POLITIK AKOMODASI DALAM KABINET RESHUFFLE JILID 2

Akan tetapi justru disisi lain nama – nama yang dinilai pub­lik mempunyai kinerja yang baik dan kontribusi signifikan justru di singkirkan, seperti Ig­nasius Jonan, Rizal Ramli, Anies Baswedan malah di copot dari jabatannya, tersingkirnya tiga nama itu justru menegaskan bahwa Jokowi bener – bener telah meninggalkan kabinet profesioanal seperti janjinya saat kampanye dulu.

Beberapa nama menteri yang sebenarnya masuk dalam prioritas patut diganti yang kinerjanya gak jelas bahkan amburadul malah tidak disen­tuh sama sekali. Hal ini meny­iratkan bila kinerja bukanlah indikator utama untuk evaluasi atau perbaikan. Akan tetapi leb­ih kepada politik akomodatif.

Resaffle kali ini bisa dibi­lang tidak memberi pesan jelas terhadap publik soal indikator dalam mengevaluasi menteri – mentrinya yang membuat Pres­iden merombak kabinet. Pada­hal publik berhak mengetahui indikator penilain presiden ter­hadap para menterinya.

BACA JUGA :  HARUSNYA ORANG INDONESIA PERILAKUNYA SESUAI DENGAN SILA-SILA YANG ADA DI PANCASILA

Persepsi publik seharusnya bisa menjadi ajuan bagi pemer­intah sehingga dapat memberi­kan nilai positif dan tingkat ke­percyaan masyarakat terhadap parpol dan pemerintah. Karena dukungan rakyat sangat pent­ing bagi pemerintah.

Yang menarik dalam issu Resaffle kali ini adalah Menguat­nya akomodasi kabinet seakan dengan jelas menunjukan bila Jokowi belum sepenuhnya beroreintasi dan berkonsentrasi memperbaiki kinerja kabinet­nya di sisa waktu kekuasaannya yang masih ada. Akan tetapi lebih kepada memperkuat atau memperkokoh kuda kuda poli­tiknya dengan menambah par­pol pendukung dan juga relawan relawannya. Jika benar demikian arahnya, sudah bisa dinilai bila Jokowi sudah sejak dini berpikir untuk mengamankan posisinya pada Pilpres 2019 nanti.

BACA JUGA :  Pancasila di Tengah Disrupsi Digital

Bagaimanapun Reshuffle telah terjadi. Kini saatnya ma­syarakat menaruh harapan besar terhadap kabinet kerja saat ini. Terutama dengan ber­gabungnya Sri Mulyani dalam kabinet ini dinilai sebagai mo­tor penggerak kabinet.

Namun disisi lain yang tak kalah pentingnya yang harus diingat adalah sudah bukan saatnya lagi untuk para menteri dan pemimpin bangsa ini untuk saling unjuk kekuasaan. Na­mun lebih kepada kinerja. Dan semoga sesuai dengan harapan masyarakat indonesia untuk bisa lebih baik dan lebih mense­jahterakan rakyat. (*)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================