profesi petani sebagai profesi yang terbanyak di desa jutsru profesi ini pal­ing bermasalah kedepannya. Rendah Inovatif. Buktinya sam­pai kini kita masih bergantung sepenuhnya dengan luasan lahan. Teknologi perbenihan dan sistem pertanian maju ti­dak mengharuskan lahan yang luas. Cukup menanam pada lahan sempit namun seimbang produksinya dengan lahan luas.

======================================
======================================
======================================