
Teknologi sampai kini beÂlum diciptakan dengan baik. Teknologi budidaya rendah seÂhingga produksi rendah. Inovasi ini harusnya sudah tercapai naÂmun kita tidak bisa sampai kini. Bahkan, pada level petani masih saja menjual komoditas menÂtahan. Belum ada nilai tambah yang bisa diperbuat oleh petani. Tentu petani hanya dapat unÂtung dari harga per kilogram koÂmoditas tertentu. Pasarnya juga masih terbatas. Produk petani kebanyakan kalah dengan imÂpor dan mutunya lebih rendah. Bersamaan dengan penggunaan sarana tidak organik.
Akhirnya tidak bisa masuk ke supermarket besar. Kalaupun bisa dilakukan namun pasarnya belum terbangun. Ada baiknya kini pemerintah harus memikirÂkan peningkatan nilai tambah produk petani. Memikirkan pasar yang lebih bergengsi seperti supermarket. Lakukan kerjasama dengan kelompok petani agar petani terikat konÂtrak dengan supermarket untuk menjual produknya. Padahal perilaku masyarakat urban sanÂgat senang belanja di superÂmarket sehingga tidak mungkin menjadi petani rugi. Ada alterÂnatif lain, buatkan supermarket khusus komoditas pertanian baik sayur dan beras.
Dikelola oleh orang didesa yang pergi ke kota. Berdagang produk sayuran dan buah-buaÂhan dikota seperti supermarket besar. Kelompo tani yang menÂgelola semacam usaha bersama. Tentu pertanian supaya maju harus memikirkan pasar. Pasar ini kadang terputus sehingga petani menjadi objek bisnis para pemain pasar. Kedua, tumÂbuhkan industri perdesaan. InÂdustri perdesaan seperti sauce tomat dan sauce cabai akan dibutuhkan pada saat masyaraÂkat urban sibuk dengan hedoÂnisnya. Orang desa harus bisa menambah nilai tambah pada setiap produknya.
Artinya tidak mungkin petÂani gagal karena harga semenÂtara yang butuh tomat dan cabai sangat banyak. Industri makanÂan kecil juga tumbuh pesat karena banyaknya pedagang-pedagang mie ayam dan bakso. Semua membutuhkan sauce toÂmat dan sauce cabai. PersolanÂnya kelompok pedagang tidak terbentuk. Akhirnya sulit dalam memasarkan produksi jika dibuat industri kecil perdesaan. Sistem sosial tadi harus terbanÂgun sehingga terorganisir dalam pasar. Semua produk tadi dijual pada supermarket yang khusus dibentuk oleh kelompok tani.
Terakhir, hal yang dilupakan juga bagaimana membangun kerjasama sosial baik dalam kelompok tani dan kelompok diluar petani. Kegagalan perÂtanian karena sistem sosial ini tidak berjalan. Masyarakat perdesaan yang petani hendaÂknya bergabung menjadi satu kelompok tani atau beberapa kelompok tani. Setiap kelomÂpok tadi mempunyai anggota yang jelas. Berapa anggotanya dan berapa luasan lahan yang mereka miliki. Kelompok bisa membantu anggota untuk menÂcarikan dana yang jelas kepada perbankan. Ada jaminan kelomÂpok.
Bisa juga datang ke indusÂtri untuk meminta kerjasama antara petani dan perusahaan atas nama kelompok. Industri sauce besar dan makanan sanÂgat banyak di tanah air. PerusaÂhaan makanan butuh beras dan tepung. Beras dan tepung tadi jika diproduksi pada level petÂani dalam satu kelompok akan memberikan nilai tambah. ToÂmat dan cabai tadi dijula juga ke perusahaan sehingga ada jamiÂnan kalau tomat dan cabai tetap dibutuhlan. Perusahaan sauce pastinya makin tumbuh suatu saat. Semua penduduk kota buÂtuh sauce.
Dengan kerja kemitraan tadi juga akan membantu petÂani. Perusahaan kemitraan bisa memberikan pembinaan dan pendampingan dalam rangka peningkatan mutu produk. GaÂgal juga membangun sistem soÂsial yang sulit dan bahkan gagal mengembangkan lumbung padi desa. Pada prinsipnya daerah kota dan desa saling membuÂtuhkan. Perdesaan membutuhÂkan kota karena dikota banyak pelanggan sebagai konsumen orang desa. Begitu juga sebaÂliknya. Tentu untuk mengemÂbangkan desa harus dibangun sistem sosial, pasar, nilai tamÂbah, kerjasama dan dukungan pemerintah. (*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















