
Direktur Pendayagunaan Sumber Pembiayaan Rumah Direktorat Jenderal PembiayÂaan Perumahan Kementerian PUPR Baby Setiawati DipokuÂsumo merinci, sebanyak 179.718 unit rumah MBR dari target 700.000 unit rumah. Sedangkan, rumah non-MBR sebanyak 51.084 dari target 300.000 unit rumah.
Angka tersebut didapatkan dari data pengajuan Kredit Pemilikan Rumah bersubsidi maupun nonsubsidi dari perÂbankan terhadap data pengemÂbang perumahan, baik yang diperoleh dari pusat maupun dari daerah serta data pemÂbangunan melalui APBN dan rencana melalui APBD.
Baby mengatakan, masalah yang dihadapi dari rendahnya realisasi Program Satu Juta Rumah, antara lain dari sisi paÂsokan/suplai, dan penyediaan lahan hingga kendala lokasi perumahan yang kurang stratÂegis. Di samping, harga tanah yang mahal.
Selain itu, banyaknya reguÂlasi perizinan yang harus diÂpenuhi pengembang berbarenÂgan dengan peraturan daerah yang belum sejalan dengan pemerintah pusat dan kerap menjadi masalah dalam pemÂbangunan rumah.
Kendati sudah dikeluarÂkannya Instruksi Presiden NoÂmor 3 Tahun 2016 tentang Penyederhanaan Perizinan Pembangunan Perumahan, implementasinya terutama di daerah belum berjalan baik. “Dibutuhkan kepedulian dari semua pemangku kepentingan dalam menyukseskan Program Sejuta Rumah,†ujarnya, KaÂmis (11/8/2016).
Kementerian PUPR, samÂbung Baby, terus berupaya mencari sumber pendanaan pembiayaan Program Satu Juta Rumah di luar APBN. Menurut dia, dibutuhkan dana jangka panjang yang cukup besar dari pasar modal dalam menÂdukung penerbitan KPR yang terjangkau. “Untuk itu perlu penguatan perusahaan pemÂbiayaan sekunder perumahan (secondary mortgage corporaÂtion) dalam mengakses dana jangka panjang dari pasar modal dan sekaligus pengemÂbangan pasar pembiayaan sekunder perumahan (secondÂary mortgage market),†pungÂkasnya.
(Yuska Apitya/dtk)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















